FanFiction : Waiting


Judul                     : Waiting

Author                  : Avhian Khasanah

Genre                   : Romance, Angst, AU

Cast                       : Lee Hyumi (OC)

Cho Kyuhyun

Length                  : Oneshot, Drabble

 

Annyeong…

Siapa yang ngaku biasnya Kyuhyun? Kali ini saya bikin FF  tentang Kyuhyun nih… semoga suka yaa…

Mian kalo gaje…

Recommended song   :  Super Junior KRY  –  just you

OK, check this out… ^^

 

 

WAITING

 

 

LEE  HYUMI  POV

 

MENUNGGU. Satu kata yang mungkin sangat dibenci oleh semua orang. Satu kata yang berarti pengorbanan. Pengorbanan dalam bentuk waktu, tenaga, maupun kesabaran. Satu kata yang bisa mengombang-ambing perasaan setiap orang. Satu kata yang benar-benar sedang aku rasakan saat ini.

Jika aku harus memilih, mungkin aku akan memilih berdiam diri di dalam kamar dan tidur. Mungkin itulah yang lebih menyenangkan. Tidak perlu menunggu seseorang yang tidak pasti kedatangannya. Untuk apa repot-repot mengorbankan waktu kita untuk hal yang tak pasti? Untuk sekali ini, aku benar-benar merasa bodoh.

Tapi aku memiliki perasaan. Aku punya tujuan mengapa sampai sekarang aku masih menunggunya di taman ini. Itulah mengapa aku masih saja duduk di bangku taman ini, meskipun tidak ada lagi orang tersisa selain aku. Itulah mengapa aku sanggup menahan diri sampai detik ini.

Dia memang sangat menjengkelkan. Cho Kyuhyun. Namja yang sempat membuat hidupku jungkar balik karena kehadirannya. Namja yang pernah membuatku memimpikannya. Namja yang selalu saja membuat pipiku merona merah karena pujiannya. Dan namja yang membuatku merasa menjadi yeoja paling bahagia di dunia karena ungkapan cintanya. Aku tidak habis pikir, kenapa begitu banyak ruang di hatiku yang terisi tentangnya. Aku benar-benar telah teracuni olehnya.

Tapi kini aku hanya merasa kekosongan dalam hatiku. Mengapa? Aku juga tidak tahu. Aku menyuruh dia menemuiku di sini, di taman ini, tempat kami pertama kali bertemu, tapi sampai saat ini hanya ada aku. Hanya aku, tanpa dia.

Aku sudah berkali-kali menghubungi nomornya, dan ternyata nomornya tidak aktif. Yang ada hanya suara operator dan layanan mailbox. Hingga terpaksa aku membanting pelan ponselku karena kehabisan baterai. Sial, di saat-saat seperti ini, ponsel yang seharusnya diandalkan malah kehabisan daya-nya.

Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya tanpa ada yang melarangku melakukannya. Sesak rasanya menunggu dia di sini. Bagaimana tidak, ini sudah jam delapan malam, sementara dia sudah aku suruh datang jam lima yang lalu. Apakah dia tidak tahu bagaimana perasaanku menunggunya? Ini sudah terlalu lama. Aku sudah tidak bisa lagi menunggunya.

“TIDAK BISA!” hati kecilku berteriak melarangku untuk meninggalkan tempat ini.

Aku menghembuskan napas lelah. Lalu duduk kembal di kursi panjang yang sudah tua ini. Dengan hanya diterangi beberapa lampu taman yang berjajar rapi di area ini, aku berharap ada dia di sini.

Hembusan napasku menimbulkan uap di udara. Di musim dingin seperti ini, aku nekat melakukan hal gila. Menunggunya hingga selama ini, apa itu tidak gila? Aku mulai menghitung waktu.

Lima puluh enam detik berlalu.

Udara semakin bertambah dingin. Aku semakin mengeratkan sweater abu-abu yang kupakai. Aku tetap tersenyum. Ini hanya masalah waktu. Aku tidak peduli apapun, aku akan terus menunggu kedatangannya.

Dua ratus tujuh belas detik selanjutnya.

Aku bisa merasakan angin yang bertiup dari arah utara. Menerbangkan sisa-sisa daun yang masih bergelantung di pohon maple taman ini. Senyumku mulai goyah, yang digantikan oleh ekspresi datar yang biasanya muncul jika aku sedang sedih.

Empat ribu tujuh ratus sembilan puluh tiga detik terlewati.

Salju mulai turun. Hinggap di setiap helai rambutku yang sedikit kusut. Aku membuka tas kecil milikku dan mengambil topi musim dingin berwarna putih dan memakainya di kepalaku. Aku terus bersabar, aku yakin dia pasti datang. Aku sangat yakin.

Sembilan ribu dua puluh empat detik.

Aku merasakan bola mataku mengering, dan napasku mulai pendek-pendek. Kenapa bisa selama ini? Apa dia tidak datang? Apa dia melupakan pertemuannya denganku hari ini? Apa yang sedang dia lakukan saat ini?

Kulirik jam tangan yang aku gunakan. Angka  23.11  tertera di sana.

Jadi ini sudah tengah malam, ya? Dia benar-benar tidak datang. Apa yang ia pikirkan? Ia berjanji akan datang tepat waktu, tapi sampai aku menunggunya lebih dari enam jam, dia tidak kunjung datang. Apa dia sengaja ingin mempermainkanku?

Aku beranjak berdiri dari tempatku duduk selama berjam-jam. Kakiku terasa sangat pegal karena lamanya duduk. Aku mengerjapkan mataku karena penglihatanku semakin buram oleh air mata. Napasku mulai sesak. Rasanya sangat menyesakkan. Aku meremas ujung bajuku kuat-kuat, seolah-olah itu akan menghilangkan rasa sesak yang kurasakan.

Aku sudah tidak tahan lagi. Air mataku merebak keluar dan mengalir menuruni pipiku, membentuk sepasang sungai kecil di sana. Tangan kananku bergerak memukul-mukul dadaku yang rasanya habis ditusuk pisau. Tidak bisa, aku tidak bisa menghentikan rasa sakit di dalamnya.

“Kenapa… rasanya.. sakit sekali di sini…” bisikku di sela-sela tangisku yang sesenggukan.

Aku berjalan lemas, seolah-olah tenagaku sudah tersedot habis oleh tangisku. Ya, aku memang sangat lelah. Aku sangat sangat sangat lelah menunggunya. Jika dia memang mempermainkanku selama ini, buat apa dia bilang kalau dia mencintaiku? Jika dia memang berbohong, mengapa dia selalu bersikap manis di depanku? Dan yang paling pasti. Jika dia menganggapku? Buat apa dia membiarkanku menunggunya di tengah cuaca bersalju selama enam jam? Buat apa jika hanya menipuku saja?

Langkahku semakin melambat, dihambat oleh tangis dan tenaga yang sudah tidak ada. Mungkin beberapa detik lagi aku akan terjatuh dan pingsan di tempat ini. Siapa peduli? Asalkan itu bisa menghilangkan sejenak rasa sakit di hatiku, aku tidak akan pernah keberatan. Sama sekali tidak keberatan. Bahkan mungkin aku akan menyukainya. Aku berusaha tersenyum miris di tengah isak tangisku.

Berakhir. Semuanya telah berakhir. Setelah malam ini, tidak ada lagi istilah Cho Kyuhyun milik Lee Hyumi, atau Hyumi selamanya mencintai Kyuhyun. Aku berniat ingin menghabiskan kisah ini, aku ingin mengetikkan kata TAMAT di kisah kami. Walaupun aku harus menelan rasa sakit dan akan mengalami masa paling suram di hidupku, aku tidak peduli.

Aku siap melepaskannya, agar aku tidak lebih terluka lagi nantinya. Agar air mataku tidak kuhabiskan percuma. Agar luka ini tidak terlanjur semakin dalam.

“LEE HYUMI!!”

Langkahku terhenti. Aku mendengar seseorang memanggilku dalam suara yang sangat kecil. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak mungkin, itu hanya halusinasiku saja. Tidak mungkin jika masih ada orang di taman tengah malam begini. Tidak ada kecuali gelandangan.

“HYUMI-YA!” suara itu semakin jelas, hingga membuatku berhenti berpikir bahwa itu adalah halusinasiku saja. Tidak, suara itu sangat nyata. Dan aku sepertinya mengenal suara itu, suara…

“Hyumi!”

CHO KYUHYUN.

Suara langkah kaki mulai terdengar mendekat ke arahku. Aku masih menolak untuk berbalik, aku masih tidak mau menatapnya.

“Hyumi-ya.” Dia memutar pundakku hingga kini kami berhadapan. Aku menundukkan pandangan hingga yang kulihat hanya tanah di antara kam.

Air mataku mengalir lagi, lebih deras dan lebih menyesakkan. Aku menggigit bibir bawahku untuk mencegah keluarnya isakan dari mulutku.

“Hyumi…” dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya agar aku menatap wajahnya.

Dan aku sangat terkejut melihat wajahnya yang menangis. Bukan tangisnya yang membuatku bingung, tapi luka di wajahnya. Dahinya terdapat luka yang ditutup perban. Bibirnya sedikit lecet seperti habis ditonjok. Dan aku juga menyadari tangannya terdapat banyak sekali lecet.

“K-kau kenapa?” tanyaku lirih mencoba mengalihkan rasa sedihku.

“Mianhae…” Kyuhyun langsung memelukku. Erat, sangat erat. Dia seperti takut kalau aku berpindah sesenti saja darinya. Tangis namja ini mulai terdengar olehku. “Mianhae… mianhae… mianhae…”

Pelukan ini membuatku ikut merasakan rasa sakitnya, dan aku pikir ia juga bisa merasakan rasa sakitku. Kami saling membagi beban. Seolah tangis menjadi bagian inti dalam waktu ini. aku sangat mengerti.

Kyuhyun melepaskan pelukanku kemudian menatapku lekat-lekat. “Mianhae. Aku sudah membuatmu menungguku selama ini. Aku tadi kecelakaan saat akan menemuimu. Aku baru siuman satu jam yang lalu dan langsung berlari menyusulmu di tempat ini. Aku benar-benar menyesal.”

Aku tertegun mendengar pengakuannya. Otomatis aku langsung memandang pakaian yang ia kenakan. Terlihat sedikit kotor dan kusut. Aku mencoba mencerna semuanya. Jadi Kyuhyun kecelakaan? Dan terlebih lagi dia memaksakan diri untuk menemuiku selepas siuman? Apa dia sudah gila.

Aku mulai merasakan pengorbanan yang ia berikan untukku. Dengan keadaan yang masih lemah, dia bersikeras untuk memastikan keberadaanku di sini. Itu berarti, Kyuhyun mencintaiku, benar kan? Aku tidak salah lagi. Buat apa dia berbuat semua ini jika dia tidak memiliki rasa cinta yang cukup besar padaku?

Kurasa aku akan menarik perkataanku sebelum kedatangannya barusan.

Aku mencoba tersenyum, lalu kukecup singkat bibirnya. Dia mengangkat wajahnya untuk menatapku. Ekspresinya shock.

“Kau sudah kumaafkan.” Ujarku sambil tersenyum tulus.

Dia juga tersenyum. “Gomawoyo, Hyumi-ya…”

Aku teringat sesuatu. Aku membuka tas milikku dan mengambil sebuah kotak berwarna biru yang sudah kukemas rapi.

“Saengil chukka hamnida, Cho Kyuhyun!” kataku bersemangat.

Dapat kulihat ekspresinya yang sangat terkejut. Matanya membulat dan mulutnya sedikit terbuka. Aku tertawa pelan melihat mukanya yang lucu itu.

“M-mwo?” ujarnya tak percaya.

Aku mengelus pelan pipi Kyuhyun. “Itulah alasanku menyuruhmu menemuiku hari ini. Yaitu untuk merayakan ulang tahunmu. Kau tidak ingat?”

Dia menggeleng pelan.

Aku melirik jam tanganku lagi. “Masih ada waktu setengah jam lagi. Kau mau membuka hadiahmu?” aku menawarkan.

Dia tersenyum. “Arraseo.”

Kyuhyun menerima kotak itu dan dengan penasaran dia membuka tutupnya. Lalu dia terlihat bahagia saat mengetahui isinya.

“Ini…” dia menggantung ucapannya.

“Ne, itu adalah kalung pasangan. Menurut mitos, kalung itu bisa menyatukan dua hati yang memilikinya.” Aku menjelaskan sambil menatap dua buah kalung yang sedang diamati Kyuhyun.

Kalung dengan liontin berbentuk bulan sabit berwarna biru, warna kesukaan kami. Dengan inisial namaku dan inisial nama Kyuhyun di atasnya. Kalung itu tampak sangat indah karena bertahtakan batu safir biru.

Kyuhyun memakaikan kalung dengan inisial namanya padaku, dan dia memakai kalung yang satu lagi. Senyum tak henti-hentinya mengembang di wajah tampannya.

“Gomawoyo, Hyumi-ya. Saranghaeyo.” Bisiknya tepat di telingaku.

“Nado, Kyuhyun-ah. Nado saranghaeyo.” Balasku dengan yakin.

Dia tersenyum lagi dan mengecup singkat bibirku dengan lembut, dengan penuh perasaan.

Kami pun berjalan keluar dari taman itu. Baiklah, seperti aku akan menuliskan kata Happy Ending di kisah kami. Tapi dengan catatan, cinta kami tidak pernah berakhir. Kurasa aku akhirnya telah menemukan sosok yang benar-benar mencintaiku dengan tulus.

Cho Kyuhyun, Saengil Chukka Hamnida.

Saranghaeyo…^^

 

..o0o.. END ..o0o..

 

Selesai…

Otte? Otte? Gaje kah? Hehehe..

Sebenarnya FF ini aku bikin buat lomba di ulang tahunnya Kyuhyun Oppa, tapi aku nggak yakin bakal menang cz menurut aku FF ini gak bagus… ^^ secara, aku bikinnya Cuma 2 jam dan idenya didapet dari film Hachiko  *lha, apa hubungannya?*

Gamsahamnida udah mau baca FF saya ini.. setiap komentar saya hargai… ^^

3 Komentar (+add yours?)

  1. Nurhakiki Darmawan
    Des 01, 2013 @ 16:34:47

    hampir bagus yang ini eon…mantaap….🙂
    lanjutkan eon…

    Balas

  2. HyeraLee
    Jul 17, 2014 @ 12:00:14

    Woah~ kyuppa ampe segitu’y.. aku jg pen punya cowok kek gitu.. kkk

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: