FanFiction : Bad Dream, Nice Dream (part1)


Judul      : Bad Dream, Nice Dream (part 1)Genre     : Fantasy, Romance, dll
Rating    : General, PG 13
Cast          : Lee Sungmin, Yoon Hwayoo(OC), Choi Siwon, and other…
Author  : VianPumpkins

Annyeong… aku balik bawa FF nih…
kali ini aku nyoba bikin FF chaptered yg lumayan panjang part nya.. smoga aja suka.
Comment ne… Every comment is love..🙂

Happy Reading

 

Hidup menyebalkan, lalu mati.

Jika hidupku tidak ada gunanya lagi, untuk apa aku terus di sini?

Aku akan pergi, aku akan meninggalkan semua.

Bersama mimpiku, aku akan lenyap dari bayangnya,

 

STORY BEGINS

 

“Aku tahu, mungkin mereka menyayangimu. Kau jangan salah sangka dulu.”

“Tidak. Mereka sama sekali tidak menyayangiku. Apa kau tidak bisa melihat sorot kebencian di mata mereka? Mereka membenciku, Sungmin-ah, mereka membenci orang tuaku.”

Aku terus berdebat dengan orang yang entah mengapa selalu hadir setiap hari. Lee Sungmin. Namja bermata hazel ini terlihat cemas dengan raut wajahku. Semua yang aku ceritakan padanya seolah semakin membiusku untuk dekat dengannya. Lee Sungmin, namjaku.

“Apa yang harus kulakukan?” bisikku tercekat.

Sungmin tidak menjawab. Ia merengkuhku dalam pelukannya. Menenangkanku. Dan sebisa mungkin aku merasakan kehangatan yang ia alirkan lewat pelukan ini. Kehangatan seorang Lee Sungmin.

“Tenanglah. Kau hanya perlu tenang. Paman dan bibimu itu tidak akan menyakitimu lebih dari itu. Kau akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu, Hwayoo-ya. Aku akan melindungimu.” Kurasakan dia membelai rambutku, memainkan seberkas rambut dengan jari-jari lentiknya.

Aku semakin mengeratkan pelukanku. Semakin membuat diriku nyaman dalam posisi ini.

Satu pertanyaan tiba-tiba terbesit dalam pikiranku.

“Sungmin-ah…” panggilku pelan.

Ia mendengar, “hmm?”

Aku ragu-ragu sejenak. “Apa… kau itu nyata?”

Tidak kudengar jawaban darinya. Aku mengernyit lalu segera melepaskan tautan pelukan kami. Kutatap wajahnya. Ia sedang tersenyum manis padaku. Matanya berbinar lembut, indah sekali.

Tangan kanannya bergerak untuk mengacak rambutku dengan pelan.

“Aku akan selalu nyata dalam hatimu, Hwayoo-ya. Kau mencintaiku, bukan?” tanyanya padaku.

Aku mengangguk lemah, “n-ne, tentu saja aku mencintaimu.” Aku tidak bohong, aku memang mencintainya lebih dari apapun. Apalagi sejak kedua orangtuaku meninggal.

Ia masih tersenyum. Bahkan senyumnya lebih lebar dari sebelumnya.

“Jadi tidak ada alasan untuk mengira aku tidak nyata, bukan?” tanyanya memastikan.

“Hah?” otakku yang lemot ini begitu lamban merespon ucapannya barusan. Setelah beberapa lama kemudian, aku berhasil menangkap maksud dari pertanyaannya tadi, “Ooh… ne. Kurasa kau benar.” Jawabku sambil mengangguk pelan.

Sungmin mengecup puncak kepalaku, lalu turun ke dahi, kemudian ke mata, hidung, pipi, dan berakhir di bibirku. Ia mengecup bibirku dengan lembut.

Kupejamkan kedua mataku. Argh, kurasa pertemuanku dengan Sungmin akan berakhir sebentar lagi. Tapi aku tidak sepenuhnya khawatir. Masih ada hari esok dan esoknya lagi. Akan ada hari-hari yang panjang walaupun nyatanya satu hari hanya mencakup dua puluh empat jam.

 

..o0o..

 

“HWAYOO-YA!! IREONAAA!! DASAR YEOJA PEMALAS!!”

Kedua mataku langsung terbuka begitu mendengar suara teriakan itu. Suara teriakan bibi yang selalu saja berhasil mengusik mimpi indahku bersama Sungmin, namjaku yang sudah bertahun-tahun hadir dalam setiap mimpi saat aku tidur.

“Ne!” jawabku dengan nada sedikit malas.

Aish, pekerjaan ini lagi. Aku selalu saja malas jika bangun saat pagi. Karena itu mengganggu mimpiku bersama Sungmin. Apalagi ditambah teriakan bibi yang seakan ingin membelah bumi. Rasanya aku ingin sekali menyumpal kedua lubang telingaku agar teriakan itu bisa teredam dan tidak menyebabkan telingaku tuli secara perlahan.

Dengan rambut yang masih kusut, aku berjalan menuju ruang makan. Di sana sudah ada paman, bibi, serta Hyena yang sudah duduk di depan meja makan.

“Ya! Dasar yeoja pemalas! Cepat buatkan makanan! Kenapa kau tidak bia bangun lebih pagi, hah?!” bentak bibi padaku. Aku langsung menundukkan kepalaku.

“Maafkan aku.” Ucapku pelan.

“Halah, kau itu hanya minta maaf saja. Aku tidak butuh kata maaf darimu! Cepat buatkan kami makan! Cepat!” tandas bibi lagi.

Aku langsung buru-buru menuju dapur di samping ruang makan. Kubuka kulkas di sana dan mengeluarkan beberapa bahan masakan dari dalamnya. Menghidupkan kompor untuk memasak air, serta memotong-motong sayuran untuk kubuat sup.

Aku begitu sibuk sampai mengabaikan teriakan bibi yang sepertinya sudah tidak sabar menungguku. Tinggal meletakkan makanan ini di mangkok besar dan sudah siap.

Dengan sedikit buru-buru, aku membawa mangkok besar itu ke meja makan, meletakkannya di tengah-tengan meja. Kemudian aku menuangkan teko berisi the panas ke cangkir-cangkir itu.

“Ya! Eomma! Kenapa hanya sup saja? Apa tidak ada makanan lain?” aku mendengar Hyena mengeluh sambil menatap makanan di depannya tanpa selera. Bibirnya ia cembikkan hingga terlihat sangat jelek. Aku ingin sekali tertawa melihatnya, tapi aku tidak mungkin melakukannya karena tahu apa akibatnya bila berurusan dengan Hyena.

“Hyena Sayang, makanlah yang ada di sini dulu. Nanti di sekolah kau bisa makan masakan yang lebih enak.” Bujuk bibi dengan lembut.

Aneh sekali. Jika bibi berbicara denganku, maka hanya teriakan yang keluar dari mulutnya.

Hyena tetap merajuk. “Shireo! Aku ingin makan ayam! Berikan aku ayam goreng sekarang juga!”

Aku tidak habis pikir, sejak kapan yeoja ini bertingkah seperti seorang putri? Apakah segala perintahnya harus terpenuhi?

“Hwayoo-ya! Ada ayam tidak?” Tanya bibi padaku.

Aku menggeleng pelan. “Tidak ada, Bi. Hanya ada bahan sup di kulkas.”

Bibi menoleh ke Hyena kembali, “kau dengar itu? Tidak ada ayam goreng hari ini, Hyena-ya.”

“Aish!” gerutunya pelan.

Bibi tersenyum manis. “Baiklah. Kalau begitu, akan kuberi kau uang saku lebih hari ini.”

Mata Hyena langsung berbinar. “Jjinja? Eomma, gomawoyo!” sorak Hyena kegirangan.

Aish, Hyena ini benar-benar materialistis. Apapun yang berhubungan dengan uang, pasti matanya langsung membelalak lebar. Mungkin ini karena sifat bibi dan paman yang menurun padanya.

Aish, aku belum bercerita.

Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan tahun lalu, meninggalkan anak semata wayangnya ini sendirian di rumah sebesar dan semegah ini. serta perusahaan besar milik ayah yang tidak ada yang mengurus. Sebelum meninggal, ayah sempat menitipkan perusahaan ini kepada paman yang saat itu menjadi orang kepercayaanya untuk dikelola dengan baik saat ayah sedang tidak bisa bekerja. Ayah dan ibu juga mengijinkan mereka untuk tinggal di rumah ini.

Sejak orangtuaku meninggal, mereka semakin bertingkah seola harta kekayaan ayah dan ibu adalah milik mereka. Memakai fasilitas di rumah ini sesuka hati mereka, dan membelanjakan uang perusahaan hanya untuk kesenangan mereka.

Mungkin aku bisa menolerir itu karena keluarga paman sebelumnya memang miskin jadi itu wajar. Tapi melarangku untuk memakai seluruh fasilitas di rumah? Hey! Apa hak mereka?

Namun kemudian paman menunjukkan surat bukti tanda kekuasaan rumah, perusahaan berserta cabang-cabangnya, vila-vila di pulau Jeju, serta tabungan-tabungan di beberapa bank dengan saldo tak terbatas yang sudah jatuh ke tangannya. Paman telah menipu orang tuaku, mereka hanya menginginkan harta saja.

Dan aku tidak bisa apa-apa karena surat-surat kepemilikan itu sudah benar-benar menjadi milik paman.

Duniaku terasa seperti neraka sekarang ini.

 

…….

 

TO BE CONTINUE…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: