FANFICTION : MY ANGEL, MY LOVE part 1


Author                 : VianPumpkins
Judul                     : My Angel, My Love
Cast                        : Leeteuk, Han Hyunsun (OC)
Genre                    : Romance, Fantasy
Rating                   : PG 13
Length                 : Oneshot (5145 words)

 

Catatan                               : ini FF kedua ku yang aku publish di sini… ^^ FF ini khusus aku bikin buat sahabatku, Nova yang lagi kangen sama Leeteuk… hope you like it…🙂

FF ini real dari pikiranku, don’t be silent readers, no copy without my permission, no plagiat, and, No Kacang… XD… Please respect my hardwork…

Happy Reading….^^

..o0o..

Aku bisa merasakan seorang stalker yang setiap saat mengikutiku. Kemana pun aku pergi, aku selalu bisa merasakannya. Orang itu meskipun jarang sekali berbicara, tapi dia selalu saja mengawasiku dari kejauhan, garis matanya yang tegas seolah dapat membuatku terintimidasi dalam tatapannya.

Dia namja yang aneh. Selama bertahun-tahun, da mulai menjadi bagian dalam hidupku, turut menjadi saksi dari beberap kejadian penting selama aku hidup, dan bisa dibilang selalu melindungiku dari bahaya apapun. Dia malaikatku.

Pertama kalinya aku bertemu dengannya saat aku bermobil pulang dalam keadaan mengantuk. Dan kecelakaan itu hampir saja merenggut nyawaku. Dia menyelamatkanku. Sungguh, dia adalah malaikatku.

..o0o..

Tengah malam seusai menghadiri acara keluarga, aku bergegas pulang ke apartment pribadiku yang cukup jauh dari lokasi. Keadaan jalan yang remang-remang serta hujan yang membuat jalanan licin membuat mobil yang kukemudikan oleng serta menabrak pagar pembatas jalan.

Mobilku beserta aku di dalamnya jatuh ke dasar jurang.

Di sisa-sisa kesadaran yang aku miliki, aku bisa melihat sekumpulan orang di sekelilingku. Keluargaku. Kurasa inilah waktuku, saatnya aku habis, saatnya aku hanya tinggal jadi sebuah nama.

Mobilku berguling-guling tak tentu arah, menabrak apapun yang dilalui hingga aku selalu terpental karena keseimbangan yang sangat rawan. Kaca mobilku pecah berhamburan dan pecahan kaca itu sebagian mengenai wajahku. Perih mulai merambah di sekitar tubuhku dan mataku mulai terasa berat.

Pintu mobilkku terbuka dan mendadak aku terlempar keluar 15 meter dari mobil. Punggungku membentur sebuah pohon yang cukup besar hingga aku mengerang kesakitan, namun hanya suara kecil yang berhasil keluar dari mulutku. Sepersekian detik setelah itu, terdengar bunyi ledakan  yang sangat keras, diikuti asap yang mengepul tebal di mobilku. Mobilku meledak.

Aku berusaha merangkak dari tempat itu, namun tubuhku tidak bisa kugerakkan. Aku memandang kakiku yang berlumuran darah dan terasa sangat nyeri, sepertinya tulangku patah. Kepalaku bertambah berat rasanya sehingga aku lebih memilih untuk tetap di tempat.

Aku merebahkan tubuhku di atas rumput yang halus, memandang langit berbintang yang mungkin untuk yang terakhir kalinya. Lalu sebentuk cahaya berpendar di sebelah kananku, aku bisa merasakannya. Cahaya itu kemudian membentuk sosok yang tinggi dan tegap. Aku tidak bisa melihat seperti  apa wajahnya. Satu-satunya yang bisa kurasakan sebelum aku menutup kedua mataku adalah, sosok itu mendekatiku, lalu memelukku ke dalam dadanya yang hangat. Selanjutnya semuanya berubah menjadi gelap pekat.

..o0o..

Aku berjuang untuk menggerakkan badanku, menghilangkan rasa kaku yang berulang kali menyerang tubuhku. Semuanya tetap terlihat gelap. Hitam pekat tanpa ada bahkan seberkas cahaya pun di tempat ini. Berulang kali aku merasakan tarikan yang sangat kuat, menarikku ke dalam pusaran gelombang yang berwarna abu-abu muram, namun aku tetap bertahan mencengkeram peganganku selama ini. pegangan terbesarku yaitu keluargaku.

Rasa sakit yang sangat masih terus mendominasi. Aku sudah kehilangan kendali pada bagian kakiku, seolah  pusat rasa sakit ada di sana. Kakiku rasanya diinjak-injak segerombolan gajah, sangat menyakitkan. Juga tubuhku, serasa diselimuti oleh daun penuh duri beracun. Sakit, kebas, dan rasanya aku lebih memilih ingin mati  saja.

Perlahan-lahan aku kehilangan peganganku, tanganku sudah tidak mampu lagi mencengkeramnya. Aku meringis, sepertinya inilah saatnya. Aku harus meninggalkan dunia yang selama ini aku tempati. Tinggal sedikit lagi, tanganku akan terlepas dari peganganku. Tarikan kuat itu sudah mulai menenggelamkanku dalam pusaran kelabu.

Lalu aku merasakan kehangatan. Rasanya seolah ada yang memelukku, rasanya sangat hangat. Aku membuka mataku dan memandang sosok yang memelukku. Garis wajahnya yang tegas serta sinar matanya yang lembut. Dia menatapku sambil tersenyum cerah.

Tiba-tiba aku merasakan rasa sakit lagi. Sakit tepat di jantungku. Rasanya satu hentakan telah menamparku dengan keras. Aku menutup mataku, meringis karena rasa sakit. Kemudian berangsur-angsur rasa sakit itu mereda. Aku membuka mataku kembali dan menatap area putih bersih yang sangat luas. Hampir tanpa ujung. Aku menyadari bahwa sosok yang memelukku tadi telah menghilang. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling dan tidak menemukan apapun selain diriku sendiri di tempat ini.

Apakah aku sudah mati? Aku tidak merasakan rasa sakit lagi, berarti aku sudah mati? Jadi sekarang aku ada di surga atau neraka? Manusia sepertiku ini tidak pantas berada di surga. Jadi ini neraka kalau begitu? Tapi di mana apinya?

“Selamat, Nona Han Hyunsun, hidupmu telah diperpanjang.” Sebuah suara yang cukup nyaring itu terdengar dari belakangku.

Tersentak, aku langsung membalikkan badanku ke sumber suara itu. Dengan kaget melihat namja yang sama yang menyelamatkanku. Namja itu sedang duduk di sofa satu dudukan berwarna putih bersih dan tampak mewah. Memandangku dengan sungguh-sungguh.

“S-siapa kau?” tanyaku pelan. Tentu saja di area yang sangat sunyi dan kosong ini, suaraku menjad terdengar beberapa kali lebih keras.

“Silakan duduk dulu.” Ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku lebih dulu.

Aku memandangnya bingung. Di sini kosong, tidak ada apapun. Yang ada hanya aku, namja itu, serta sofa yang dia duduki.

“Apa kau gila? Di mana aku harus duduk?” tanyaku sarkastis.

Pemuda itu tersenyum. Sepasang lesung pipi mulai terbentuk di pipinya itu. Tampak sangat manis. “Kau belum melihat di belakangmu.” Ujarnya lembut.

Sontak aku menoleh ke belakang. Aku terkejut melihat sebuah sofa yang juga berwarna putih sudah ada di belakangku. Bagaimana bisa? Aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha mengenyahkan pikiran aneh dalam otakku.

“Bagaimana bisa kau…”

“Duduk saja dulu.” Dia memotong ucapanku. Aku pun menuruti perkataannya, aku mulai duduk dengan canggung.

Kini aku dan namja itu duduk berhadapan. Aku memandangi namja itu, tampak elegan dengan pakaian putih yang bertengger manis di tubuhnya yang tegap. Rambut coklatnya yang sedikit panjang tampak cocok di wajahnya yang sangat imut. Sebenarnya dia siapa?

“Kau ingin teh, Nona Han?” namja itu menawarkan.

Sedetik setelah ucapannya itu, muncul sebuah meja putih dengan dua cangkir putih berada di atasnya. Sebuah teko putih juga ada di meja itu. Aku benar-benar heran, kenapa di tempat ini semuanya serba putih?

“Panggil saja aku Leeteuk.” Namja itu akhirnya membuka jati dirinya. Kemudian, Leeteuk menuangkan teh itu ke cangkirnya, lalu dengan perlahan mulai menyesap teh itu. “Hm, green tea, teh terbaik yang pernah ada.” Gumamnya pelan.

Aku mengabaikan teh di hadapanku ini dan berniat untuk langsung menanyainya. Terlalu banyak hal aneh yang kualami di tempat ini.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Leeteuk-ssi?” tanyaku.

Leeteuk kembali menyesap tehnya. “Yang terjadi padaku atau padamu?”

Aku menghela napas, berusaha menelan kembali kejengkelan yang sempat kurasakan. “Kau tahu apa maksudku.”

Leeteuk terkekeh sebentar. “Kau kecelakaan.”

“Aku tahu.”

“Kau sekarang sedang koma.”

“Koma?”

“Ne. Dan beberapa menit lagi kau akan sadar. Butuh waktu yang lama bagiku untuk menemukanmu di gerbang kematian. Beruntung aku datang tepat waktu.”

Aku mengernyit bingung. “Apa tepatnya… maksudmu?”

Dia terkekeh lagi. “Kurasa sekarang bukan waktunya kau untuk mengerti hal ini. Tapi yang pasti, kau bukan saatnya untuk mati.”

Aku diam sebentar. Pikiranku masih menyatukan kepingan-kepingan ingatan pasca kecelakaan itu, tapi aku tidak bisa ingat apa itu. “Jadi sekarang aku ada di mana?” tatapanku beredar ke sekeliling.

“Kau ada di perbatasan antara dunia manusia dan dunia arwah.” Jawabnya tanpa mengarahkan pandangannya kepadaku.

Leeteuk menatap jam tangan putih di pergelangan tangan kirinya. “Sepertinya sudah waktunya kau kembali, Nona Han Hyunsun.”

Mataku membulat. “M-Mwo?!”

Leeteuk tersenyum dan mengangkat tangannya ke udara, lalu melamba-lambaikan tangannya padaku, seperti ucapan sampai jumpa.

“Sampai jumpa..!” katanya singkat.

Lalu dengan misterius aku kembali merasakan tarikan kuat di tubuhku,lalu aku menutup mataku. Setelah tarikan itu hilang, aku kembali membuka mata. Aku mencium bau rumah sakit yang sangat aku benci.

..o0o..

“Ya! Hyunsun-ah! Kau sudah sadar.” Suara eomma terdengar olehku. Aku beranjak bangun duduk dan menyandarkan punggungku di kepala ranjang. Kepalaku terasa pusing, tangan kananku terangkat untuk menyentuh keningku yang pening.

“Eomma…” gumamku pelan.

“Syukurlah kau telah sadar, Hyunsun. Eomma dan Appa sangat mencemaskanmu.” Kata eomma dengan nada suara yang terdengar ceria.

“Itu benar, Hyunsun. Kau telah berhasil membuat kami semua khawatir dengan kecelakaanmu itu. Ditambah lagi dengan kau yang koma selama tiga hari. Kami semua hampir gila Karenna mencemaskanmu.”

Suara Appa terdengar haru. Aku menoleh ke appa yang sekarang berdiri di sebelah kiri ranjang rawatku, sedangkan di sebelah kana nada eomma.

Mataku terpaku pada orang di belakang eomma, yang sedang duduk di sofa penjenguk berwarna putih. Leeteuk. Dia ada di sini. Aku membulatkan mataku menatap pria yang sedang tersenyum manis ke arahku sekarang ini.

Jadi itu semua bukan mimpi?

Lalu apa yang akan terjadi dengan hidupku setelah Leeteuk masuk ke dalamnya?

Oh, Tuhan. Tolonglah aku.

Mataku masih terpaku padanya. Ya, namja bernama Leeteuk yang tadi menemuiku di perbatasan dua dunia. Dan dia juga masih tetap tersenyum padaku dengan beribu arti di dalam senyumannya itu.

“Eomma, Appa… dia… kenapa ada di sini?” aku mencoba bertanya kepada orang tuaku tentang alasan kenapa Leeteuk ada di sini. Aku menunjuk orang itu tanpa rasa bersalah dan tanpa menyadari bahwa perilakuku ini tidak sopan.

Eomma dan Appa langsung menoleh ke arah yang kutunjuk, sofa penjenguk. Tapi yang aku dapatkan hanya tatapan aneh dari orangtuaku.

“Hyunsun, kau bicara apa? Tidak ada orang lain di ruangan ini selain kita bertiga.” Eomma menjelaskan.

“M-mwo?” seruku sambil menatap wajah eomma tak percaya.

Mataku langsung beralih melirik Leeteuk. Ya, orang itu masih di sana.

“Kalian tidak bisa melihat dia?” tanyaku masih menunjuk sosok Leeteuk yang tampak tenang,

Appa dan Eomma masih mengerutkan kening tanda kebingungan, lalu dengan yakin mereka menggeleng.

Aku menghela napas kasar. Bagaimana bisa mereka tidak mampu melihat sosok Leeteuk di sana? Atau.. atau mungkin hanya aku yang bisa melihatnya? Mungkin dia hantu? Bisa jadi kan. Dia tadi juga ada di alam bawah sadarku dengan aku di dalamnya. Aku menatap shock kea rah Leeteuk.

“Argh, kepalaku pusing.” Keluhku begitu merasakan denyutan kuat di keningku. Aish, aku benar-benar tidak suka sakit, apalagi rumah sakit seperti ini. Aku ingin cepat pulang.

“Hyunsun-ah, kalau begitu kau istirahat saja. Appa dan Eomma akan menunggu di luar. Oh ya, sepertinya appa harus kembali bekerja. Cepat sembuh, ne.” Appa berpamitan lalu mengecup keningku dengan lembut. Appa lalu berjalan keluar bersama eomma lewat pintu ruang inap yang berada di sudut ruangan.

Sekali lagi aku menghembuskan napas lelah. Lalu dengan segera pandanganku beralih ke namja yang masih setia berada di sofa jenguk. Dia dengan tampang tanpa dosanya tetap memerhatikanku seolah takut aku akan kabur dari rumah sakit ini. cih, yang benar saja.

“Leeteuk-ssi!” panggilku dengan suara yang sedikit lebih keras. Aku yakin dia pasti dengan segera mengerti maksudku memanggilnya barusan. Apalagi kalau bukan meng-interogasi-nya?

“Ne?” dia mulai bangkit dari sofa putih itu dan berjalan mendekat ke ranjang rawatku.

“Sebenarnya kau itu siapa?” satu pertanyaan awal.

Dia mengendikkan bahunya. “Bukankah kau sudah tahu namaku? Aku Leeteuk.” Ujarnya sambil tersenyum.

Aku mendengus. “Kau paham apa yang kumaksudkan.” Tegasku dengan penekanan di setiap kata.

Leeteuk tertawa. “Baiklah, kurasa aku akan menceritakan semua—ani, mungkin hanya sebagian dulu padamu.” Leeteuk tertawa lagi.

“Cepat ceritakan!” aku sudah kehilangan kesabaranku.

“Whoo~ jangan emosi, Han Hyunsun-ssi. Arra, arra. Aku ini malaikat. Aku diutus oleh Tuhan untuk melindungimu mulai hari ini. jika kau bertanya kenapa Tuhan memilihmu untuk kulindungi, nan molla.” Dia mengendikkan bahunya lagi, “tapi sepertinya memang harus seperti itu, karena kau itu sangat ceroboh. Kau bahkan tidak bisa tidak terkena kesialanmu sendiri.” Dia tertawa mengejek.

Aku mendesis emosi. Namja ini benar-benar menyebalkan. Mana ada malaikat yang jahil seperti dia? Atau…dia itu malaikat buangan, yang gagal menjadi malaikat yang sebenarnya? Aish, molla. Segala hal di dunia ini mulai berubah aneh sejak kehadiran seorang malaikat aneh di hidupku. Bagaimana bisa, hidupku yang semula berjalan normal mendadak menjadi seperti cerita di novel-novel fiksi seperti ini? dan si malaikat aneh ini hanya beralasan bahwa itu karena sikapku yang ceroboh. Yak! Memangnya aku ceroboh?

“Jadi, hanya aku saja yang bisa melihatmu?” tanyaku.

“Ne.” namja ini tetap tersenyum.

Aigoo, kuakui dia memang memiliki senyum yang sangat manis, apalagi dia juga punya lesung pipi yang seimbang di wajahnya. Dia terlihat tampan saat tersenyum. Tapi tidak harus begini juga, dia selalu tersenyum setiap saat alih-alih disebut tampan, gila lebih sesuai untuknya.

“Jadi mulai hari ini, aku akan selalu mengikutimu!” jelasnya saat melihatku masih terdiam.

“M-mwo?!” aku berteriak terkejut mendengar pernyataannya. Jadi mulai sekarang, aku tidak lagi punya privasi? Bagaimana bisa aku hidup berdekatan dengan malaikat aneh ini? aish, aku bisa gila.

Aku menormalkan deru napasku karena keterkejutanku tadi. Aku bisa terkena serangan jantung mendadak jika terus mendengarkan namja ini. hei, sejak kapan aku punya penyakit jantung? Aish, aku semakin merasa aneh saja.

“Sampai kapan?” bisikku.

Leeteuk kembali mengangkat bahunya. “Sampai ada orang yang akan menjagamu selain orangtuamu.”

Aku menautkan alis kebingungan. Ah, molla. Apapun yang diucapkan namja ini benar-benar tidak bisa kupahami. Mungkin karena aku tidak terlalu percaya pada hal-hal mistis ini sebelumnya, jadi yang ia ucapkan seperti terpantul kembali. Tidak bisa dicerna oleh otakku.

..o0o.. To Be Continued ..o0o..

Give Comment Please… ^^~

7 Komentar (+add yours?)

  1. shfly9_
    Agu 02, 2013 @ 13:21:39

    ceritanya bagus, bikin penasaran! halo, aku reader baru:)
    feelny dapet haha:D

    Balas

  2. shfly9_
    Agu 02, 2013 @ 13:22:35

    kok part2 diprotect yaa?:(

    Balas

  3. aisyah ayu lestari
    Nov 14, 2013 @ 04:24:03

    FFnya daebak.
    next

    Balas

  4. vianpumpkins
    Nov 27, 2013 @ 04:44:07

    aisyah ayu l : silakan inbox fb ku yaa. nanti aku bakal bales secepetnya.😀
    gamsahamnida udah baca ff ini.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: