Fanfiction : Way For Love (part 1/2)


Author                  : VianPumpkins

Judul                     : Way For Love

Genre                   : Romance, Angst

Rating                   : PG 15

Cast                        : Kim Yesung , Yeonjoo (OC)

Length                  : Twoshot (5605 words, 17 pages)

 

FF ini asli hasil dari pemikiranku sendiri. No copy, no plagiat, and No Kacang😄

 

Happy Reading…~

 

Recommended Songs    :

 Kyuhyun – late autumn (my favorite >u<)

Super Junior KRY – just you

 

~All Yeonjoo POV~

 

Matahari bersinar terik. Sinarnya berhasil menembus jendela berkaca tebal di kamarku. Seberkas sinar mengenai wajahku hingga membuatku silau. Kelopak mataku bergetar dan akhirnya sepenuhnya kubuka kedua mataku. Menatap langit-langit kamar yang berwarna biru pucat.

Bisa kurasakan keningku yang basah karena keringat, dan beberapa menetes menuruni leher. Udara begitu panas hari ini, dan entah kenapa aku merasa kegerahan.

Kubalikkan tubuhku ke sebelah kanan. Sedikit tersentak menyadari ada namja yang berada di ranjang yang sama denganku. Walaupun ini sudah dua tahun, tapi aku belum bisa terbiasa untuk menyadari dia ada di sini. Aku tersenyum geli menertawai diriku sendiri.

Kupandangi setiap lekuk wajahnya yang nampak sempurna di mataku. Hidungnya yang mancung, bibir tipisnya yang sewarna cherry, kedua mata yang sipit yang kelihatan damai saat tertidur, pipinya yang seperti bantalan kapas – putih dan lembut – aku tidak akan pernah bosan melihatnya.

Kemudian aku sadar bahwa sejak tadi tangan kanannya telah memeluk pinggangku erat-erat. Menyalurkan kehangatan yang sebenarnya tidak perlu di hari yang gerah ini. Aku tersenyum tipis padanya.

Dengan sangat hati-hati, kulepaskan lengannya yang memeluk pinggangku. Aku bertindak pelan agar tidak membangunkannya. Kemudian dengan tanpa suara, aku berjalan menuju pintu kamar mandi yang ada di sudut ruangan. Menapaki lantai marmer yang terasa dingin. Kubuka pintu kamar mandi tanpa menimbulkan suara deritan sedikitpun.

Cermin, kutatap wajahku di cermin yang ada di kamar mandi. Kupandangi setiap inchi wajahku yang sedikit banyak menampilkan wajah lelahnya. Rambutku tampak sedikit kusut dan wajahku awut-awutan. Aku membasuh mukaku dengan air wastafel.

Ini sudah dua tahun sejak diberlakukannya perjanjian itu dengannya. Perjanjian yang membuatku terus mendekam bersamanya selama dua tahun di rumah mewah ini. Mendekam bersama Yesung.

Ingatanku berputar kembali ke kejadian dua tahun lalu, saat ia datang ke rumahku dan memintaku untuk tinggal bersamanya. Ia berjanji akan membayarkan biaya pengobatan adikku yang terkena kanker kelenjar hati yang biayanya sendiri tidak bisa aku kumpulkan karena terlalu banyak. Ia juga membelikan keluargaku sebuah rumah yang lebih besar dan mewah dari rumah kami sebelumnya. Ia menjamin kehidupan keluargaku. Tapi sebagai syaratnya aku harus menjadi tawanannya.

Dengan berat hati aku mengikuti persyaratannya itu. Aku ini bukanlah gadis yang hanya mementingkan diriku sendiri, aku juga menyayangi keluargaku yang selama ini telah memberiku segalanya. Aku akan melakukan apapun untuk keluargaku. Untuk eomma, appa, dan dongsaeng-ku yang sangat aku sayangi.

Hidupku seakan langsung berubah begitu tinggal bersamanya. Ia tidak mengijinkanku untuk bekerja sebagai penjual bunga di pinggir jalan seperti biasanya. Ia tidak mengijinkanku untuk keluar dari rumahnya yang mewah kecuali bila itu penting. Dan yang paling tidak aku sukai adalah, ia tidak mengijinkanku untuk berteman dengan siapapun kecuali itu adalah teman-teman yang sudah sangat akrab denganku.

Menyebalkan? Memang. Aku bahkan pernah nyaris kabur dari tempat ini sebelum akhirnya aku ketahuan dan mendapat hadiah bentakan dari Yesung.

Tapi kini aku tidak bisa marah padanya. Aku tidak bisa menolak apa yang ia perintahkan padaku. Aku telah berhutang banyak padanya. Ia yang telah membuat dongsaeng-ku sembuh dari penyakit kanker yang dideritanya selama beberapa tahun ini. Yesung juga yang telah dengan senang hati menyekolahkan dongsaeng-ku itu ke Sydney. Orang tuaku bahkan sangat memujanya. Menganggapnya sebagai namja yang memberi mereka kebahagiaan setelah sekian lama menjalani hidup miskin.

Juga hatiku, kini tidak bisa mengikuti instruksi dari otakku untuk diam. Setiap sentuhan yang ia berikan seakan membuat jantungku melompat. Membuat peredaran darah di tubuhku ini beralih menuju kedua pipiku. Aku selalu menyukai setiap sentuhannya. Terasa lembut dan menembus ke dalam kulit. Membuatku selalu merindukannya saat ia sedang sibuk karena urusan pekerjaannya yang sangat banyak itu.

Aku sudah jatuh cinta padanya, dan aku yakin itu.

Tapi kenyataan bahwa aku hanyalah bonekanya membuatku kembali menelan kekecewaan yang pahit. Aku memang sudah tahu jika awalnya aku hanya dijadikan oleh Yesung sebagai sosok yang ia buat sebagai pelampiasannya saat ia lelah dari pekerjaannya. Aku hanyalah bonekanya, tidak lebih. Ia tidak pernah menganggapku sebagai wanita selama ini. Mungkin ia menganggapku sebagai wanita murahan yang menjual dirinya untuk menghidupi keluargaku yang miskin. Apakah aku seperti itu di matanya?

Aku menunduk, membiarkan bulir-bulir Kristal bening meluncur dengan mudah dan membentuk sungai kecil di wajahku. Aku tahu. Aku tahu jika ini tidak akan mudah. Aku sadar telah mencintai orang itu. Aku sudah mencintai orang yang menjadikanku sebagai bonekanya. Aku hanya sebuah pelampiasan, aku bukan apa-apa baginya.

Namun hatiku masih punya sedikit harapan. Walaupun sedikit, tapi itu tetap ada. Harapan bahwa ia juga mencintaiku, Yesung juga mencintaiku meski itu hanya sedikit saja. Aku masih berharap sinar matanya saat menatapku itu adalah rasa cinta. Aku berharap perkataannya yang manis itu berarti kalau dia juga mengharapkanku. Dan aku berharap sikap protektifnya selama ini adalah karena ia takut kehilanganku.

Well, setidaknya itu bisa sedikit menghiburku.

Aku menyalakan shower dan membiarkan ribuan tetes air mengenai tubuhku yang masih terbalut piyama. Sejenak, ini bisa meredakan perasaan resahku.

 

..o0o..

 

Selesai berpakaian, aku memutuskan untuk membuatkan sarapan untuk Yesung. Tapi sebelum aku tuntas melewati pintu kamar ini, aku mendengar suaranya yang agak teredam.

“Yeon…joo…”

Mwo?! Apakah aku tidak salah dengar? Dia mengigaukan namaku? Aish, aku tidak menyangka jika seorang Kim Yesung bisa memimpikanku di tidurnya. Aku jadi penasaran, apa yang ia mimpikan. Tapi aku tidak ingin mengganggu tidurnya. Aku tahu, ia pasti sangat lelah setelah semalam ia kerja lembur di kantor pusat.

Tapi itu tidak menghentikan langkahku untuk mendekat ke arah ranjang. Aku duduk di ujungnya dan menatap wajah namja yang kucintai ini dalam-dalam. Benar, ia masih tertidur seperti bayi. Sangat polos dan menggemaskan.

Aku tidak tahan untuk mendekatkan wajahku ke wajahnya dan mengecup pipinya singkat. Lalu dengan segera aku menjauhkan wajahku kembali. Aku akan sangat malu jika ketahuan mencium pipinya saat ia tidur.

Dan, ya… dia langsung terbangun dan menatapku penasaran. Lalu disentuhnya pipi kirinya yang barusan aku kecup.

“Apa yang tadi kau lakukan, Yeonjoo-ya?” tanyanya setengah curiga.

“A-Ani…” aku menjawab dengan terbata. Sial, kenapa aku tidak bisa berbohong dengan baik? Aish, aku bisa dengan mudah ketahuan olehnya. Yeonjoo pabo…

“Jangan bohong. Aku tahu kalau kau habis mencium pipiku saat aku tidur tadi. Kau itu benar-benar tidak sopan ya…” tegurnya main-main. Secercah senyum menggoda terpasang di wajahnya.

Aku bisa merasakan pipiku memanas. “Aniyo… aku tidak melakukan apapun!” aku masih berusaha mengelak.

Tiba-tiba, telapak tangan kanannya memegang wajahku. Menatapku dengan dalam. “Tidak usah mengelak. Matamu itu bisa menggambarkan dengan jelas kalau kau sedang berbohong.”

Dan mataku langsung membulat saat kurasakan benda lembut dan basah menempel di bibirku. Bibirnya, ia menciumku dengan lembut. Seolah sudah lama sekali kami tidak saling temu. Aku hanya diam saja, tidak membalas ciumannya karena terlalu gugup.

Walaupun ini bukan pertama kalinya ia menciumku tepat di bibir, tapi sensasinya masih terasa seperti baru. Setiap sentuhannya membuatku merasa melayang. Terbang tinggi seolah aku telah menemukan kebahagiaanku yang seutuhnya. Mencintai Kim Yesung.

Ia melepas ciumannya setelah bergumul dengan bibirku. Cengiran menggodanya yang khas itu masih bisa kulihat di antara sisa dari keterkejutanku.

“Kau itu sudah kucium beberapa kali, tapi kenapa ekspresimu masih sama seperti yang pertama dulu huh?” tanyanya menggodaku.

Bingo! Sepertinya Yesung memiliki kemampuan membaca pikiran seperti Edward Cullen di film Twilight Saga. Kenapa dia bisa dengan mudah menebak apa yang kupikirkan? Apakah wajahku ini begitu pabo hingga aku ini termasuk orang yang mudah ditebak? Aish, Yeonjoo pabo! Neomu paboya…

“A-Aku ingin mau masak dulu.” ujarku. Otakku dengan cepat mencari alasan agar ia melepaskan tangannya yang kini bagai ular melingkar di pinggangku. Tubuhku sedikit tegang.

“Bukankah ada Song Ahjumma yang biasa melakukannya? Kenapa kau masih ingin melakukan pekerjaan berat?” Yesung sepertinya melarangku.

“Wae? Aku sudah sangat lama tidak menginjakkan kakiku di lantai dapur. Apakah aku tidak boleh memasakkan sesuatu untukmu sarapan?” aku bersikeras.

Kulihat ia mulai menyerah dengan sikap keras kepalaku ini. Ia mengangguk dan berjalan ke luar kamar dengan langkah berat. Sekilas aku menangkap sinyal yang kurang bagus tentang apa yang ia pikirkan. Mungkinkah ia marah padaku?

Kukejar ia dengan kaki pendekku ini. menggenggam tangannya sebelum ia tuntas berjalan melewati pintu. Dia membalikkan tubuhnya, menatapku dengan tatapan datar. Aku merasakan sedikit sakit di dadaku.

“Wae?” tanyanya singkat. Nada suaranya yang datar itu semakin menguatkan dugaanku bahwa ia memang sedang marah.

“Kau marah padaku?” tanyaku lambat-lambat dengan suara kecil.

Aku tidak berani menatapnya, kutundukkan kepalaku untuk menyembunyikan wajah. Aku masih ingat saat ia membentakku dulu. Suaranya yang biasanya terdengar lembut itu menjadi kasar saat sedang marah. Dan aku tidak bisa apa-apa kecuali menangis. Ya, menangis. Seumur hidup aku tidak pernah dibentak oleh orang lain, dan Yesung adalah yang pertama.

Satu jari mengangkat lembut daguku, membuatku kembali menatap wajahnya yang serupa malaikat itu.

“Buat apa aku marah? Memangnya kau punya salah?” senyumnya kembali muncul.

“Nde?” aku mengerjap tak percaya.

“Kau tidak melakukan apapun yang membuatku marah padamu, Yeonjoo-ya. Jadi jangan menganggap kalau aku marah. Aku baik-baik saja.

Senyumnya yang tulus itu membuatku menjadi lebih tenang. Dan aku langsung percaya pada kata-katanya.

“Jadi kau tidak keberatan, kan, kalau aku memasakkan sarapan untukmu?” aku masih mencoba untuk memastikan.

“Sebenarnya aku bisa saja menyuruh Song ahjumma untuk memasak sesuatu. Tapi karena kau sangat ingin memasak, baiklah. Aku memperbolehkannya.”

“Jjinja?” tanyaku kegirangan.

“Ne. Asalkan kau berhati-hati saja. Jangan sampai jarimu terluka atau apapun itu. Baiklah, aku ingin ke ruang kerjaku. Sampai nanti.”

Ia mengecup keningku singkat lalu buru-buru melangkahkan kakinya ke ruang kerjanya. Buru-buru, seolah ada hal penting yang sedang menunggunya. Aku berdecak kecewa, ia memang selalu sibuk. Terlalu sibuk hingga hampir tidak ada waktu dia bersamaku.

Mungkin dia akan memiliki waktu luang – dan itu sangat sedikit – untuk dia melewatkan hari bersamaku. Entah itu ke taman hiburan atau sekedar nonton di bioskop. Tapi selebihnya aku selalu sendiri. Sebagian besar waktuku seharian aku habiskan dengan melamun. Duduk diam di depan jendela kamarku dan menatap dunia luar. Dunia yang kini menjadi jarang kukunjungi. Dunia yang seolah asing bagiku sekarang ini.

Tapi aku juga perlu bersyukur Yesung tidak membiarkanku sepenuhnya menganggur seharian. Selama beberapa kali dalam seminggu, ia mengirim seorang pembimbing pendidikan – yang aku selalu ngotot kalau itu guru privat – ke rumah ini untuk memberiku sedikit banyak ilmu secara umum.

Aku mendesah jengah dan langsung memasuki area dapur.

 

..o0o..

 

Dapur dengan desain sederhana namun tetap terlihat modern dengan alat-alatnya yang cukup canggih. Sangat bersih dan rapi. Aku membuka pintu kulkas untuk mengambil beberapa bahan makanan.

“Nona, apa yang kaulakukan di sini?” suara seorang wanita mengagetkanku.

Aku menoleh ke belakang dan menghadap Song ahjumma yang sedang membawa beberapa gelas kotor. Mungkin ia akan mencuci piring setelah ini.

“Aku ingin memasak.” Aku menjawab jujur.

Song ahjumma terlihat mengerutkan keningnya. Dalam hati aku penasaran, apakah aku salah bicara? Apa aku melakukan kesalahan? Kurasa tidak. Lantas kenapa reaksi Song ahjumma terkesan berlebihan?

“Eum, sepertinya tuan muda Kim tidak akan memaafkan saya jika membiarkan Nona melakukan pekerjaan kasar ini.” tolaknya halus. Aku tahu, dia melarangku.

Aku menggeleng. “Ani. Tadi aku sudah meminta ijin Yesung untuk mrmbiarkanku memasak, dan ia meperbolehkannya. Jadi, tidak apa-apa, bukan?”

Kerutan di wajahnya semakin dalam. Membuatku semakin heran dengan sikapnya yang sedikit aneh itu – ani, sangat aneh. Memangnya kenapa kalau aku memasak? Bukankah sejak dulu ia tahu kalau aku sangat hobby memasak? Lantas apa yang perlu dipermasalahkan?

“Wae, ahjumma? Apa ada yang salah?”

Song ahjumma berdeham sebentar. “Ani. Kalau begitu silakan Nona memasak. Jika ada yang diperlukan, harap panggil saya.” Kata Song ahjumma dengan sopan. Dia kemudian melangkah keluar daerah dapur. Aku menatap pintu tempatnya pergi tadi dengan heran.

Aku memang sudah tinggal lama di tempat ini – dua tahun. Dan itu bukan waktu yang singkat bagiku untuk mengenal sosok-sosok yang tinggal di rumah ini. aku begitu mengenal sosok Song ahjumma yang sedikit bersikap aneh padaku. Perlakuannya padaku tetap canggung seperti saat pertama aku datang ke sini. Bahasa yang ia gunakan padaku terkesan sangat sopan walaupun sudah aku beritahu berkali-kali agar tidak memanggilku dengan sangat formal.

Aku mengalihkan perhtianku. Kembali focus pada apa yang ingin aku masak. Eum, baiklah aku akan membuatkan Yesung cappuccino lebih dulu.

Aku menyalakan kompor dan merebus air. Setelah airnya mendidih, kutuangkan ke dalam cangkir yang sudah kuberi bubuk cappuccino kesukaannya. Kopi selesai.

Setelah ini makanan. Aku kembali membuka kulkas tapi tidak kutemukan bahan makanan yang kukehendaki. Di dalam kulkas hanya ada beberapa potong kue, buah apel dan stroberi, beberapa butir telur, serta beberapa botol minuman coke dan yogurt. Tidak ada yang sesuai harapanku.

Aish, sepertinya aku harus belanja saja setelah ini. Aku tidak ingin meminta bantuan Song ahjumma untuk belanja bahan yang kumau. Aku tidak tega memerintah wanita paruh baya itu. Tapi lebih dulu aku harus meminta ijin Yesung. Jika aku tidak ijin, dia akan memarahiku habis-habisan karena telah melanggar larangannya. Dan ia juga akan mengancam akan menghentikan pengobatan adikku.

Kuraih cangkir kopi tadi, dan kubawa ke ruang kerja Yesung. Aku melihat dia sedang menelepon seseorang.

“…ya, aku tahu. Tapi sebaiknya lahan itu kita gunakan untuk pembangunan cabang yang baru. Keuntungannya lumayan besar…”

“…ah, aku tidak akan menjualnya. Aku sudah mendapatkan itu dengan susah payah…”

“…tentu, aku akan menghadiri meeting dengan pemegang saham setelah ini, jam berapa kira-kira meeting itu dimulai…”

“…investasi yang dlakukan perusahaan asing itu cukup menjanjikan. Kurasa aku akan segera menandatangani kontrak dengan mereka…”

“…pecat saja dia, aku sudah menduga kalau dia itu sangat tidak bisa diandalkan. Oh, kau juga harus menyelidiki sekretaris Jang itu. Aku curiga dia adalah spionase dari perusahaan Hwang Corp…”

Selalu sibuk, sibuk dan sibuk seharian. Menelepon dan menjawab telepon setiap saat. Mondar-mandir dari rumah ke kantor pusat, kantor cabang, atau ke perusahaan lain untuk melakukan meeting. Mengurus semua hal di perusahaan yang aku bahkan tidak pernah mengerti sedikitpun. Yesung bagaikan robot yang selalu ditugasi hal-hal – yang bagiku – menbosankan di hidupnya.

Terlihat dia meletakkan gagang telepon di tempatnya dan mulai menyandarkan punggungnya di sofa merah marun favorit Yesung. Kulangkahkan kakiku untuk masuk ke area ruang kerjanya. Suara langkah kakiku terdengar jelas. Yesung mendongak untuk melihat siapa yang datang.

Ia langsung tersenyum begitu tahu akulah yang datang. Ia menatap kopi yang kubawa sekilas lalu melambaikan tangannya untuk menyuruhku duduk di depannya. Aku menurut. Kutaruh cangkir kopi itu di atas meja dan duduk di sofa merah marun seperti yang diduduki oleh Yesung.

“Aku ingin minta ijin.” Ujarku kemudian.

“Ijin apa?” tanyanya lalu mulai menyesap kopi yang tadi kubawakan.

“Eum…” sejenak aku ragu apakah ia akan mengijinkanku atau tidak. “Aku ingin keluar sebentar untuk belanja bahan makanan.”

Aku bisa melihat sorot mata marah di wajahnya. Ia menatapku tajam dengan mata sipitnya itu. “Buat apa kau belanja? Bukankah ada Song ahjumma? Suruh saja dia!” Yesung sepertinya kesal denganku.

“Aku ingin melakukannya sendiri…” aku masih berusaha membujuknya. Tapi mungkin ini akan sulit kulakukan karena Yesung itu sangat keras kepala.

Yesung langsung berdiri. Matanya berapi-api menandakan kalau ia sedang marah. Aku menelan ludahku susah payah. Habislah sudah… dia akan memarahiku kali ini.

“Apa yang telah kuberikan padamu ini kurang cukup untukmu?” tanyanya dengan nada suara yang tajam.

Napasku tercekat. “B-Bukan itu … hanya saja…” aku tidak mampu menuntaskan ucapanku. Lidahku serasa seperti diikat hingga sulit mengeluarkan kata-kata yang kuinginkan. Satu hal yang paling sulit kulakukan di dunia – melawan argument Yesung.

“Hanya saja apa? Kau ingin bilang kalau kau bosan denganku? Kau sudah tidak tertarik dengan kekayaanku? Aku yakin setelah keluar dari rumah ini kau akan kabur lagi! Apa kau itu begitu mudahnya terpengaruh dengan teman bodohmu itu?”

Aku tersentak mendengar kata itu terucap dari mulut Yesung. Kasar sekali… padahal aku hanya ijin keluar rumah untuk berbelanja bahan makanan, tapi kenapa aku malah mendapat teriakannya? Memangnya aku salah? Memangnya aku akan melarikan diri sedangkan di sisi lain ia sangat berjasa buatku? Apa aku sepengecut itu?

Aku tidak membalas pertanyaan itu.

“Kau ingat perjanjian kita? Disana ada poin yang bertuliskan bahwa kau tidak boleh keluar dari rumah ini apapun yang terjadi. Dan kau ingat? Aku mengijinkanmu keluar pada waktu sebelumnya karena aku kasihan melihatmu di sini. Aku selalu mengabulkan apapun yang kauinginkan. Aku selalu melakukan apapun permintaanmu. Jadi sekarang, jangan harap kau bisa keluar dari rumah ini lagi! Kau sudah melanggar kontrak terlalu jauh, Nona Yeonjoo!” Yesung meneriakkan kata terakhir itu dengan nada marah.

Semakin kutundukkan kepalaku. Takut melihat wajah murka Yesung yang serasa ingin membunuhku. Kutahan air mataku yang mulai menggenang. Jangan menangis… jangan menangis, Yeonjoo-ya… kau itu kuat! Jangan biarkan ia melihat sisi lemahmu kali ini…

“Jadi… semuanya berdasarkan kontrak, ya? Aku bodoh sekali…” aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu berlebihan dalam menilai perlakuan manis Yesung padaku.

Jadi semuanya karena kontrak? Jadi hati Yesung yang kuharapkan itu palsu? Tidak adakah Yesung yang jatuh cinta padaku? Apakah hati Yesung tidak pernah terbuka untukku?

Mungkin aku terlalu berharap. Dan saat aku tahu harapan itu mustahil, baru aku sadar sakit yang ada sangatlah menyakitkan. Aku terlalu tinggi menggantung mimpi, hingga saat aku terjatuh, itu akan sangat menyakitkan hingga aku tidak yakin akan bisa bertahan hidup kembali.

“Mungkin aku hanya yeoja bodoh yang terpaksa menandatangani kontrak hanya karena uangmu, Kim Yesung…  aku mungkin wanita yang materialistis, mengutamakan uangmu untuk kehidupanku sendiri…”

BODOH! Yeonjoo-ya, kau sangat menjijikkan! Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan kata-kata terutuk itu di depannya? Dan terlebih lagi itu semua adalah kebohongan. Ya, aku hidup di sini bukan sepenuhnya karena uang. Aku tidak perlu uang, aku tidak perlu kekayaan. Aku hanya ingin Yesung mencintaiku. Dan yang membutuhkan uang itu bukan aku, melainkan keluargaku terutama dongsaeng-ku.

Dan aku kini menghadapi resiko akan direbus hidup-hidup oleh Yesung.

“Jadi… dua tahun yang kaulewati bersamaku itu hanya karena uang. Benar itu Yeonjoo? Apa kau tidak memiliki alasan lain?!”

Aku memejamkan mataku mendengar bentakannya. Memangnya kenapa? Apalagi yang aku harapkan jika ia tidak mencintaiku? Bukankah aku masih bertahan di rumah ini sampai sekarang adalah karena Yesung? Jika dia tidak mencintaiku, bukankah aku harus segera lenyap dari sini, bukan?

Aku tida bisa menjawab pertanyaan Yesung yang satu ini.

“JAWAB AKU, YEONJOO-YA!!!”

“KALAU ITU BENAR LANTAS KAU MAU APA?!” aku balas berteriak.

Sedetik kemudian, kurasakan sesuatu yang keras menghantam pipi kiriku. Aku terdiam, hanya diam saja waktu dia menamparku. Air mata yang dari tadi berusaha aku tahan kini mengalir bebas menuruni pipiku. Ini sakit sekali… bukan hanya di fisik, melainkan juga pada hatiku. Rasanya seperti tertusuk benda tajam, sangat menyakitkan. Rasanya seperti ada sebongkah batu besar di dalamnya, rasanya sesak. Ingin sekali kupukul-pukul dadaku untuk menghilangkan sesak itu, namun tanganku tidak mengikuti instruksi. Semuanya terasa berat selama beberapa saat.

Telapak tangan kiriku terangkat ke pipi yang tadi ia tampar. Rasanya sangat perih, apalagi di sudut bibir. Aku yakin ada darah yang mengalir di sana. Aku meringis di tengah tangisku.

“Yeonjoo-ya, aku…” ujar Yesung dengan suara yang lembut.

“Jangan dekati aku!” larangku saat tahu Yesung berjalan ke arahku.

Aku menatapnya dengan nanar. Aku yakin jika dia tidak peduli pada sakit yang kurasakan. Aku yakin dia tidak akan peduli. Toh, bukankah tidak ada aku di hatinya? Buat apa ia susah-susah berkorban demi aku, memohon agar aku memaafkannya? Bodoh sekali.

“Yeonjoo-ya…” ia menatapku dengan tatapan sedih, menyesal, memohon, dan juga yang lainnya.

Aku berjalan mundur. Ketakutanku akan tamparan itu masih ada. Aku takut ia akan menamparku lagi, aku takut ia akan melakukan lebih dari sekedar tamparan.

“JANGAN MENYENTUHKU!” teriakku dan langsung berlari meninggalkan dia. Bisa kudengar ia berusaha memanggilku berkali-kali, tapi aku tidak peduli! Aku tidak ingin bertemu dengannya sekarang ini.

 

..TO BE CONTINUE..

Nah loh… udah baca FF ini kan? Silakan beri komentar nee…

3 Komentar (+add yours?)

  1. Nurhakiki Darmawan
    Des 01, 2013 @ 16:10:05

    bagus banget eon….boleh minta pass untuk yang kedua gak eon??

    Balas

    • vianpumpkins
      Des 18, 2013 @ 22:09:36

      silakan kirim pesan ke akun facebook ku atau mention di @vhian_cassie (follow juga yaa)
      aku akan kirim langsung password untuk ‘Way For Love’ part 2
      gamsahamnida udah baca…

      Balas

  2. yulisarah25
    Des 02, 2014 @ 21:15:49

    Annyeong^^ readers baru disini hehee saya suka ff ini terutama karna castnya juga hehehe
    Baru baca yg ini udah bikin penasaran kasian yeonjoo ditampar gitu sama yesung -_- btw boleh minta pw yg part 2 gak?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: