FanFiction : Sorry, I Love You


Author                  : VianPumpkins

Judul                     : Sorry, I Love You

Cast                       : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, Kim Hyunmi (OC), Han Aerin (OC)

Genre                   : Romance, Friendship, Angst (maybe).

Rating                   : General

Length                  : One Shot

Catatan                : Annyeong…

FF iniadalah FF kesekian yang pernah aku buat, semoga suka.. ^^
mian kalo banyak typo(s) atau ceritanya bikin bosen.. karena saia juga baru pertama kali bikin FF. fanfic ini murni dari pemikiran saia dan sedikit banyak tentang pengalaman pribadi juga*plaakk, curhat*.

Yaudah, tanpa banyak omong lagi, Happy Reading^^~Poster-FF-Sorry-I-Love-You

~xXx~

~All Hyunmi POV~

Kadang aku menginginkan kebahagiaan dalam hidupku. Aku sangat berharap keberuntungan berpihak padaku meskipun aku harus menunggunya hingga akhir. Tapi aku sama sekali tidak punya kuasa untuk merengkuhnya. Walau aku seringkali mengkhayal tentang apapun yang sebenarnya tidak pernah kupunyai. Bukankah itu menyakitkan?

Namaku Kim Hyunmi, yeoja biasa yang tinggal di rumah biasa bersama dengan kedua oppa ku. Hidup bertiga tanpa orangtua yang menjaga kami saat ini. Harus kuberitahu bahwa orangtuaku mengalami kecelakaan saat kami sedang dalam perjalanan berlibur ke Jeju. Aku dan kedua oppa ku selamat, tapi tidak dengan kedua orangtua ku. Mereka duduk di depan mengalami luka yang parah hingga mereka meninggal. Aish, kenapa aku malah mengingat ulang kenangan menyakitkan dalam hidupku?

Salah satu keberuntunganku bisa bertemu, bahkan bersahabat dengan salah satu mahasiswi terkaya di kampusku. Walaupun aku tidak berniat bersahabat dengannya karena uang, tapi dia selalu saja perhatian padaku. Bahkan dia juga pernah membelikan gelang pasangan sahabat yang berharga jutaan untuk kami pakai. Sekali lagi, aku tidak bersahabat dengannya karena kekayaan dan wajah cantiknya, tapi karena kami memang nyaman satu sama lain. Aku benar-benar beruntung bisa bersahabat dengan Han Aerin.

“Hyunmi-ya, cepat turun! Sarapanmu sudah siap!” suara Ryeowook Oppa terdengar hingga lantai atas. Aku pun segera turun menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur di rumah kecil kami.

Aku melihat Ryeowook Oppa di depan kompor dengan celemek berwarna biru serta spatula di tangan kanannya. Ryeowook Oppa seorang cheff di salah satu restoran di kota Seoul. Makanya setiap masakan buatannya selalu enak dan lezat. Aku pun tidak perlu repot-repot menyiapkan makanan untuk kedua oppa ku ini. Karena tanpa diminta pun, Ryeowook Oppa akan memasakkan kami semua.

Jongwoon Oppa sedang ada di meja makan dengan headseat bertengger di kepalanya. Sesekali dia menghentakkan kepalanya ke atas dan ke bawah sesuai irama lagu yang oppa dengarkan. Jongwoon Oppa adalah seorang penyanyi di café terkenal. Suara Jongwoon Oppa memang sangat merdu. Tidak salah jika sekarang dia menjadi seorang penyanyi.

Oppa, hari ini kau akan tampil jam berapa, Oppa?” aku duduk di kursi makan di depan Jongwoon Oppa. Ia mendengar, lalu melepaskan headseat nya dan menaruhnya di meja makan di samping piringnya.

“Hari ini kau akan menontonku?” Tanya Oppa memastikan.

Aku mengangguk serius. “Tentu saja. Aku sudah sangat lama tidak melihat oppa tampil bernyanyi di cafécafé,. Jadi tampillah yang terbaik untukku, ne?” aku menggoda oppa dengan pukulan pelan di punggungnya. Da meringis pura-pura kesakitan.

“Hyunmi-ya, kau itu manusia atau apa? Tenagamu seperti tenaga kerbau!” ledek Jongwoon Oppa sambil tersenyum licik.

“Aish, oppa. Jangan berlebihan. Memangnya aku ini mirip kerbau?” tukasku cepat.

“Nah, sadar juga kalau kalian mirip. Hahahahaha!” Jongwoon Oppa terus tertawa hingga kupukul kepalanya dengan sendok di depanku. Aku sangat tidak senang melihat orang lain menertawaiku untuk hal yang sepele seperti itu.

Kuletakkan sendok kembali ke tempat semula. “Makanya jangan bicara saat makan. Itu tidak baik.” Aku menasehati Oppa seperti seorang ahjumma yang cerewet. Bisa kulihat Jongwoon Oppa sedikit menggerutu. Ekspresinya yang seperti anak kecil itu sangat lucu hingga membuatku terkekeh pelan.

“Sudahlah Hyung, Hyunmi, ini makanannya sudah matang. Setelah itu kita makan dan bisa menjalankan aktivitas masing-masing.” Ryeowook Oppa menengahi. Aku menatap Ryeowook Oppa dengan tatapan yang aku sendiri tidak tahu apa maksudnya.

Setiap melihat Ryeowook Oppa yang memakai celemek birunya, aku seperti melihat Eomma. Dan saat aku mendengar suara Ryeowook Oppa menengahi pertengkaranku dengan Jongwoon Oppa, aku seakan-akan mendengar suara Appa. Aish, apa aku terlalu merindukan mereka? Pikiranku ternyata semakin ngelantur.

Kami melanjutkan makan dalam diam. Seperti biasa. Jika ada keributan sedikit saja, Ryeowook Oppa akan menegur kami. Terkadang aku malah memikirkan bahwa Ryeowook Oppa adalah kakak tertua ku. Mungkin wajahnya memang lebih kekanak-kanakan, tapi di balik itu semua dia memiliki sifat yang lumayan dewasa sejak kematian orang tua kami.

~xXx~

“Maaf, Aerin-ah. Aku benar-benar tidak bisa hari ini. Mungkin lain kali aku bisa.” Tolakku saat Aerin mengajakku untuk makan di salah satu café favoritnya. Walaupun aku juga ingin refreshing dengan Aerin, tapi aku sudah punya janji dengan Jongwoon Oppa untuk melihat penampilannya sore ini. Aku tidak mau mengingkarinya.

“Ayolah, Kim Hyunmi. Hanya untuk hari ini. Jebal…” dia semakin mendesakku. Aish, bagaimana ini?

“Kau berangkat saja dengan orang lain. Mianhae, aku benar-benar tidak bisa. Aku sudah punya janji dengan orang lain.” Aku akhirnya membuka kedokku, memberi tahu Aerin tentang alasanku menolak ajakannya.

“Janji? Dengan siapa? Dengan pacarmu ne?” Aerin mengerlingkan matanya tanda sedang menggodaku. Aigoo, kenapa dia selalu salah mengartikan maksudku?

“Bukan, mana mungkin aku punya pacar? Justru yang sekarang jadi misteri besar adalah kau, Han Aerin. Kenapa kau belum juga punya pacar?” aku memutarbalikkan pertanyaan. Dan yahh, sekarang dia terlihat kikuk daripada biasanya.

“Aku… aish molla!” dia menyerah. Sungguh yeoja yang aneh dan unik, tapi menggemaskan. Heran juga aku kenapa dia masih belum memiliki kekasih, padahal wajah yang cantik, tubuh yang proporsional, kaki jenjang, rambut panjang, kulit putih bersinar, dan masih banyak kelebihan lainnya membuatnya tampak sempurna hingga nyaris tak akan ada pria yang mampu menolaknya.

Sedangkan aku? Boro-boro memiliki kekasih, aku belum pernah pacaran sekalipun seumur hidupku. Menyedihkan bukan? Aku malah sering dianggap bayangan dari Aerin, dalam arti tidak pernah dianggap oleh banyak orang. Justru di sini Aerin-lah yang jadi pemeran utama dan aku sebagai bayangannya saja. Menyedihkan.

“Sungmin Oppa!” aku kaget saat Aerin meneriakkan nama itu. Benar, Aerin sedang memanggil Sungmin yang sedang melintas di area situ. Aku menoleh kea rah Sungmin dan melihat dia kini sedang berjalan ke arah kami dengan wajah tersenyum cerah.

Aku selalu merasakan ini sejak dulu. Merasakan jantungku bekerja dua kali lebih cepat daripada biasanya. Mendadak keringat dingin mulai keluar perlahan di keningku menandakan aku gugup. Ya, aku menyukai Sungmin. Bukan hanya menyukai, tapi aku sudah mencintainya. Meskipun aku seakan tidak da lihat, tapi aku tidak peduli. Aku mencintai Sungmin.

Ne? Memanggilku, Aerin-ah?” Sungmin mulai mendekat dan berdiri di samping Aerin.

Aerin mengangguk. “Oppa, aku ingin pergi ke café yang kemarin kau beritahu ke aku. Aku ingin mengajak Hyunmi tapi dia tidak bisa ikut. Bagaimana ini?” aku meringis mendengar nada manja dalam ucapan Aerin. Meskipun itu alami dan tidak dibuat-buat, tapi itu cukup menggangguku. Betapa dia seperti anak kecil yang selalu dimanja orang lain. Tapi sampai sekarang keinginannya tidak pernah tidak terwujud. Orangtuanya dengan senang hati akan membelikan apa pun yang diminta oleh anak semata wayangnya ini.

“Hmmm, kau tidak ikut kami, Hyunmi-ya?” Sungmin berusaha memastikan. Kubalas dengan anggukan.

Apa katanya tadi? ‘kami’? berarti Sungmin juga ikut? Asih, berarti kalau aku tidak ikut, mereka akan disebut kencan. Ottoke? Aku harus menjawab apa? Apa aku harus membatalkan janjiku dengan Jongwoon Oppa? Aniyo. Aku tidak mau membuat Jongwoon Oppa kecewa.

Mianhae, tapi aku tidak bisa. Aku sudah punya janji. Dengan oppa ku.” Tambahku lambat-lambat. Sungmin dan Aerin memang sudah tahu tentang keluargaku, termasuk pekerjaan kedua oppa ku. Jadi tidak heran jika aku begitu santai waktu memberitahu mereka.

Oppa mu akan tampil di café mana hari ini?” Tanya Sungmin kemudian. Aku mengerutkan keningku, berusaha mengingat nama café yang tadi Oppa beritahu.

“Kona Beans.” Ucapku hari ini. Lalu aku melihat senyum mengerikan dari Sungmin dan Aerin.aku bergidik ngeri. Aneh sekali, kenapa aku jadi merasakan aura setan di sekitar sini? Apakah sedang ada peralihan antara dunia manusia dengan dunia lain? Aish, pikiranku lagi-lagi ngelantur.

“Kebetulan sekali, Hyunmi-ya, kita akan ke sana juga.” Aerin memberitahuku kenapa mereka menampilkan senyum mengerikan seperti tadi. Aku mengangguk kalem. Itu artinya aku bisa ikut dengan mereka, bukan?  Aku sangat senang karena bisa merasakan pernah jalan bersama Sungmin. Meskipun ini bukan kencan, tapi aku tidak peduli, aku pasti akan bahagia hari ini.

“Kalai begitu aku boleh ikut kalian bukan? Bukankah kita akan makan sekaligus menikmati penampilan Oppa ku?” aku berusaha membujuk mereka. Memang bodoh menurutku, berusaha meminta bantuan orang yang sebelumnya pernah ingin menolong tapi justru kita tolak.

“Tentu saja. Ini sudah jam 3 sore. Sebaiknya kalian pulang dan berdandanlah yang cantik. Kalian jelek sekali kalau seperti ini.” Sindir Sungmin dengan nada yang cukup pedas. Ya, mungkin hanya aku yang akan terlihat jelek. Kurasa Sungmin seharusnya menarik kembali ucapannya sebelum dia sadar kalau ada orang jelek di sini.

Aku mengangguk kembali, lalu segera berpamitan dengan mereka. “Aku pulang duluan. Annyeong!” aku segera lenyap dari tempat itu.

~xXx~

“Suara Oppa mu sungguh bagus, Hyunmi-ya. Aku iri padamu yang punya oppa dengan suara sehebat Jongwoon Oppa.” Aerin terus berbasa-basi sambil menunggu makanan yang akan datang. Benar. Setiap kali aku dan Aerin menonton bersama penampilan Jongwoon Oppa, dia pasti sibuk memuji-muji kakakku yang satu ini sampai aku bosan mendengarnya.

Oppaya, kenapa kau diam saja dari tadi? Kau sakit?” tegur Aerin pada Sungmin. Sakit? Aku segera menoleh ke Sungmin. Ya, dia memang pucat. Tapi aku tidak tahu pucat dalam hal apa, gugupkah? Atau benar-benar sakit? Tidak mungkin dia sakit jika mau diajak ke café seperti ini. Gugup? Gugup karena apa? Aish, benar-benar membingungkan.

Aniyo. Aku hanya sedikit lelah saja. Gwaenchana. Ehm, aku ingin ke kamar kecil dulu. Permisi.” Sungmin ijin ke kamar kecil. Tidak biasanya dia begitu. Aku memiliki perasaan yang tidak enak, apa yang akan Sungmin lakukan.

“Aneh sekali dia hari ini.” Komentar Aerin begitu Sungmin jauh dari tempat kami. Aku hanya menjawab dengan mengendikkan bahuku.

Makanan sudah datang tapi Sungmin masih belum kembali. Dia kemana? Apa dia sakit dan pulang tanpa memberitahu aku dan Aerin? Aku rasa tidak mungkin. Dia bukan tipe namja yang seperti itu. Walaupun aku tidak bisa dekat dengannya secara langsung tanpa Aerin, tapi aku begitu mengenal sosoknya. Tanpa dia sadari tentunya.

Annyeonghaseyo, naneun Sungmin imnida. Hari ini aku datang ke café ini dengan dua orang sahabatku. Aerin dan Hyunmi. Dan hari ini juga aku akan menyatakan perasaanku pada salah seorang yeoja. Kuharap dia akan menerima perasaanku setelah mendengarkan lagu yang akan kunyanyikan ini.” Sial, Sungmin ternyata memiliki rencana yang seromantis ini. Dan juga aku tidak bisa mengontrol detak jantungku yang serasa mulai bermaraton, terlalu penasaran untuk mengetahui siapa yeoja yang disukai Sungmin. Apakah itu aku?

Sungmin menyanyikan lagu ‘Only U’ dengan diiringi oleh suara piano oleh oppa ku. Aku bisa melihat berulang kali dia melirik ke arahku hingga membuatku sulit bernapas saking gugupnya. Di sampingku, Aerin, dia tidak setegang aku. Tapi aku juga bisa menebak dia pasti juga penasaran pada yeoja beruntung itu.

Penonton bertepuk tangan dan memberi dukungan Sungmin saat namja ini telah menyelesaikan lagunya dengan sempurna. Dan aku bersumpah jantungku rasanya akan melompat saat dia turun dari panggung dengan mawar pink  tersembunyi di balik punggungnya. Dia berjalan ke arahku sambil memamerkan senyum khasnya yang sangat aegyo dan mempesona. Aku balas tersenyum semanis yang kubisa. Sungguh, hari ini sesuai prediksiku, aku akan menemukan kebahagiaanku. Sungmin akan menyatakan perasaannya padaku.

Dan aku merasa hatiku jatuh ke dalam jurang sedalam-dalamnya begitu sadar dia berlutut di depan Aerin sambil menyerahkan mawar itu pada sang yeoja. Jadi bukan aku yang Sungmin cintai? Jadi lagu yang tadi dia nyanyikan bukan untukku? Tapi untuk Aerin. Ya, Han Aerin, sahabatku sendiri. Aku tidaktahu harus bagaimana.

“Han Aerin, aku sudah memiliki rasa ini sejak lama. Aku menyukaimu, menyayangimu, dan mencintaimu. Aku tidak bisa menghitung rasa cinta ini dalam hatiku karena sudah menempati semua ruang di hatiku. Aerin-ah, bisakah aku menjadi namja beruntung yang akan selalu menjagamu dan mencintaimu seumur hidupku?” kata-kata romantis yang diucapkan Sungmin rasanya seperti pisau yang mengoyak-ngoyak telingaku. Bukannya seperti sebuah kebahagiaan melainkan penyiksaan.

“Aku juga mencintaimu, Oppa. Dan ya, kau boleh menjadi namja yang selalu menjagaku dan mencintaiku seumur hidupku.” Balas Aerin. Bagaikan memiliki telepati, Aerin menjawab dengan lancar dan penuh perasaan.

Aku merasakan hatiku semakin hancur saat melihat Sungmin mencium pipi Aerin dan gadis ini terlihat malu-malu. Semua pelanggan bersorak dan bertepuk tangan, hanya aku yang tetap bergeming. Aku berusaha sekuat tenaga menahan air mata agar tidak menetes. Aku berusaha sekali memperlihatkan senyumku yang seperti biasanya. Meski aku tahu aku tidak bisa melakukannya dengan baik.

Jongwoon Oppa menatapku dengan tatapan menyelidik dan sedih. Aku tahu dia begitu memahami perasaanku saat ini meskipun dia tidak tahu perasaanku pada Sungmin. Aku menatap Oppa dengan tatapan memohon yang sangat, hingga kurasakan setetes air mata mengalir begitu saja di pipiku. Segera kuhapus air mata itu.

Jongwoon Oppa turun dari panggung dan menggenggam tanganku. Lalu menghampiri pasangan yang baru saja bersatu itu.

Mianhae, Sungmin-ah, Aerin-ah, aku dan Hyunmi harus pulang karena ada urusan mendadak. Bolehkah?” Jongwoon Oppa beralasan. Kurasa dia ingin menolongku untuk bisa mudah pergi dari tempat ini.

Aish, kenapa buru-buru, Hyunmi-ya, kita belum merayakannya.” Rujuk Aerin kecewa. “Tapi tidak apa-apa kalau itu penting.” Lanjutnya sambil tersenyum.

Aku segera berpamitan dan tidak lupa mengucapkan ucapan selamat pada mereka. Aku dan Jongwoon Oppa segera kembali ke rumah kami. Dalam bus, aku tidak bisa menahan air mataku. Aku menangis dalam diam. Tanpa isakan,tanpa erangan. Aku membiarkan air mataku terbebas dari tempatnya. Terlalu lama memendam ini semua, andai saja aku dan Aerin bertukar posisi, aku pasti akan menjadi yeoja paling beruntung di muka bumi ini.

~xXx~

Sejak hari itu, aku mulai menjauhi Aerin dan Sungmin. Pastinya akan terasa menyakitkan jika melihat mereka terus bersama. Aku mulai merasa sendirian sekarang. Aku tidak memiliki teman lagi. Tidak lagi memiliki seseorang untuk kupuja. Aku hancur.

Setiap saat Aerin selalu menanyaka alasan mengapa aku hanya diam dan menjad semakin dingin, dan aku selalu menjawabnya dengan perkataan yang sama, ‘aku sedang tidak enak badan.’ Dan dia akan langsung panic mengira aku sakit. Masa bodoh jika aku sakit sungguhan. Akusudah tidak peduli pada siapa pun lagi. Termasuk pada diriku sendiri.

“Kita perlu bicara.” Dengan wajah serius, Sungmin mengajakku untuk pergi ke taman belakang sekolah yang biasa aku, Aerin dan Sungmin bermain dan mengobrol. Dengan malas, aku mengikuti langkahnya yang mendahuluiku.

Wae geurae?” tanyaku malas begitu melihatnya duduk di salah satu bangku.

“Duduklah. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Sungmin menepuk bangku di sebelahnya mengisyaratkan agar aku dudukdi situ. Aku menatapnya dingin, walaupu akhirnya aku menurut juga.

Lima menit terlewati dengan keheningan. Tak ada yang berani mengeluarkan suara untuk memulai perbincangan. Aku merasakan jantungku berdegup kencang. Sial, jantungku ini masih sama seperti dulu. Aku ternyata masih mencintainya.

“Apa yang perlu kau bicarakan?” tanyaku dingin. Aku berusaha semampuku untuk menjaga suaraku agar tetap rendah. Jika aku menunjukkan perasaanku padanya, perasaan merana dan menderita ini, aku khawatir akan langsung memeluknya dan enggan melepasnya. Dan pada akhirnya aku akan menyesali tindakanku.

“Aku mewakli Aerin untuk menanyakan ini. Aerin penasaran, tidak―dia khawatir padamu. Kau tidak sadar apa yang kaulakukan selama ini padanya telah menyakiti hatinya? Kau seharusnya bersyukur bisa berteman dengan Han Aerin. Dia itu sangat menyayangimu sebagai sahabatnya!” pada kalimat terakhir, Sungmin meninggikan suaranya. Ani, bahkan dia membentakku.

Aku memejamkan mataku, enggan menatapnya. Percuma saja aku berdepat dengannya, pasti pada akhirnya aku akan kalah dari Sungmin. Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Dan mendadak mataku menjadi kering. Bisa kurasakan napasku menjadi semakin sempit dan pendek-pendek. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis di hadapannya.

“Aku merasa tidak pantas menjadi sahabat Aerin.” Lirihku. Kali ini kepalaku menunduk, aku masih menolak menatapnya. Jika dalam keadaan seperti ini aku melihat matanya yang polos, aku akan meruntuhkan pertahananku. Dan aku tidak ingin itu terjadi.

“Siapa bilang?!” bentaknya lagi. Aku semakin menunduk. “Persahabatan itu tidak melihat siapa orangnya. Tidak pernah memandang secara fisik! Kau tahu, Aerin setiap hari selalu terlihat sedih karena mencemaskanmu! Kau tidak tahu seberapa menyiksanya itu bagiku!” lanjut Sungmin. Bagus. Dia sekarang sudah mulai membahas mengenai perasaannya. Aku harus pergi dari tempat ini.

“Cukup!! Aku tidak mau mendengarnya lagi!!” potongku sambil menatapnya tajam.

“Kim Hyunmi!! Ada apa denganmu, hah?! Kau sebenarnya kenapa?” Teriak Sungmin bingung.

Aku bisa melihat kemarahan yang besar di kedua matanya, kemarahan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Sesuatu yang hangat mulai mangalir menuruni pipiku. Bisa kurasakan pandanganku mulai kabur oleh air mata. Aku menangis, ya aku menangis. Pertahananku roboh sudah. Aku menangis tanpa suara, mencegah terdengarnya isakan dari  mulutku. Tuhan, jika kau mengambil nyawaku sekarang, aku rela. Aku sangat rela.

Sungmin melihatku yang menangis, lalu dengan cepat raut mukanya berubah menjadi lembut kembalu. Tapi kelembutan wajahnya itu sudah tidak lagi membuatku lebih baik, malah semakin membuatku hancur.

“Maaf karena telah membuatmu dan Aerin pernah mengenalku. Aku jamin setelah ini aku tidak akan muncul di kehidupan kalian lagi.” Ucapku dengan suara pelan.

“Kim Hyunmi!”

“Aku sudah tidak pantas lagi untuk berada bersama kalian.”

“Hyunmi! Apa yang kau―”

“Kumohon jangan potong ucapanku, Sungmin!!!” teriakku padanya. Oke, sebelumnya aku memang tidak pernah berterian sekeras ini padanya, dan ini pertama kalinya bagiku.

Sungmin diam, memberiku kesempatan untuk bicara. Entahlah apa aku sanggup mengatakan yang sebenarnya pada namja ini, aku tidak yakin apa aku memiliki sisa keberanian untuk itu. Aku mengusap air mata di pipi kiriku dengan tangan kanan. Membiarkan pandanganku tertuju pada Sungmin saja.

“Aku… Sungmin-ah, saranghaeyo.” Ucapku dengan penuh keyakinan. Aku tahu aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk tidak mengatakannya. Dan seperti yang telah kuduga, Sungmin terlihat kaget dan terkesiap. Aku tersenyum pahit.

“Hyunmi, kau―” Sungmin tidak melanjutkan ucapannya. Aku bisa mengerti keterkejutan di matanya. Dan aku sangat mengerti, sebentar lagi dia akan pergi dari hadapanku dengan perasaan kecewa.

Ne, Sungmin-ah. Aku menyukaimu―ani, aku mencintaimu. Bahkan sejak pertama kalinya Aerin mengenalkanmu padaku, aku sudah menyukaimu. Memang mustahil, tapi itu kenyataannya.” Jelasku padanya.

“Aku tidak tahu harus bagaimana denganmu, tapi aku sudah memiliki Aerin. aku―”

“Dan aku tidak peduli tentang hubunganmu dengan Aerin. Jangan khawatir, kau tidak perlu membalas perasaanku.” ―Air mataku jatuh lagi―”Hanya aku yang bisa merasakannya.” Lanjutku dengan suara pelan.

Beberapa menit telah berlalu, aku masih duduk di bangku ini. Tanganku kugunakan untuk menopang kepalaku yang semakin berat rasanya. Sesekali aku melirik kea rah Sungmin. Namja ini masih bergumul dengan perasaannya. Lagi-lagi aku tersenyum pahit, meratapi bahwa cinta sudah lenyap dari genggaman tanganku yang lemah.

“Kau boleh membenciku untuk itu semua.” Aku menghilangkan keheningan yang seakan membunuh.

“Tak ada yang perlu dibenci.” Jawab Sungmin dengan dinginnya.

Aku merasa seakan jantungku ditikam pisau begitu menyadari ada rasa dingin dalam perktaannya tadi. Tapi bukankah ini yang terbaik? Membiarkan dia membenciku dan menganggapku bukan bagian dirinya lagi, menghilang selama-lamanya dan tidak pernah kembali? Bukankah itu yang aku inginkan?

“Aku harus pergi.” Nada sinis jelas sekali terdengar di kata-katanya.

Aku menangis lagi, kali ini tanpa isakan. Aku membiarkan air mataku yang sudah menggenang di pelupuk mataku untuk turun mengalir membentuk sungai kecil d wajahku. Hilang sudah. Aku sudah benar-benar hancur hingga sehancur-hancurnya. Tapi kehancuranku ini aku anggap sebagai sesuatu yang baik dan aku yakin bisa melaluinya.

“Selamat tinggal, Sungmin!” ucapku saat Sungmin sudah berjarak kira-kira sepuluh meter dariku. Sungmin berhenti berjalan, lalu kembali lagi melanjutkan langkah kakinya.

Benar. Aku mengucapkan kejujuran.

Selama tinggal, Lee Sungmin.

~xXx~

Liburan kali ini kugunakan untuk merenung di kamar. Aku sudah membuat panic kedua oppa ku dengan mengunci diri dan enggan keluar kamar untuk makan, atau melakukan aktivitas rutinku seperti biasanya. Peristiwa menyedihkanku tentang Sungmin seminggu lalu membuatku sangat terpuruk. Aku sudah tidak sanggup lagi menatap wajahnya walaupun itu saat di sekolah. Aku tahu aku tidak siap untuk itu.

Dan seperti yang telah aku duga sebelumnya, Sungmin menjauhiku. Setiap dia melihatku, dia akan menatapku seolah aku ini orang yang paling dia benci di muka bumi ini. Aerin juga demikian, aku merasakan persahabatan kami sudah benar-benar musnah tanpa bekas. Aku selalu tersenyum masam setiap kali menyadari kalau aku sedang memikirkan kedua orang yang pernah menjadi orang paling berarti di hidupku.

Aku menatap diriku di cermin. Penampilanku benar-benar sangat kacau. Rambut coklatku sangat kusut karena tidak kusisir, wajahku sangat lesu karena terus-menerus bersedih, dan yang paling parah adalah kedua mataku. Entah berapa ember air mata yang harus kukeluarkan untuk menangisi namja itu, bagiku itu sangat menyiksa.

“Kim Hyunmi, kau harus bisa move on! Jangan terus-terusan bersedih hanya untuk namja itu! Hyunmi, fighting!!!” aku menyemangati diriku sendiri agar lebih bersemangat. Aku pandang sekali lagi wajahku. Tampak lebih baik. Kurasa aku harus keluar kamar agar kedua oppa ku yang penyayang itu tidak mengkhawatirkanku.

~xXx~

Oppa….!!!” Teriakanku seakan bisa merubuhkan rumah ini saking kerasnya.

“Hyunmi-ya, bisakah kau kecilkan suaramu? Jika kau lapar, makan sana! Ryeowook sudah menyiapkan jajangmyeon untukmu.” Jongwoon Oppa terlihat asyik dengan buku lagunya. Mungkin dia sedang sibuk menghafal lagu barunya. Kudengar dia sudah dikontrak oleh salah satu agensi ternama Korea untuk dijadikan salah satu artis mereka bersama seluruh personil band milik oppa.

“Ryeowook Oppa mana?” tanyaku sambil berjalan menuju meja makan. Membelakangi oppa yang sedang ada di soffa depan tivi.

“Kau tidak ingat, Ryeowook sudah diangkat menjadi kepala cheff yang baru, dan ini hari pertamanya bekerja dengan jabatan baru itu. Itu sebabnya Ryeowook sangat semangat dan buru-buru pergi.” Jawab Jongwoon Oppa tanpa menatapku.

Kurasa keluarga kecilku―yang hanya berisi aku dan kedua oppa ku―sudah menemukan kebahagiannya. Semua kecuali aku yang memang tidak pernah seberuntug Jongwoon Oppa dan Ryeowook Oppa. Tapi anehnya kami selalu kuat dalam menyelesaikan masalah dan tidak pernah terpecah belah.

Aku segera menyelesaikan makanku.

~xXx~

Oppa, aku ingin keluar sebentar.” Pamitku pada Ryeowook Oppa. Di rumah hanya tinggal Ryeowook Oppa karena Jongwoon Oppa sedang ada job tampil di Kona Beans untuk penampilan terakhirnya sebelum debut.

“Mau kemana malam-malam begini?” Tanya Ryeowook Oppa sedikit curiga.

“Aku ingin mencari angin di luar. Aku janji sebelum jam Sembilan, aku sudah sampai di rumah.” Janjiku.

Ryeowook Oppa mengangguk tanda mengijinkan, dan aku pun langsung bergegas memakai sweater biru tua ku dan menghilang di balik pintu depan.

Tempat pertama yang terlintas di otakku adalah sungai Han. Dulu kau sering pergi ke sana untuk menghibur hatiku jika sedih. Dan ajaibnya, rasa sedihku akan berkurang setelahnya.

~xXx~

“Ahh, sungai Han, aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke sini.” Gumamku seraya duduk di tepi sungai yang dibendung itu. Cukup lama aku diam di sana, memutar kembali setiap kenangan yang seharusnya tercipta dengan indah. Tapi sayang sekali aku tidak seberuntung itu. Cintaku harus hancur bahkan sebelum sempat aku merasakannya.

Aku menunduk, menyaksikan arus air sungai yang seharusnya begitu menenangkan. Tapi untuk kali ini, aku melihat arus sunga itu seperti aku melihat hatiku. Aku sudah tidak mempunyai tujuan apa pun dalam hidupku, dan aku hanya bisa mengikuti ke mana hidupku akan berlanjut.

Tiba-tiba bayangan Sungmin yang tengah tersenyum padaku muncul di pikiranku. Kenapa pada saat-saat seperti ini aku malah mengingatnya? Itu membunuh hatiku. Aku menggeleng berulang kali untuk menghilangkan pikiran itu, tapi aku sudah terlanjur menangis kembali. Betapa lemahnya aku sekaramg ini, hidup hanya sebatas impian kosong yang tidak bisa berubah nyata. Jika aku bisa memiliki satu hal yang  mustahil di dunia ini, aku hanya ingin diberi ketabahan hati yang luar biasa. Aku sudah sangat lelah menangisi apa yang tidak bisa kumiliki di dunia ini. Sudah cukup! Tolong hentikan!

“LEE SUNGMIN!!! AKU YAKIN AKAN BISA MELUPAKANMU!!! DAN KAU TIDAK AKAN BISA BUAT AKU MENANGIS LAGI!! SELAMAT TINGGAL!!!” aku berteriak sekeras yang aku bisa. Tidak memedulikan orang lain yang mungkin menatapku seperti orang gila. Toh ini sudah malam dan sungai Han biasanya sudah sepi

Aku berbalik untuk pulang, tapi aku terjatuh karena seseorang menabrakku.

BRUUUKKKKKKK

Appo…” rintihku sambil memegangi lututku yang sedikit lecet karena terjatuh tadi.

Aigoo, agasshi, Jeongmal Mianhaeyo. Aku benar-benar tidak sengaja.” Suara panic itu berasal dari seseorang yang tadi menabrakku. Aku mendongakkan kepala untuk menatap orang itu.

DEG.

Jantungku serasa berpacu seperti pacuan kuda saat melihat orang di depanku ini. Tampan sekali. Baru kali ini aku melihat orang dengan tatapan selembut dia, raut wajahnya yang sedang khawatir tetap terlihat tampan meskipun suasana di sungai Han ini sedikit remang-remang.

Nne, gwaechana.” Aku mencoba berdiri dan orang ini membantuku, dia kemudian menuntunku untuk duduk di salah satu bangku di tepi sungai Han.

Nan Cho Kyuhyun imnida. Siapa namamu, agasshi?” Tanya namja bernama Kyuhyun ini dengan sopannya. Seolah terhipnotis, aku enggan mengalihkan pandanganku dari wajahnya.

Nannaneun Kim Hyunmi imnida.” Ucapku dengan suara bergetar.

Kyuhyun tersenyum, memamerkan senyum ang cemerlang dan terlihat begitu sempurna. Perasaan ini… aku sangat yakin.

Cho Kyuhyun…

Selamat datang di hatiku.

~FIN~

Huuufffttt, akhirnya selesai juga… *ngelap keringet*

Ohya, readers bisa berteman dgn saia di :

Avian.elf16@gmail.com

Fb : Vhiian Pumpkins’Elf Wolly Holic

Twit : @vhii_pumpkins

Gamsahamnida….. *bow*

1 Komentar (+add yours?)

  1. Nurhakiki Darmawan
    Des 01, 2013 @ 16:42:33

    eon??ini ada lanjutnya g??buat lanjutanya ya eon…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: