Fanfiction : A Butterfly


FF-Hankyung's Birthday

 

Judul                     : A Butterfly
Author                  : VhianPumpkins
Main Cast             : Hangeng/Hankyung, Lee Yeonju
Genre                    : Romance, Tragedy, Fantasy
Rating                   : PG-15


Author Notes / AN : Happy Birthday Our GeGe… ^^, I wish you’ll be back again…
FF ini spesial buat Ultahnya Hangeng Oppa… Smoga suka yaa… ^^ No Copy, No Plagiat, dan yg terpenting No PEANUT.. Peanut is expensive -_-

 

Happy Reading….^^

 

_____________________

I cannot stand each of the days without you

I love you, it will not change

I’ll love you till eternity

 

_____________________

 

Hangeng bangun lebih awal pagi ini. Dengan suara yang masih mengantuk, ia membangunkan istrinya yang terlihat masih terlelap.

 

“Yeonju-ya, bangunlah. Ini sudah siang.” Hangeng menggoyangkan pundak seseorang di sebelahnya dengan perlahan. Setelah istrinya terlihat membuka mata, Hangeng mengukir seulas senyum untuknya.

 

“Kau tidak terlihat baik pagi ini, apa kau sakit, Yeonju-ya?” Hangeng meletakan punggung tangannya di kening Yeonju, mengukur suhu badan istrinya.

 

“Kau demam. Hari ini jangan keluar rumah, ne?” Hangeng menasehati. Ia lalu mengecup pipi orang di sampingnya itu.

 

“Hari ini aku saja yang memasak sarapan. Kau tidak boleh ke mana-mana. Tunggulah saja di kamar.” Hangeng mengelus rambut Yeonju sekali lalu berjalan pelan keluar kamar.

 

 

____________________

 

 

Dengan telanten, Hangeng memasakkan pancake untuk sarapan pagi ini. Beberapa potong pancake ia taruh di piring berwarna putih bersih yang tampak mewah, itu untuk Yeonju yang sedang sakit di kamar. Hangeng mengambil satu piring putih lain untuk dirinya sendiri.

 

“Selesai!” ucapnya dengan gembira.

 

Ia mendongakkan kepalanya menatap tangga menuju lantai dua. Terkejut dengan apa yang ia lihat.

 

“Hey! Sudah kubilang jangan keluar kamar, kau ini nakal ya?” Hangeng kemudian berjalan ke arah Yeonju dan memeluk pinggangnya

 

“Karena kau sudah terlanjur di sini, maka lebih baik kita sarapan di meja makan saja. Ayo.” Hangeng menarik pelan tangan Yeonju menuju ke ruang makan. Ia menarikkan kursi untuk Yeonju.

 

“Tunggu sebentar, aku akan membawakan sarapan kita.” Pria ini kemudian berlari kembali menuju meja dapur untuk mengambil dua piring pancake tadi.

 

Hangeng sudah kembali dengan dua buah piring di masing-masing tangannya. Ia menaruh satu piring di hadapan Yeonju, kemudian piring lainnya untuk diri sendiri. Hangeng menuangkan segelas susu untuk Yeonju.

 

“Kau harus makan yang banyak, Yeonju. Aku tidak ingin kau sakit lagi. Jangan lupa minum susu ini, ya?” Hangeng memamerkan senyumnya yang mempesona itu ke Yeonju.

 

Setelah ia lihat gadisnya ini mengangguk, ia mulai memakan pancake-nya. Sambil sesekali melirik Yeonju dan tersenyum pada yeoja ini.

 

 

_________________________

 

 

“Yeonju pasti akan menyukai ini.” gumam Hangeng semangat.

 

Di tangannya, ia menggenggam kantung yang berisi hadiah untuk Yeonju. Sebentar lagi ia akan sampai rumah dan bertemu lagi dengan gadisnya. Setelah seharian ini ia sibuk bekerja sebagai seorang CEO, ia akhirnya bisa pulang ke rumah dengan Yeonju di dalamnya.

 

Dia membunyikan bel rumahnya, tapi orang yang ada di dalam rumah tidak juga membukakan pintu.

 

“Yeonju-ya? Kau ada di dalam?” Hangeng mencoba mengetuk pintu, berharap gadis itu mendengarnya dan membukakan pintu itu untuknya.

 

“Yeonju? Tolong buka pintunya.” Hangeng mulai khawatir.

 

Karena tidak ada tanda-tanda Yeonju membukakan pintu, Hangeng menggunakan kunci cadangan. Ia sebenarnya tidak akan menggunakan kunci cadangan itu seandainya ia tidak khawatir pada keadaan gadisnya.

 

Dengan secepat kilat ia memutar kenop pintu setelah pintunya tidak lagi terkunci. Buru-buru Hangeng menaiki tangga menuju ke kamarnya dan Yeonju.

 

“Yeonju-ya!” teriaknya sambil membuka pintu.

 

Ia kemudian menghembuskan napas lega, Yeonju masih di sini. Gadis ini kini sedang tertidur pulas dengan selimut tebal membungkus tubuhnya seperti burrito. Hangeng tersenyum, lalu berjalan pelan tanpa suara mendekati tempat tidur. Ia letakkan punggung tangannya di kening Yeonju.

 

Hangeng mengulas senyum tipis begitu tahu istrinya ini tidak demam lagi. Sudah tidak ada lagi bibir pucat serta mata sayu karena sakit. Kini Hangeng bisa sedikit bernapas lega.

 

“Yeonju-ya, bangunlah. Aku membawakanmu sesuatu.” Dengan lembut Hangeng membangunkan istrinya.

 

Yeonju menggeliat, lalu kelopak matanya terlihat bergetar sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Hangeng kembali tersenyum pada satu-satunya yeoja yang ia cintai ini.

 

“Aku membawakanmu hadiah.” Kata Hangeng sambil berusaha menunjukkan bingkisan yang ia bawa sepulang kerja tadi.

 

“Kau penasaran, Yeonju-ya?” Tanya Hangeng, tangan namja ini bergerak untuk membuka bingkisan setelah sebelumnya ia taruh di sisi lain tempat tidur.

 

Yeonju tidak menjawab, ia hanya bangkit dari tidur untuk duduk dan menghadap ke Hangeng.

 

“Baiklah, aku akan membukanya. Ini dia… Tadaa…” Hangeng mengeluarkan hadiahnya dari dalam bingkisan. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk kupu warna biru. Sayap lebar kupu itu terlihat sempurna, dengan bintik-bintik putih di ujung sayap serta gradasi warna biru sebagai warna dominan pada kupu ini.

 

“Kau suka, bukan? Aku akan memakaikannya di lehermu.” Hangeng mengambil kalung itu dari kotak lalu menyematkannya pada Yeonju. Kalung itu tampak sangat pas dipasang di leher mulus Yeonju. Warna biru dari sayap kupu itu menyatu sempurna dengan warna gaun tidur yang Yeonju gunakan saat ini.

 

Polyommatus bellargus,” gumam Hangeng, “menurutku Adonis Blue sangat cocok untukmu. Aku tahu kau sangat menyukai Danaus plexippus, tapi kurasa Adonis Blue lebih bagus jika kau memakainya, Yeonju-ya.” Senyum Hangeng mengembang saat ia melihat Yeonju menyentuh bandul kalung itu, senyum gadis ini terukir tipis.

 

“Kau tahu, aku sangat ingin kita pergi ke museum itu lagi. Rasanya sudah bertahun-tahun kita berdua tidak ke sana. Aku ingin melihat Papilio polymnestor. Aku begitu suka kupu itu.” Tatapan Hangeng terlihat menerawang, membayangkan kembali kenangan dia bersama Yeonju pergi ke museum kupu di pinggir kota.

 

“Yeonju-ya, aku membelikanmu ini.” Hangeng membuka kembali bingkisan itu dan memperlihatkan baju berwarna putih dengan corak Morpho Rhetenor helena, kupu cantik berwarna biru dengan garis putih di sayap bagian dalam. Salah satu kupu favorite Yeonju.

 

“Aku ingin kau memakainya, bisa bukan?” Tanya Hangeng memastikan. Lalu namja ini tersenyum saat melihat anggukan kepala Yeonju.

 

“Aku akan memasakkan makan malam, turunlah ke bawah jika kau sudah selesai memakainya.” Hangeng beranjak mendekatkan wajahnya ke Yeonju dan mengecup pipi gadis ini dengan lembut. Setelah itu ia berjalan ke luar kamar dan menuju dapur untuk memasakkan makan malam.

 

 

……………………………….

 

 

Makan malam telah usai, dan Hangeng kini terlihat sedang membersihkan meja makan serta mencuci piring. Yeonju sudah kembali ke kamar untuk istirahat. Hangeng merasa cemas karena wajah pucat Yeonju. Yeoja itu terlihat sangat tidak bersemangat hari ini, dan yang pasti Hangeng harus bersedia menghibur yeoja itu.

 

Hangeng kembali menghela napas lelah, tatapannya tertuju pada piring warna biru tua di hadapan kursi Yeonju. Steak dan beberapa potong kentang goreng masih terlihat utuh di atasnya. Itu berarti Yeonju  sama sekali tidak menyentuh makanannya.

 

Ini sudah menjadi rutinitas bagi Hangeng untuk membuang setiap makanan yang seharusnya sudah masuk ke dalam perut Yeonju. Makanan yang sama sekali tidak pernah Yeonju makan. Ia mengetahui bahwa sebenarnya tidak ada gunanya memasak untuk dua orang sedangkan kau akan membuang satu diantaranya. Tapi Hangeng ingin hidup seperti orang lain, ia begitu ingin bersama dengan orang yang Hangeng cintai.

 

“Yeonju-ya…”

 

 

_______________________

 

 

Hangeng sedang berada di ruang kerjanya di rumah, ia begitu sibuk akhir-akhir ini. Ada beberapa berkas yang harus ia tanda tangani sesegera mungkin. Ia sedang lembur. Pada awalnya ia berniat ingin menyelesaikan pekerjaannya di kantor pusat, tapi Hangeng tidak ingin meninggalkan Yeonju sendirian. Ia sangat tahu bahwa gadisnya ini akan sangat ketakutan jika terbangun tengah malam dan sendirian, Hangeng sangat tahu Yeonju membenci hal itu.

 

Ia harus menyelesaikan pekerjaan ini secepatnya, agar dirinya bisa kembali ke kamar untuk menjaga Yeonju. Sekilas diliriknya calendar meja kecil di dekat tumpukan berkasnya. Besok, tanggal 9 Februari 2013, ia harus pergi ke Busan untuk melakukan kerja sama dengan Choi Corp. Dan itu berarti Yeonju akan sendirian di rumah.

 

“Yeonju pasti akan marah jika aku pergi ke Busan tanpa dia.” Hangeng bergumam.

 

Hangeng beralih memikirkan Yeonju, gadis yang selama dua tahun ini menjadi istrinya. Walaupun pernikahan mereka belum juga dikaruniai anak, tapi mereka tampak bahagia setiap saat. Hangeng begitu mencintai Yeonju dengan tulus. Bahkan hingga saat ini, saat kenyataan berbanding terbalik dengan harapannya.

 

Yeonju adalah gadis pertama yang menarik perhatian Hangeng saat pertama kali pindah SMA dari Beijing. Hangeng selalu ingat dengan penampilan Yeonju saat itu, seragam rapi dan rambut panjang dikuncir kuda dengan jepit berbentuk kupu Danaus plexippus. Salah satu hal yang menarik perhatian Hangeng terhadap Yeonju selain wajah cantik dan kebaikannya adalah, mereka sama-sama menyukai binatang bersayap indah ini.

 

Monarch Butterfly adalah hal yang tidak bisa lepas dari diri Yeonju. Kupu dengan nama latin Danaus plexippus ini memang sangat disukai oleh Yeonju. Kupu dengan warna sayap dominan coklat muda, garis-garis hitam yang beraturan, serta bintik putih di sepanjang tepi sayap. Lebar sayapnya memang menjadi hal unik tersendiri bagi Yeonju.

 

Sedangkan Hangeng lebih menyukai kupu dengan nama latin Papilio polymnestor yaitu Blue Mormon. Sayap super lebar berwarna gelap pada bagian atas dan biru mudah di bagian bawah, sangat menakjubkan untuk dilihat. Bintik gelap di bagian bawah sayap membentuk motif yang unik dan menarik bagi Hangeng.

 

Memang jarang ada namja yang menyukai kupu, tapi Hangeng tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya, kupu adalah sesuatu yang membantu Hangeng untuk menemukan cinta sejatinya yaitu Yeonju.

 

Hangeng menghembuskan napas letih, menatap begitu banyak map yang belum ia lihat isinya. Tapi mendadak matanya tertuju pada tumpukan Koran bekas di ujung ruangan. Koran bekas yang sebagian besar memuat berita tahun 2011.

 

Karena penasaran, Hangeng mengambil satu bundle Koran secara acak lalu mulai membaca headline-nya.

 

Selang beberapa detik kemudian, Koran itu terjatuh ke lantai. Tangan Hangeng yang tadi menggenggam kuat Koran itu, kini terlihat bergetar. Wajahnya langsung pucat seketika. Air mata sudah membasahi kedua pipinya dengan deras.

 

 

TABRAKAN beruntun yang terjadi di sekitar Gwangju menyebabkan satu korban meninggal. Lee Yeonju (23) tewas di lokasi kejadian dengan luka parah pada bagian dada. Lee Yeonju sempat menyelamatkan seorang gadis bernama Park Mira (5) dari tabrakan itu, tapi tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Perlu diketahui bahwa Lee Yeonju baru saja mengadakan pernikahannya dua minggu lalu dengan pengusaha kenamaan Korea, Tan Hangeng. – (lanjutkan membaca hal. 43)

 

 

Hangeng menundukkan kepalanya, diam dalam tangis. Ia tidak bisa lagi berpura-pura masih memiliki Yeonju dalam hidupnya. Semua sandiwara yang namja ini lakukan tidak bisa meredam kenyataan bahwa yeoja yang sangat dicintanya sudah pergi dari muka bumi ini. Pergi untuk selamanya dari sisi Hangeng.

 

“Kenapa aku harus bertingkah begitu bodoh?! Aku telah membohongi diriku sendiri! Aku tidak bisa hidup tanpa Yeonju! Apa yang harus kulakukan?!” Hangeng berteriak frustasi. Ia mencengkeram rambutnya sendiri kuat-kuat, mengalirkan rasa frustasi yang sudah lama berkubang dalam pikiran Hangeng.

 

Hangeng memutuskan untuk memasuki kamar, mengecek keadaan Yeonju. Ia ingin memastikan bahwa segalanya memang nyata, dalam arti seperti yang ia harapkan.

 

“Yeonju-ya?” panggil Hangeng sambil membuka pintu kamarnya.

 

Hangeng mengedarkan pandangannya ke seluruh pelosok kamar, berusaha menemukan sosok Yeonju yang biasanya selalu berada di sana. Tapi tidak ada siapapun di kamar itu. Hanya Hangeng. Hanya namja ini yang sedang menatap baju berwarna putih bercorak kupu Morpho Rhetenor helena, baju yang menjadi hadiah untuk Yeonju.

 

“Yeonju…” bisik Hangeng dengan suara lemah.

 

Setetes air mata kembali jatuh. Dalam hatinya, Hangeng tidak bisa menerima kepergian Yeonju. Ia… sangat mencintai yeoja ini, bahkan selama dua tahun ini Hangeng membohongi dirinya sendiri bahwa Yeonju masih hidup. Dia berpura-pura Yeonju masih berada di rumahnya dan tetap menjadi istrinya yang paling ia cintai. Yeonju masih bisa tersenyum lembut padanya, tapi tidak pernah mengeluarkan suara apapun.

 

Dengan perlahan, Hangeng melangkahkan kakinya ke tempat tidur. Lalu ia rebahkan tubuh lemahnya di atas tumpukan kasur super empuk itu. Didekapnya baju kupu Morpho Rhetenor helena dengan erat, enggan melepaskannya, seolah itu adalah diri Yeonju sendiri, seolah itu adalah tubuh dari orang yang selama ini hidup di hatinya, seolah dengan memeluk benda itu ia bisa merasakan kehadiran Yeonju di sisinya.

 

Hangeng meraung keras dalam tangisnya. Cukup sudah, ia sudah cukup berpura-pura. Ia tidak ingin menjadi orang yang terus berkubang dalam masa lalu. Semua delusi tak berguna ini seharusnya enyah dari hati Hangeng. Tapi Hangeng merasa dirinya begitu lemah, tak ada daya sama sekali untuk membuat dirinya menjadi lebih tabah. Semua hal yang menyangkut Yeonju membuatnya menjadi lemah.

 

Dan akhirnya Hangeng tertidur dalam tangisnya.

 

 

_______________________

 

 

“Hangeng-ah…”

 

Hangeng sedang berdiri di tengah ruangan tanpa ujung berwarna putih bersih. Tidak ada apapun di sana bahkan bayangan diri Hangeng pun tidak ada.

 

Hangeng menolehkan kepalanya ke segala arah, berusaha mencari sumber suara tadi.

 

“Hangeng-ah…” kali ini suara itu berasal dari belakang tubuh Hangeng. Seketika Hangeng membeku, ia sangat mengenal suara itu.

 

Dengan kilat ia balikkan tubuhnya menghadap sosok yeoja mungil yang sedang berdiri sambil tersenyum padanya. Baju yeoja ini berwarna putih bersih dengan sedikit gambar kupu Morpho Rhetenor helena di bagian lengan.

 

“Yeonju…”

 

Kini mata Hangeng membulat sempurna karena ia sedang berhadapan dengan Yeonju. Yeoja itu kini berdiri menghadapnya sambil tersenyum tulus.

 

“Kau merindukanku, Yeobo?” Tanya Yeonju dengan suaranya yang manis.

 

Hangeng langsung merengkuh Yeonju ke dalam pelukannya, kembali merasakan kehangatan tubuh Yeonju yang telah lama tidak ia rasakan.

 

“Aku merindukanmu, Yeonju-ya… kumohon, jangan pergi lagi…” gumam Hangeng dalam tangisnya.

 

Yeonju menjawab dengan tawa kecilnya, gadis ini lalu melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Hangeng dengan kedua tangan.

 

“Kau semakin tampan,” ujar Yeonju sambil tersenyum, ditatapnya kedua mata Hangeng dengan lekat. “Apakah kau hidup dengan baik tanpaku?” lanjutnya kemudian.

 

Hangeng menatap Yeonju dengan tatapan horror, “kukira kau sudah tahu bahwa hidupku tidak pernah benar sejak kepergianmu, Yeonju-ya.”

 

Yeonju tertawa kecil lagi, “aku tahu itu. Tapi, apa kau tidak pernah berpikir untuk mencari gadis lain?” kini tatapan Yeonju terkesan sedikit menggoda, “ini sudah dua tahun, Yeobo, dan aku yakin banyak sekali wanita cantik yang tertarik padamu.”

 

Tatapan Hangeng lurus, menatap kedua mata Yeonju lekat-lekat. “Kau tahu aku tidak akan pernah melakukan itu. Kau adalah yang pertama dan akan menjadi satu-satunya.” Hangeng berkata sungguh-sungguh.

 

Yeonju menelengkan kepalanya ke samping sambil sedikit menyipitkan matanya. “Benarkah? Bagaimana kau bisa yakin soal itu?”

 

Hangeng menggenggam tangan kanan gadisnya, lalu dengan pelan ia letakkan telapak tangan gadis itu di dadanya, merasakan getaran jantungnya di bawah halusnya telapak Yeonju. “Kau bisa merasakan ini, bukan?”

 

Gadis ini terkesima sesaat, lalu mulai menganggukkan kepalanya sambil menampilkan sebuah senyum yang menawan.

 

“Jadi jangan pernah pergi dariku lagi. Kalau perlu, bawa aku bersamamu.” Pinta Hangeng dengan suara memelas. Tatapan mata pria ini begitu sendu.

 

Gadis itu tersenyum. “Aku tidak bisa bersamamu lagi, Hangeng-ah. Aku bukan manusia lagi.”

 

Hangeng menggeleng kepalanya. “Kalau begitu bawa aku bersamamu, Yeonju. Aku ingin bersamamu, aku tidak ingin sendiri lagi.” Hangeng semakin banyak meneteskan air matanya.

 

Yeonju menggenggam kedua tangan suaminya dengan erat. “Aku tidak bisa melakukannya. Itu semua adalah takdir dan tidak akan pernah bisa dirubah.”

 

Lalu secara perlahan, tubuh Yeonju semakin terlihat kabur dan akhirnya menghilang.

 

“Yeonju-ya…” gumam Hangeng begitu sadar bahwa ia sudah tidak mendekap tubuh mungil Yeonju lagi.

 

Kini ia hanya sendirian di ruangan putih tanpa ujung itu. Hanya dirinya dan tangisnya yang terdengar memilukan. Ia kehilangan Yeonju lagi.

 

 

­___________________

 

 

Hangeng langsung terbangun dari tidurnya. Ia sadar bahwa tadi ia ketiduran sambil memeluk baju milik Yeonju. Dan ia juga sadar bahwa pertemuannya dengan Yeonju tadi hanya sebuah mimpi.

 

“Yeonju-ya…” Hangeng berusaha mengucapkan nama istrinya, “kenapa kau tidak membawaku bersamamu? Apa kau tidak menginginkanku?”

 

Tangis pelan mulai terdengar lagi dari mulut Hangeng. Ia menangkup wajahnya ke pangkuan, berusaha meredam suaranya agar tidak terlalu keras. Selang beberapa menit kemudian, ia mendongak  dan terkejut pada apa yang ia lihat di hadapannya.

 

“Yeonju..?”

 

Ya, Yeonju berdiri di depannya. Berdiri sambil memamerkan senyum cantiknya. Wajah Yeonju terlihat serta rambutnya tampak sehat. Ia memakai gaun putih selutut dengan potongan bahu terbuka, memperlihatkan bahunya yang indah dan mulus. Tampak gambar kupu Adonis Blue sebagai corak paling mencolok di gaun itu. Seekor kupu Blue Mormon sedang bertengger indah di tangkupan tangan Yeonju.

 

“Yeonju-ya, tunggu!” kata Hangeng sedikit berteriak saat dilihatnya Yeonju melangkah pergi.

 

Yeonju menatap Hangeng dari balik bahunya, memberikan senyuman indah, lalu ia berjalan lagi, berjalan keluar dari kamar.

 

Hangeng mengejar gadisnya ini hingga ke pintu depan. Walaupun langkah kaki Yeonju terbilang lambat, tapi Hangeng tetap tidak bisa mengejarnya.

 

Yeonju terus berjalan sampai menyeberang jalan besar di depan rumah Hangeng. Namja ini langsung ikut menyeberang jalan juga. Tapi belum sempat Hangeng tuntas menyeberang jalan itu, ia melihat Yeonju membalikkan badannya menatap Hangeng. Hangeng berhenti melangkah saat dilihatnya senyum Yeonju tercipta untuknya.

 

Dari arah kiri jalan, sebuah mobil yang dikemudikan oleh pengendara mabuk melaju dengan kecepatan penuh. Mobil itu menyambar tubuh Hangeng hingga terpental puluhan meter dari tempat namja ini berdiri tadi.

 

Tubuh Hangeng terhempas ke jalan, kepalanya menghantam pinggir aspal hingga banyak darah yang keluar.

 

“Arrggghh…” erang Hangeng karena kesakitan yang amat sangat.

 

Di sisa-sisa kesadarannya, Hangeng melihat Yeonju tersenyum padanya, mengulurkan tangan lembutnya. Hangeng berusaha meraih tangan itu dan ia merasa bisa berdiri lagi. Kini jiwa Hangeng telah terpisah dari raganya.

 

“Kajja, kita harus pergi dari sini.” Ajak Yeonju sambil menarik tangan Hangeng menuju ke hadapan benda serupa pintu berwarna putih. “Kita akan bersama lagi, tidak akan pernah berpisah.” Bisik Yeonju sambil memeluk leher Hangeng.

 

“Selamanya.” Balas Hangeng, membalas tarikan tangan Yeonju yang membawa tubuh mereka masuk ke dalam pintu putih berpendar-pendar. Meninggalkan raga Hangeng yang berlumuran darah.

 

Satu kupu Papilio polymnestor hinggap lembut di pipi namja yang sudah tidak bernyawa itu.

 

­­­­­­­­­­­­­­

_________________

 

 

I cannot stand each of the days without you

I love you, it will not change

I’ll love you till eternity

 

__________________ END __________________

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: