Fanfiction : Midnight Winter (1/2)


Judul                     : Midnight Winter (1/2)
Author                 : VhianPumpkins
Main Cast           : Kyuhyun, Jung Yoonji (OC)
Genre                  : Romance, Fantasy
Rating                  : PG 13
 Author Notes    : Saengil Chukkahamnida buat Kyuhyun… yee… akhirnya bias kedua-ku ini udah gede juga *plaakk*. Readers, silakan nikmati tulisan yang aku buat ini… give comment please… ^^ FF ini real dari pemikiranku sendiri, No Bash, No Silent Readers, No Copy Without Permission, No Plagiat, dan yg paling penting… No KACANG! LoL…

Curhat dikit nih… FF ini sebenarnya buat lomba ultahnya Kyuhyun… tapi gara2 salah pengirimannya (Salah masukin alamat email) jadi di-diskualifikasi dehh😥

 

Recommended Song : Suju KRY – Stop Walking By, Kyuhyun – late autumn

Happy Reading ^^

 

JUNG YOONJI POV

 

Aku masih berdiri di depan kafe yang sudah  tutup ini. Masih setia menanti kedatangan sepupuku, Park Myuri untuk datang menjemputku. Yahh, walaupun jika dia datang aku akan langsung menelannya hidup-hidup karena telah membuatku lama menunggu. Bayangkan saja, aku harus berdiri di depan cafe ini selama 3 jam! Sekarang sudah mendekati tengah malam dan aku mulai merasa takut. Sial, Myuri tega sekali menyiksaku di tengah malam bersalju seperti ini.

Aku sudah berkali-kali menelponnya untuk memastikan kehadirannya. Tapi karena terlalu sering menelponnya tadi, ponselku mati kehabisan daya. Di sini juga tidak ada taksi atau orang yang bisa dimintai bantuan. Aku merutuki diriku sendiri. Kenapa aku malah menolak tumpangan Leeteuk Oppa tadi sewaktu pulang dari kantor? Jika aku menerima ajakannya, tentu saat ini aku akan berada di rumahku yang hangat, tidur di balik selimut tebal milikku sambil menyesap cokelat panas.

Aku meneguk liurku susah payah. Benar, aku memang pabo. Bagaimana mungkin aku bisa tidak memakai sarung tangan saat keluar rumah. Inilah salah satu sikap cerobohku. Kini aku hanya bias menggosok-gosok kedua telapak tanganku―yang rasanya sudah membeku―agar tetap hangat. Aish, aku benar-benar membenci musim dingin, apalagi salju ini.

“Apa yang sedang kaulakukan di sini?” suara berat dan sedikit serak mengejutkanku. Suara namja. Aku menoleh dan mendapati seorang namja yang tinggi tengah berdiri di sampingku. Aneh, sejak kapan dia ada di sebelahku? Atau jangan-jangan karena saking kesalnya aku hingga aku tidak sadar jika ada orang lain di sekitarku? Ahh,Yoonji-ya , neomu paboya!, rutukku dalam hati.

Aku masih belum menjawab pertanyaan namja ini karena masih sibuk dengn pikiranku. Hingga akhirnya dia menanyakannya sekali lagi.

“Eoh?” tanyanya lagi tanpa memandangku, tatapannya tetap tertuju pada pemandangan di depannya. Aku mengerjap terkejut. Sejurus kemudian aku benar-benar menatapnya.

“A-aku sedang menunggu seseorang.” Jawabku dengan suara pelan. Mana berani aku berkata blak-blakan pada orang yang belum kukenal? Walaupun seperti ini, aku juga seorang yeoja yang penuh waspada.

“Tengah malam begini?” namja itu terus bertanya seolah seperti seorang polisi yang sedang menginterogasi seorang pencuri. Setiap kata penuh penekanan walaupu ekspresinya tampak santai. Siapa sebenarnya namja ini?

“Eum, sepertinya dia sedang ada sedikit masalah di jalan. Mungkin dia akan terlambat.” Aku kali ini berargumen walaupun tidak terdengar meyakinkan. Aku yakin jika sebentar lagi aku akan mati kutu karena begitu canggung dengan orang ini.

Aku memandang namja di sebelahku sekali lagi. Dia memakai sweater abu-abu tebal. Wajahnya sedikit tertutup oleh syal tebal yang panjang sampai menutupi setengah wajahnya, sedangkan kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku sweaternya. Keren juga gayanya, pikirku dalam hati.

“Kau berani sekali. Maksudku, tidak seharusnya yeoja seorang berkeliaran di sekitar kawasan ini saat tengah malam. Biasanya ada preman yang melewati jalan ini. Sangat berbahaya, apalagi kau itu yang sangat manis.” Namja ini menasehatiku atau berniat menggodaku? Bisa kurasakan kedua pipiku―yang memerah karena udara dingin―menjadi bertambah merah. Bisa kubayangkan wajahku yang sudah seperti kepiting rebus begitu namja ini menyebutku manis.

Well―”Kuanggap itu sebuah pujian.” Jawabku singkat berusaha menyembunyikan rona pipiku. Aku mendengar suara tawa yang pelan. Kurasa namja itu baru saja menertawakan tingkahku yang aneh. Aku tidak begitu memerhatikannya.

Namja ini menurunkan kerah yang dari tadi menutupi wajahnya―yang asumsiku―berwarna putih susu itu. Kali ini aku bisa melihat dengan jelas wajahnya itu. Tampan. Hanya itu yang bias kupikirkan waktu pertama kali melihat wajahnya yang seperti berbinar itu. Dengan cengiran yang khas, dia tersenyum memamerkan bibirnya yang menawan itu. Aish, ada apa dengan jantungku ini? Kenapa berdetak cepat sekali?

Sepi sesaat. Tidak ada yang memulai untuk berbicara. Aigoo, sejak kapan aku menjadi pendiam begini? Biasanya meskipun dengan orang asing, aku akan dengan mudah bergaul dengan orang itu. Tapi kenapa kali ini aku menjadi salah tingkah? Ada apa denganku?

Namja itu berdeham-deham sejenak, membersihkan tenggorokannya. “kita belum berkenalan.” Dia mengulurkan tangan kanannya ke arahku. “Naneun Cho Khyun imnida.”

Aku menjabat tangannya dengan ragu. “J-Jung Yoonji imnida. Manasseo bangapseumnida.” Kataku se-formal mungkin. Kulihat Kyuhyun mengerutkan kening menatap tanganku.

“Kau tidak memakai sarung tangan.” Dia mengingatkanku. “Kau tidak membawanya?” tanyanya lagi. Kubalas dengan anggukan ringan. Aku memang tidak pernah―jarang―memakai sarung tangan. Bagiku benda bernama sarung tangan adalah benda paling merepotkan di dunia. Harus membawanya tapi terkadang tidak digunakan sama sekali. Tapi untuk kali ini saja, aku menyesal tidak membawanya bersamaku.

“Apa kau benar-benar kedinginan, Yoonji-ssi?” Kyuhyun sebenarnya menanyakan hal yang sia-sia menurutku. Tidak ada gunanya menanyakan hal bodoh jika matamu sendiri bisa melihat itu semua dengan jelas. Aku menghela napas pelan kemudian mengangguk singkat. Entah mengapa aku jadi kehilangan keberanian untuk mengucapkan bahkan seucap kata sekalipun.

“Sini, kita berbagi sarung tangan. Wajahmu itu sudah sangat pucat, Yoonji-ssi.”katanya penuh perhatian. Apa? Perhatian? Apa aku tidak salah lihat? Dia menarik tangan kananku dan memasangkan sarung tangan sebelah kanannya ke tangan kiriku. Rasanya hangat. Benar-benar hangat.

“Apa ini tidak apa-apa? Maksudku, kau tidak kedinginan atau apa?” tanyaku dengan suara yang sedikit meninggi. Entahlah, aku merasa sangat dihargai olehnya. Baru kali ini ada seorang namja yang begitu memerhatikanku bahkan sampai begitu detail. Aku menghargai itu.

Menjawab pertanyaanku, dia mengangguk sambil tersenyum lebar. Ahh, senyum itu muncul lagi. Aku ikut tersenyum dengan tulus.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat menerpa tangan kiriku. Aku menoleh dan menyadari bahwa tangan kiriku ini tengah digenggam oleh Kyuhyun. Aku menatap namja ini dengan tatapan bingung.

“Aku tahu tangan kirimu itu juga kedinginan, jadi lebih baik jika seperti ini, bukan?” tanyanya dengan sedikit tertawa.

Mau tidak mau aku tertawa juga. Aku merasakan tangannya yang hangat itu di tangan kiriku, mentransfer energi panas pada tangan yang tadinya nyaris membeku ini. Seharusnya aku mengucapkan terimakasih padanya.

Kami lama terdiam, sama-sama saling menatap salju yang sedang turun. Ahh, baru kali ini aku merasa salju adalah hal bagus, setidaknya saljulah yang menahanku di sini. Mungkin sebelumnya aku sangat membenci salju. Karena hujan salju, aku batal melakukan aktivitasku di luar rumah. Dan karena hujan salju pula, pesta ulang tahunku yang ke sebelas beberapa tahun lalu dibatalkan. Aku heran, ini sudah bulan Februari, sudah mendekati musim semi, tapi kenapa masih ada salju di sini?

“Kau tidak suka salju, ya?” suara Kyuhyun membuyarkan lamunanku.

Aku menoleh, menatap mata foxy-nya itu kemudian menggeleng pelan.

“Sejak dulu aku tidak menyukai salju.” Jawabku singkat.

Ia memutar tubuhnya menghadap ke arahku. Sepertinya tertarik dengan argumenku.

“Kenapa?”

Aku diam sejenak, mencoba mencerna pertanyaannya. “Karena salju itu tidak bagus, aku terpaksa harus membatalkan beberapa kegiatan pentingku hanya karena hujan salju.”

Aku dikejutkan oleh perubahan ekspresi Kyuhyun yang mendadak menjadi serius. “Tidak selamanya salju itu merugikan, Yoonji-ya… eum, maaf, boleh kupanggil kau Yoonji-ya?” Kyuhyun meminta ijin.

“Tidak apa-apa.”

Dia berdeham sejenak, kemudian melanjutkan ucapannya. “Yoonji-ya, salju itu tidak selama merugikan. Ada kalanya salju itu menjadi hal paling menyenangkan yang pernah ada.” Ujar Kyuhyun masih dengan senyum yang sama, senyum ketulusan.

“Menyenangkan? Maksudnya?” aku kebingungan, kerutan bingung mulai muncul di keningku.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya menjadi lurus ke depan, menghadap salju yang kini mulai bertambah lebat. Ada rasa bahagia saat Kyuhyun menatap salju, seperti wajah anak-anak saat mendapatkan mainan baru yang mereka inginkan. Kebahagiaan dan kedamaian tercetak kuat di wajahnya.

“Bisa kau bayangkan.. Natal tanpa salju?” tanyanya kemudian.

Aku tidak bisa mencerna pertanyaannya. “Eoh?”

“Apa kau bisa membayangkan jika saat hari Natal tiba, salju tidak turun seperti biasanya?” ulangnya lagi.

Jujur aku tidak bisa menjawabnya. Aku benar-benar mengerti jika Natal tanpa turun salju, maka Natal akan terasa hambar. Seperti saat pesta ulang tahun tanpa balon, maka tidak akan sempurna.

“Tidak, itu buruk.” Jawabku singkat sambil menatap tanah.

Ia kembali menghadap ke arahku. “Jadi, kini tidak ada alasan kau masih membenci salju. Bukankah Natal adalah saat yang paling kau sukai, Yoonji-ya?”

Aku otomatis mendongak. “Bagaimana kau bisa tahu kalau Natal adalah saat yang kusukai?” tanyaku penasaran.

“Kau tidak sulit ditebak.” Jawabnya sambil terus tersenyum.

Aku bisa merasakan pipiku memanas seketika. Aku yakin bahwa warna wajahku tidak lagi pucat, tapi sudah merah merona. Jantungku juga kini bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya. Tunggu, apa aku sedang jatuh cinta?

“Kau mau merasakan salju?” suara Kyuhyun sedikit membuatku tersentak kaget.

Aku mengerutkan keningku, kemudian kubalas pertanyaannya dengan anggukan kepala.

Kulangkahkan kakiku untuk sedikit lebih maju, kemudian kutangkap beberapa salju yang jatuh dan memperlihatkan itu padanya.

“Seperti ini?” tanyaku.

Dia menggeleng. “Bukan dengan tanganmu, tapi dengan lidahmu.”

Mataku membulat. “Mwo?”

Kini senyumnya menampilkan sederet giginya yang putih dan rapi. “Biar kutunjukkan bagaimana caranya.”

Ia maju selangkah menjadi sejajar kembali denganku, masih dengan tangan yang saling menggenggam. Ia kemudian menjulurkan lidahnya ke udara hingga ada beberapa butir salju yang jatuh di atas lidahnya. Lalu ia menelan butiran salju itu seperti menelan nasi.

“Hmm, mashitta.” Gumamnya pelan sambil memejamkan mata.

Eh? Enak? Salju itu enak? Bagaimana bisa?

“Cobalah, Yoonji-ya. Ini benar-benar enak.”

Aku mencoba melakukan hal yang sama dengan Kyuhyun, dan menyadari kebenarannya.

Salju ini benar-benar enak. Aku seperti sedang makan es krim tapi ukuran super mini. Dengan sensasi sejuk ada di dalam mulutku, rasanya menarik, sangat menarik.

“Bagaimana?” Kyuhyun bertanya.

Aku mengacungkan jempol tangan kananku padanya. “Mashitta. Neomu mashitta!” ucapku dengan semangat.

“Baguslah kalau begitu.” Gumamnya.

Aku tersenyum kemudian ikut berteduh kembali ke depan café itu. Debaran di jantungku masih terasa, bahkan kini bertambah keras.

“Mau kuceritakan sesuatu?”

Aku tertarik. “Cerita tentang apa?”

“Ini kisah nyata. Kau tahu Gyeoureun Namja?”

“Hah? Apa itu?” tanyaku penasaran.

Gyeoureun Namja adalah seorang pria yang sangat menyukai salju. Saking cintanya dengan yang namanya salju, setiap hari ia selalu menulis puisi dan surat tentang salju, lalu menyelipkan surat itu di sela-sela dahan di pohon depan café ini.” ia menunjuk sebuah pohon yang cukup tinggi di depan café. Samar-samar aku bisa melihat secarik kertas terselip di dahannya.

“Dia sangat baik, dia bahkan selalu menemani orang-orang yang tidak bisa pulang ke rumah karena hujan salju di sekitar tempat ini. Ya, sepertimu itu.”

Mataku menerawang. “Benarkah? Lalu di mana dia? Kenapa malah kau yang muncul?”

“Sepertinya malam ini ia tidak akan datang.”

“Kenapa?”

“Perlu kau tahu, Yoonji-yaGyeoureun Namja itu sudah meninggal dua tahun lalu.”

Mataku langsung membulat seketika. “Mwo? Meninggal?”

Kyuhyun mengangguk kalem. “Dia sudah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan mobil saat menyebrang di jalan itu.” Ia menunjuk jalan di depan café ini.

Aku menelan ludahku susah payah. Ternyata orang yang sangat mengagumkan seperti itu sudah meninggal. Padahal, aku ingin sekali bertemu dengannya, mengatakan bahwa kini aku sudah tidak benci lagi dengan yang namanya salju. Tapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Gyeoureun Namja sudah tiada.

Satu jari mengangkat lembut daguku, memaksa wajahku untuk menatap wajah malaikatnya. Aku member tatapan bertanya.

“Kau ingin bertemu dengannya?” tebak Kyuhyun dengan yakin.

“Kau tahu? Bagaimana bisa?”

Ia kembali terkekeh. “Sudah kubilang, kau itu tidak sulit ditebak.” Ia memamerkan senyum tulusnya itu padaku, membuat segurat senyum tipis muncul di wajahku.

“Kau bisa bertemu dengannya.” Ujar Kyuhyun kemudian.

“Hm? Bagaimana?” aku bertanya penasaran.

Ia tersenyum, kemudian menarikku untuk menjauh dari tempat kami berteduh, menembus derasnya hujan salju, lalu mendekat ke arah pohon di depan café ini.

“Kau bisa membaca surat itu. Itu adalah tulisan dari Gyeoureun Namja. Setiap hari ia menulis dan menyelipkannya di sela-sela dahan itu.” Jelasnya kemudian.

Mwo? Tadi kau bilang bahwa dia sudah meninggal, tapi bagaimana bisa ia menulis surat itu…” belum sempat aku melanjutkan ucapanku, Kyuhyun sudah memotongnya.

“Itu adalah misteri di sini. Tidak ada yang tahu darimana asal kertas itu. Dan perlu diketahui bahwa setiap hari kertas surat itu akan berganti warna.” Kyuhyun menjelaskan lagi.

Aku menatap kertas di depanku dengan tatapan kosong, tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin mengambil dan membacanya, tapi ada sedikit rasa takut saat memikirkannya. Entahlah, mungkin karena aku tahu bahwa si penulis surat adalah orang yang sudah meninggal. Siapa yang tidak takut?

“Kau ingin membacanya? Ambil dan baca saja.” dia mengijinkan.

Aku menggeleng pelan, tatapanku masih belum teralihkan dari kertas surat itu. “Tapi, bagaimana kalau…”

“Tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah padaku.” Dia mengeratkan genggaman tangannya.

Percayalah padaku.

Satu kalimat yang membuatku langsung percaya padanya.

 

……………To Be Continue…………….

4 Komentar (+add yours?)

  1. Eva qistiana amanatillah
    Sep 13, 2013 @ 13:27:10

    Annyeong^^
    naneun eva qistiana amanatillah imnida, aku reader baru di sini..
    Oiya, kok part II nya di password? Boleh tau gak, password nya apa?

    Balas

    • vianpumpkins
      Okt 30, 2013 @ 13:03:39

      maaf aku baru bales skarang… /\
      salam kenal eva… slamat datang di blog ku yg simple ini..
      oya, untuk part 2 dari Midnight Winter aku protect karena… ya, aku juga lupa knapa #jiah.

      oke, kalo mau password ff ku yg itu, kamu komen nama facebook mu di sini, aku akan segera ngirim passwordnya.

      makasih udah baca yaa…😀😀😀

      Balas

  2. HyeraLee
    Jul 17, 2014 @ 11:44:35

    Aku curiga ma kyuppa.. jgn2 gyeoureun namja yg dia mksd itu adlh dia.. pnasaran bgt.. btw kok part 2’y d protect sih.. boleh minta password’y ga?..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: