Fanfiction : Come In With The Rain


Title     : Coming With The Rain

Genre   : Romance, Angst, Hurt

Cast     : Girl, Lee Donghae

Length : Drabble

Aku nggak bakal banyak omong.

silakan nikmati tulisan yang aku buat. ^^

 

Aku menatap jendela dengan tatapan sendu.

Langit begitu gelap di luar sana. Pasti sebentar lagi akan turun hujan.

Kukeratkan selimut yang membungkus sebagian tubuhku ini, menghalau hawa dingin yang sejak tadi kurasakan. Kutundukkan kepalaku, aku merasa sangat berat.

Aku menatap jam kecil di meja dekat tepat tidur. Jam lima sore.

Ini sudah jam lima tapi dia masih belum menunjukkan batang hidungnya di hadapanku. Ia masih belum datang ke rumah ini untuk meminta maaf, untuk memohon ampunanku. Lee Donghae, tidak kusangka kau berbuat seperti itu.

 

Langkahku semakin kupercepat. Kubuka pintu rumahnya yang tidak pernah ia kunci itu, dan mendengar suara tawa yang familiar di telingaku. Suara tawa Lee Donghae.

Kakiku semakin cepat menapak lantai rumah ini, dan mengarahkan tubuhku ke ruang tengah tempat namja itu biasa bersantai.

“Hey! Kau itu sangat nakal, eoh?” suara Donghae. Ia sedang bicara dengan siapa?

“Donghae-ya, berhenti mencubit pipiku! Sangat sakit, kau tahu?”

Kali ini mataku membelalak lebar, yang barusan itu adalah suara yeoja. Donghae membawa yeoja masuk ke dalam rumahnya? Apa ia sudah gila?

“Lee Donghae? Aku di si…”

Ucapanku terputus saat menyaksikan hal itu di depan mataku.

Kukepalkan tanganku kuat-kuat, tiba-tiba saja aura di ruang tengah rumah ini diliputi warna merah. Segalanya sedikit kabur dan menyesakkan.

“APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN?!” teriakku dengan penuh emosi.

Donghae duduk di sofa dan yeoja itu berada di pangkuannya. Mereka saling mencubit pipi dengan mesra.

“Chagiya?” panggil Donghae padaku. Kuabaikan dia.

“Apa. Yang. Telah. Kalian. Lakukan. BARUSAN?!” tanyaku berusaha meredam emosi tapi tidak bisa. Kemarahanku sudah terlalu tinggi, mencapai puncak.

“Aku bisa menjela-“

“Aku tidak butuh penjelasanmu, Lee Donghae! Kau berkhianat, dan aku tahu benar hal itu!” potongku cepat.

“Ini tidak seperti yang kau-“

“DIAM! Sudah kubilang aku tidak butuh penjelasanmu!” potongku lagi sambil menutup kedua telingaku dengan tangan.

Bisa kurasakan benda bening mengalir di pipiku. Suara isakan kecil mulai terdengar dari mulutku.

“Chagi…” kali ini Donghae berdiri dari duduknya dan berjalan ke arahku.

“Tetap di sana, Lee Donghae! Jangan dekati aku!” tanganku kuulurkan ke depan berusaha memperingatkan Donghae untuk tidak mendekatiku.

Donghae menatapku dengan sendu. “Kau salah paham aku tidak-“

“JUST SHUT THE FUCK UP!” teriakku lagi. Kali ini suaraku terdengar bergetar karena tangis, “aku kecewa padamu, Lee Donghae. Jangan pernah menemuiku lagi setelah ini. We’re done!”

Segera kulangkahkan kakiku untuk menyingkir dari tempat nista ini. Tidak akan pernah aku kembali ke tempat ini, aku akan menyematkan tempat ini di daftar tempat paling menjijikkan seumur hidupku.

 

Itu adalah terakhir kali aku bertemu dengannya. Setelah kejadian itu, aku tidak pernah melihat Donghae.

Aku sempat meras tidak punya apapun lagi. Aku hanya sendiri karena orang yang paling kupercaya di dunia ini sudah berkhianat padaku. Sudah bermain di belakangku. Sudah menyimpan rahasia besar dan paling kubenci, menyembunyikannya agar aku tidak tahu. Sebegitu tidak diinginkannya kah aku di sini?

Aku membencinya. Aku benar-benar membencinya.

Aku tidak pernah membenci orang sebesar ini sebelumnya. Aku tidak pernah merasakan rasa marah sedahsyat ini pada orang lain.

Lee Donghae, kenapa nama itu menjadi obyek dengan akhiran kata ‘pertama’ dalam setiap hal dihidupku?

Dia cinta pertamaku.

Dia ciuman pertamaku.

Dia orang pertama yang mengajariku bagaimana menghadapi dunia.

Dia orang pertama yang mengelus pipiku dengan lembut.

Dia orang pertama yang memberiku tatapan berlumur cinta.

Dia… dia adalah salah satu orang yang menjadi alasan aku hidup hingga sekarang.

Tapi kini aku harus menelan pil pahit yang tidak bisa menyembuhkan penyakit apapun, bahkan sakit hatiku. Rasa remuk ini masih hinggap dan merusak perasaanku dengan pasti. Hampir tidak ada ruang untuk berpikir di otakku. Semua tempat di dalam pikiranku sudah terkontaminaso oleh Lee Donghae, Lee Donghae, dan Lee Donghae.

Argh! Apa yang harus kulakukan?

Dia sudah memiliki hatiku. Dia sudah mengambil hatiku yang hanya satu-satunya itu! Apa dia tidak mengerti bahwa aku sudah menitipkan segala hati dan perasaanku padanya? Jika aku tidak mendapatkan kembali hatiku, bagaimana aku bisa hidup?

Lee Donghae, ijinkan aku menghapus namamu dan segala histori tentang kau dan aku. Ijin aku melupakan itu semua agar aku bisa kembali membuka perasaanku. Aku tidak ingin terus terbaring dalam kubangan rasa sakit ini. aku juga ingin bebas.

Tapi bodohnya aku. Hingga saat ini aku masih tidak bisa melupakanmu. Aku masih saja mengharapkan kau datang ke rumahku ini dengan keringat mengucur, dengan napas yang terengah-engah, hanya untuk mendapatkan kata maaf dariku. Aku masih berharap kau terlihat olahku lewat jendela kamarku.

Pikiranku berkeliaran, menjelajahi imajinasi tertinggiku kini. Sebuah angan yang mustahil untuk menjadi kenyataan. Hanya khayalan dan mimpi yang membuatku merasa tetap tenang hingga saat ini.

Khayalanku melukiskan, Donghae berlari menembus hujan. Dengan baju basah kuyup, kau jatuh berlutut di depan halaman rumahku dan meneriakkan namaku agar aku keluar dari kamar. Meneriakkan kata maaf berulang kali dan memohon agar aku kembali padanya.

Setelah itu hatiku akan luluh dan keluar dari kamarku. Menemuinya dan menyuruhnya untuk berhenti berlutut. Aku akan memeluknya di tengah hujan, menjadikan tubuhku sama basahnya dengan dia.

Aku akan mengucapkan kata bahwa aku telah memaafkannya, lalu Donghae akan menundukkan kepalanya dan menciumku di tengah hujan. Romantis, bukan?

Aku bahkan tidak pernah membayangkan adegan se-romantis itu sebelumnya.

Kuhembuskan napasku dengan berat. Aku telah sepenuhnya kembali dari alam khayalanku. Aku sudah kembali menjadi diriku yang nyata. Kembali menjadi AKU yang telah BERPISAH dengan namja bernama Lee Donghae. Namja yang tidak akan pernah bersamaku lagi. Namja yang pernah memberiku kebahagiaan lebih banyak daripada orang lain.

Mungkin ini yang dinamakan hukum alam. Setiap manusia memiliki porsi kebahagiaan yang sama. Dan hingga kini aku sudah mendapatkan kebahagiaanku lebih cepat, jadi aku juga akan kehilangan rasa bahagia itu lebih cepat pula. Hidup dengan hal yang dinamakan KESEPIAN.

Lee Donghae, seharusnya kau sadar bahwa tidak ada orang lain yang lebih mencintaimu dibandingkan denganku. Aku tulus menyayangimu, aku tidak mengharapkan apapun darimu selain ketulusan dan kesetiaan. Tapi rupanya aku akan menjadi seorang yang gagal. Benar, orang yang telah gagal mempertahankan hubungan yang sudah dijalin selama beberapa tahun. Kembali menjadi orang yang seolah tidak berguna, sampah masyarakat yang dihimbau untuk dimusnahkan.

“We’re done.” Bisikku lagi, kali ini dengan beberapa tetes benda bening mengalir mulus di pipiku.

Suaraku terdengar lebih serak, dan napasku rasanya tersangkut sesuatu. Kini rasanya seperti ada sebongkah batu besar dalam dadaku, rasanya begitu menyesakkan, hingga aku begitu ingin membongkar dadaku untuk mengeluarkan bongkahan batu besar itu. Agar aku terbebas dari yang namanya rasa sakit. Agar aku bisa menyingkar namja bernama Lee Donghae itu dengan mudah. Agar aku kembali menjadi diriku yang dulu. Diriku sebelum bertemu dengan Donghae.

Hujan turun lagi, kini jauh lebih deras. Aku ingin menghambur ke dalam rinai hujan, membasahi tubuhku dnegan sejuknya air yang jatuh dari awan gelap. Menenggelamkan rasa sakitku ini secara cepat. Membantuku untuk bangkit dari keterpurukan ini.

Lee Donghae, kau adalah kelemahanku.

 

……….. THE END………

Give comments please ^^

2 Komentar (+add yours?)

  1. PS Siskarani
    Feb 04, 2013 @ 14:00:55

    hei this is the first time I visit your blog
    and this is the first story I read

    pilihan katanya bagus
    kalimatnya juga rapi
    love it
    keep writing🙂

    Balas

  2. vianpumpkins
    Feb 04, 2013 @ 17:50:22

    thanks for reading…😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: