Fanfiction : Loving You… (1/?)


Loving You - 01

 

Title       : Loving You (part 1)

Cast       : Sungmin, Min Young, etc

Genre   : Romance

Author  : Avian Khasanah (Min Young)

 

Annyeong.. ini adalah FF ke-sekianku. kali ini aku masukin nama korea-ku Han Min Young sebagai cast utama di FF ini, sekalian pairing sama biasku, Sungmin ^^ . 

Okay, don’t read if you don’t like it… Please don’t bash me, don’t copy, and leave comment or like… Thank you..

Happy Reading… ^^

Recommended Song : Super Junior – Andante

 

 

‘Mencintai seseorang itu begitu sulit, kita tak akan pernah tahu apakah orang yang kita cintai itu baik atau buruk.

Dan jika cinta memihak pada kita, maka akan menjadi lautan kebahagiaan yang tak terperikan. Tapi jika cinta tak pernah memihak kita, yang ada hanya rasa sesal dan sakit.

Aku menyesal pernah mencintaimu’ – Han Min Young

 

 

All- Han Min Young’s Point of View

 

Dengan jengkel, kuremas selembar kertas di tanganku. Kertas hasil ulangan bahasa Inggris. Aku merasa sangat malu. Untuk kali ini, aku mendapatkan nilai 26, dari yang lalu 37. Aku benar-benar merasa bodoh. Aku sudah belajar mati-matian tadi malam, membaca, merangkum, menulis ulang, dan hal lainnya. Tapi kenapa yang kudapatkan adalah nilai yang turun sebelas poin dari minggu lalu?

 

Segera kubuang kertas itu ke dalam tempat sampah di sampingku. Sangat malu mengakui kalau aku ini benar-benar bodoh, tidak pintar sama sekali. Segera kubuang pandanganku dan melangkah memasuki kelas.

 

“Min Young-ah,” Rae In memanggilku. Aku membalikkan badan ke arahnya dengan tatapan bertanya.

 

“Ya?”

 

“Kau dipanggil Kim Songsaenim ke ruangannya sekarang,” jawab Rae In dengan nada datar.

 

“S-Sekarang?” tanyaku terbata.

 

Rae In mengangguk, “ne. Sepertinya ada hal penting yang ingin ia bicarakan.”

 

Kubalas dengan anggukan lemah pada kepalaku. Kulangkahkan kakiku keluar dari kelas dan menyusuri lorong menuju ruangan Kim Songsaenim yang terletak di ujung koridor lantai tiga. Jantungku bertalu memukul rusuk. Aku merasa gugup, takut, cemas dan bingung. Entahlah, aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang ingin beliau bicarakan.

 

Dengan hati-hati kuketuk pintu kayu warna cokelat gelap itu, menunggu seseorang membukakannya, atau setidaknya menyuruhku masuk.

 

“Silakan masuk!” suara serak dan berat terdengar dari dalam ruangan, jantungku kembali berdetak cepat, seolah hendak meloncat keluar. Kakiku melangkah lambat memasuki ruangan. “Oh, Han Min Young! Duduklah!” seru Kim Songsaenim dengan senyum di wajahnya.

 

“N-Ne,” jawabku pelan sambil membungkukkan badan sedikit. Perlahan menuju kursi cokelat muda di depan meja Kim Songsaenim.

 

Kim Songsaenim berdeham sebentar sebelum memulai permbicaraan. “Um, begini, Min Young-ah. Aku sudah melihat hasil belajarmu selama satu semester ini dan hasilnya cukup bagus. Setidaknya itu untuk pelajaraan selain Bahasa Inggris.” Pembicaraan yang sudah kuduga, Songsaenim menyinggung hasil ulanganku.

 

“Ne?”

 

Kim Songsaenim menghela napas, “aku merasa prihatin dengan nilaimu, Min Young-ah. Jika nilai Bahasa Inggrismu itu tidak berubah, bisa-bisa kau tidak akan lulus.”

 

Aku meneguk air liur susah payah. Inilah yang aku takutkan, bayangan tidak lulus SMA memang mengerikan –setidaknya buatku – dan sebisa mungkin aku berusaha bangkit untuk mendapatkan nilai yang lebih baik. Tapi sampai sekarang masih tidak ada yang berubah –belum – .

 

“Saya mengerti, joesonghamnida. Mulai sekarang saya akan belajar lebih keras lagi,” meskipun aku harus menelan nilai rendah kembali, tambahku dalam hati.

 

Jujur, sekarang aku mulai pesimis. Aku benar-benar tidak bisa lagi menambah nilai selain belajar. Pelajaran Bahasa Inggris memang menjadi momok buatku, menakutkan. Aku akan selalu gemetar jika berhadapan dengan lembar soal bercetak kosakata bahasa Inggris.

 

Kim Songsaenim mengerucutkan bibir sambil menggeleng. “Bukan begitu. Aku sebagai wali kelasmu akan berusaha membantumu. Tidak akan kubiarkan muridku terancam tidak lulus, apalagi kau adalah murid dengan bakat melukis yang hebat. Tenang saja.” dia mencoba menenangkanku walaupun tidak sepenuhnya berhasil.

 

Mungkin bakat melukisku ini memang menolongku, menghindarkanku dari cemooh para guru. Sungguh beruntung setidaknya memiliki satu bakat yang bisa dibanggakan daripada tidak sama sekali.  Selagi aku masih memikirkan hal itu, Kim Songsaenim menyela pemikiranku.

 

“Akan kucarikan guru privat untukmu, Han Min Young.”

 

Aku mengerjap kaget. “N-Ne?”

 

Sebuah senyum terukir di wajahnya, “kau tidak perlu takut. Aku sudah mencari guru privat bahasa Inggris untukmu. Beruntung dia mau. Kau akan senang mendengarnya.”

 

Rasa penasaranku mulai kambuh. “Nugu?”

 

“Lee Sungmin…”

 

—–

 

Tas kecil tak berdosa itu kulempar dengan malasnya ke atas meja ruang tengah. Kulempar tubuhku ke atas sofa merah marun dan berusaha memejamkan mata. Argh, ini sia-sia. Perkataan Kim Songsaenim tadi benar-benar tidak bisa enyah dari pikiranku. Bagaimana mungkin seorang Lee Sungmin akan menjadi guru privat bahasa Inggrisku?

 

Sebagian ingatanku melayang pada beberapa tahun yang lalu. Jujur saja, Lee Sungmin adalah namja yang pernah kusukai. Namun perasaanku ini langsung berubah begitu tahu bahwa ternyata ia seorang playboy. Tentu saja aku menyesal pernah menyukainya begitu dalam, bahkan rasa sesal itu berubah menjadi benci saat dia mengataiku dengan tanpa perasaan.

 

 

~~~~~

 

“Sungmin-ah, kau mau ke mana?” tanyaku saat Sungmin terlihat buru-buru membereskan perlengkapan sekolahnya ke dalam tas.

 

Sungmin menatapku dengan sanksi. “Memang itu urusanmu?” ujarnya dengan dingin.

 

Sebisa mungkin aku menahan diriku agar tetap tenang. “Tapi setelah ini ada les dari Ms. Jessie. Kau akan membolos lagi?” aku berusaha mengingatkan anak yang masuk kategori bandel ini. Meskipun terkenal nakal, tapi aku tak tahu mengapa aku menyukainya.

 

Sungmin mendengus. “Cih, aku tidak perlu mengikuti les itu. Toh aku sudah mahir berbahasa Inggris. Sebaiknya kau saja yang mengikuti les itu. Kau itu kan bodoh, Min Young-ah!”dia melempar tatapan mengejek ke arahku.

 

Aku menunduk. Apa sih salahku? Kenapa semua orang mengataiku bodoh? Paling tidak hasil lukisanku bagus kan? Jadi jangan pernah mencoba mengejekku, termasuk kau, Lee Sungmin! Ingin sekali aku berteriak seperti itu di depannya, tapi aku sadar ia tidak akan pernah peduli.

 

“Tunggu!” cegahku sebelum ia tuntas keluar dari pintu kelas, “aku ikut denganmu.”

 

Sekali lagi aku mendapatkan tatapan tidak suka dari Sungmin. “Ya! Han Min Young! Urusi sendiri urusanmu sana! Aku tidak butuh kau! Lagipula siapa yang ingin diikuti oleh yeoja jelek dan bodoh sepertimu? Aku lebih suka Tiffany yang mengikutiku daripada kau! Cih, cantik saja tidak!”

 

Itu adalah ucapan paling menyakitkan yang pernah kudengar seumur hidupku. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Sungmin, namja yang sangat kusukai itu ternyata sangat kejam. Dengan entengnya mengatakan aku jelek, apa dia tidak punya hati?

 

Dan perkataannya itu sudah cukup membuatku membencinya. Aku sangat membencinya. Aku benar-benar membencinya. Aku tahu bahwa Tiffany itu memang gadis yang cantik, tapi setidaknya jangan banding-bandingkan aku dengan yeoja Amerika itu. Aku benar-benar tidak terima.

 

 ~~~

 

 

Mengingat kenangan itu malah membuatku semakin merasa kesal. Aku sudah meminta Kim Songsaenim untuk mengganti guru privat, tapi dia tidak setuju dengan alasan ‘belum ada murid yang memiliki kemampuan bahasa Inggris sebagus Lee Sungmin’. Cih, setidaknya carikan aku yang bisa berbahasa Inggris.

 

Drrttt…. Drrrtttt…

 

Ponselku berbunyi, ada pesan masuk. Tanpa menoleh aku mengambil ponsel itu di atas meja dan segera membaca pesan itu tanpa semangat.

 

From: Rae In^^

 

Min Young-ah, bisa kita jalan-jalan sore ini? aku hampir mati kebosanan di dalam rumah  -_-

 

Aku terkekeh pelan membaca pesan singkat dari sahabatku itu. Segera kutekan tombol reply dan mengetik pesan balasan.

 

To: Rae In^^

Arraseo. Aku juga ingin menceritakan sesuatu padamu. Kutunggu di Mouse and Rabbit café, ne?

 

Tak lama kemudian, Rae In membalas pesanku tadi, mengatakan bahwa dia setuju dan merencanakan akan datang jam lima sore. Aku melirik jam dinding di atas TV, masih ada tiga jam lagi dari jam lima. Aku bisa istirahat sebentar di apartment kecilku ini. Setidaknya aku masih mempunyai satu teman – sahabat – yang benar-benar mengerti aku. Sesuatu yang patut kusyukuri.

 

Sedikit malas, aku melangkah menuju dapur kecilku dan mulai memasak ramyeon instant untuk makan siangku. Aku terlalu malas untuk membuat makanan yang lebih rumit dari sekedar ramyeon cepat saji.

 

 ——–

 

 

Rae In masih belum datang, padahal ini sudah setengah enam. Dengan malas, kuminum espresso yang kupesan dari café ini waktu pertama datang tadi. Benar-benar membosankan harus menunggu orang yang tidak datang tepat waktu. Lihat saja, Rae In, kau akan kujadikan sushi jika aku melihatmu!

 

“Hosh… hosh… hosh…. Min Young-ah! Mianhae, aku terlambat! Jalanan macet, aku terpaksa turun mobil untuk jalan kaki.” Rae In langsung duduk di kursi di depanku. Napasnya masih belum normal.

 

Kupelototi dia. “Bagus sekali, Rae In. Kau sangat rajin. Ini sudah jam setengah enam dan baru sekarang kau datang. Terima kasih loh ya,” sindirku padanya.

 

“Sudah bilang tadi jalanan macet! Ada kecelakaan mobil dan evakuasinya sangat lama!” Rae In beralasan, “kau tidak percaya padaku?” aish, kenapa tiba-tiba dia menjadi murung seperti itu?

 

Aku menggeleng sambil tersenyum kecil, “ani. Aku percaya padamu, kok. Tapi kau tau, sangat membosankan duduk sendiri di café ini. Apalagi dari tadi yang kulihat hanya segerombolan remaja ABG yang nge-fans dengan pemilik café ini. Cih, benar-benar menjengkelkan.”

 

Rae In tertawa. “Benar. Aku sendiri heran. Kuakui pemilik café ini sangat tampan, tapi aku tidak menyangka ketampanannya itu juga menjerat gadis ABG,” kekehnya.

 

“Ekhem…” suara dehaman pria terdengar dari belakangku.

 

Sontak kami menoleh dan terkejut karena yang berdeham tadi adalah Kim Jongwoon, pemilik café Mouse and Rabbit yang tadi kami bicarakan. Ah, bagaimana ini… dia pasti mendengar ucapan kami tadi.

 

“Namaku Kim Jongwoon, kalian mau pesan apa?” tanyanya sopan.

 

Aku dan Rae In menatap Kim Jongwoon dengan heran. Benar, ini tidak masuk akal. Sejak kapan seorang Kim Jongwoon yang menjabat sebagai pemilik café ini berubah jadi pelayan? Dan yang benar saja, secara kebetulan dia datang tiba-tiba dan menanyakan pesanan. Hey, aku sudah berada di sini sejak tadi, dan yang menanyakan pesananku juga pelayan biasa. Tapi kenapa setelah Rae In datang, Kim Jongwoon yang menanyakan pesanannya?

 

Aku menatap wajah Kim Jongwoon, dia memandang lekat-lekat wajah Rae In. Aish, seharusnya aku bisa menduganya. Kim Jongwoon tertarik pada Rae In, tapi sahabatku ini malah kelihatan tidak peka. Cih, dasar Rae In pabo!

 

“Kim Jongwoon-ssi,” panggil Rae In. “Bukankah kau pemilik café, tapi kenapa kau malah jadi pelayan?” Rae In bertanya polos.

 

Kim Jongwoon terkekeh. Wajahnya yang masih kelihatan muda – sekitar duapuluh tahunan – terlihat berbinar cerah. “Khusus untuk hari ini, aku akan mengadakan even spesial. Lagipula aku juga melihat kalian adalah pelanggan kami yang paling setia.” Jawabnya berdiplomasi.

 

Kurasa aku tidak percaya hal itu.

 

“Tidak sesetia penggemar beratmu,” sindirku pelan. Kim Jongwoon hanya nyengir.

 

“Aku pesan macaroni dan cappuccino,” ujar Rae In pada Jongwoon. Namja ini dengan sigap mencatat pesanan Rae In dan beralih padaku.

 

“Blueberry Waffle.” Jawabku

 

“Minumnya?”

 

“Aku tadi sudah pesan.” Aku menunjuk gelas berisi espresso yang masih tersisa banyak, kira-kira tigaperempat gelas.

 

Kim Jongwoon mengangguk. “Baiklah, silakan tunggu.” Ujarnya sambil berjalan ke arah dapur. Tapi aku berani bersumpah demi apapun, ia sempat melirik Rae In dengan tatapan memuja.

 

“Baiklah, Min Young-ah. Katamu kau ingin menceritakan sesuatu. Apa memangnya?” Rae In mengingatkanku.

 

Kuhela napas untuk memulai pembicaraan. “Kau tahu, tadi Kim Songsaenim menyuruhku datang ke ruangannya dan membicarakan mengenai nilai pelajaran bahasa Inggris-ku.”

 

Sinar mata Rae In kelihatan tertarik, “lalu?”

 

“Dia menyuruhku untuk mengikuti les privat dan belajar pada orang yang ia percaya.”

 

“Itu bagus, kau bisa mendapatkan nilai bahasa Inggris yang lebih bagus. Kalau begitu apa masalahnya?”

 

“Masalahnya adalah, guru les itu adalah namja yang paling aku benci di dunia ini! Lee Sungmin!”

 

Rae In mengerjap, terkejut. “Bukankah dia namja tak berperasaan yang pernah kauceritakan padaku waktu itu, Min Young-ah?” Tanya Rae In memastikan.

 

Aku mengangguk jengkel, rasa kesalku muncul kembali. Entahlah, sejak kejadian pembicaraan guru privat dengan Kim Songsaenim, aku menjadi sedikit sensitive. Amarahku suka meledak-leda.

 

“Ne! aku benar-benar tidak menyukai ide itu! Aku sudah meminta Kim Songsaenim untuk mengganti gurunya, tapi dia menolak dengan alasan yang tidak elite sama sekali. Aku benar-benar membenci Lee Sungmin!” teriakku kesal, tak terkendali.

 

“Kalian memanggilku?” lagi-lagi suara namja.

 

Dan, God, tolong aku sekarang. Namja itu ternyata Lee Sungmin! Sial, kenapa hari ini penuh dengan kebetulan?

 

“Aku tanya, apa kalian tadi memanggilku?” ulangnya lagi.

 

Aku sama sekali tidak mampu menjawab pertanyaannya. Lee Sungmin dengan pose angkuh berdiri di samping mejaku dan Rae In sambil memasukkan tangan di sakunya. Rambut blonde-nya berkibar pelan karena angin yang masuk lewat pintu depan. Kemeja biru tua yang ia kenakan sangat cocok dengannya.

 

“T-Tidak. Aku tidak memanggilmu.” Akhirnya aku bisa menjawab walaupun sempat terbata.

 

Sungmin mendengus, “cih, aneh. Oh ya. Han Min Young!” panggilnya padaku.

 

“N-Ne?”

 

“Besok kita mulai kursusnya. Di rumahku jam tiga sore. Tidak ada kata terlambat. Ingat itu.” Ujar Sungmin lalu melangkah menjauh dari meja kami.

 

Aku menatap langkahnya, dia berjalan kembali ke mejanya bersama seorang yeoja yang sangat cantik. Bukankah itu Sunny? Pasti yeoja itu pacar Sungmin. Tidak tahu kenapa aku merasa sedikit tersengat saat melihat mereka begitu akrab.

 

Aku menunduk, tiba-tiba saja dadaku terasa sesak. Seperti ada yang mengganjal di sana, menghimpit. Kenapa aku begitu tak suka jika Sungmin dekat dengan Sunny? Bukankah kedekatan mereka wajar karena mereka adalah sepasang kekasih? Han Min Young-ah, ada apa denganmu?

 

To Be Continued…

 

Part 1 Finished! Makasih udah baca, leave comment please…😀

1 Komentar (+add yours?)

  1. abChan"
    Sep 29, 2014 @ 08:49:43

    Reader br disini ><
    slm kenl ya..
    Sy sungmin biases ^^
    FFnya keren (\^3^/)

    Minyong, jgn terlalu benci sm sungmin ya nnti mlh jatuh cinta lg

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: