Fanfiction : Loving You… (2/?)


Loving You - 02

 

Title       : Loving You (part 2)

Cast       : Sungmin, Min Young, etc

Genre   : Romance

Author  : Avian Khasanah (Min Young)

udah sampe part 2 nih… tapi akunya gk tau bakalan sampe part berapa -_- . oke deh, silakan baca… maaf jika ada TYPO(s), ceritanya bikin bosen, dll. aku cuma author pemula, baru aja belajar bikin FF -_-

Happy Reading^^ J

Recommended Backsound : Super Junior – Andante, Super Junior – only U, Kyuhyun – late autumn🙂

‘Ketika cinta lama datang, pikiran akan menjadi kacau,

Tak peduli betapa pun kita menolak cinta itu, tak peduli kita bersikap seolah tak terjadi apapun, cinta itu tetap akan merasuk dan membuat kita menyorot balik masa lalu,

Aku tidak akan peduli pada cinta lama,

Aku tidak ingin merasakan cinta yang menyakitkan itu kembali,

Aku tidak akan merasakan cinta tak terbalas lagi.’ – Han Min Young

 

 

 

 

“Aku tidak mengerti, kenapa Lee Sungmin mau dengan perjanjian Kim Songsaenim. Bukankah dia namja yang sombong?” ujarku saat aku dan Rae In sampai di apartment kecilku. Rae In memutuskan untuk menginap di sini karena orangtuanya sedang bekerja ke luar kota selama satu hari. Dan yeoja penakut ini tidak berani berada di rumahnya sendirian.

 

Rae In duduk di sofa merah marunku, menghempaskan punggung lelahnya di bantalan sofa. “Kau tahu, mungkin Kim Songsaenim punya alasan sendiri hingga Sungmin tidak bisa menolak. Itu firasatku.” Kata Rae In sambil memejamkan matanya lelah.

 

Aku beranjak ke dapur, memutuskan untuk membuat es sirup. Padahal aku tadi sudah meminum segelas besar espresso, tapi aku sudah haus lagi. Apa bertemu dengan namja itu membuatku tidak bisa mencerna air dengan benar?

 

“Sunny itu kekasihnya Sungmin, ya?” tanyaku dengan suara lirih. Pandanganku tertuju pada dua buah gelas di depanku, mengisi masing-masing gelas dengan air es. Pikiranku kosong, bisa kuduga Rae In tadi mendengar nada sendu dalam ucapanku.

 

“Maksudmu Lee Sun Gyu? Ah, benar. Dia memang kekasihnya Sungmin. Kau kenapa sih? Kedengaran sekali kalau kau tidak suka Sunny.” Rae In menatapku curiga.

 

Aku hanya menggeleng. Sebenarnya aku juga tidak mengerti kenapa aku jadi murung seperti ini. Bayangan Lee Sungmin sedang bermesraan dengan Sunny terus saja berputar di otakku. Tentu saja aku tidak bisa menghentikannya. Seharusnya aku tidak pernah menyukai Lee Sungmin seumur hidupku.

 

Kutaruh dua gelas tadi di atas nampan warna hitam, lalu berjalan ke ruang TV – sekaligus ruang tamu – dan menaruhnya di meja. Bisa kurasakan tatapan menghujam nan penasaran Rae In di belakang punggungku.

 

“Demi Tuhan, Min Young-ah! Kau kenapa? Tidak biasanya wajahmu kautekuk seperti itu.” Rae In menjadi kalut.

 

“Aku tidak apa-apa!” aku berusaha meyakinkannya, tapi sepertinya tidak bekerja sama sekali.

 

Kudengar hembusan napas kesal dari Rae In. “Min Young-ah, jujur saja kalau kau itu cemburu pada mereka. Kau masih menyukai Lee Sungmin, bukan?” Rae In menginterogasiku.

 

Kugelengkan kepala, “aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Lee Sungmin. Jadi mustahil jika aku cemburu padanya.” Aku berusaha membuat nada suaraku terdengar ringan dan sambil lalu. Tapi telinga Rae In yang peka itu lagi-lagi membuatku kerepotan.

 

“Jangan bohong.”

 

“Aku tidak berbohong!” sanggahku dengan cepat.

 

“Min Young-ah, semua perasaanmu itu bisa dengan mudah kubaca lewat ekspresimu. Dan ya, kau tidak akan bisa menutupinya,” kali ini Rae In bersikeras dengan argumennya. Kuakui pendapatnya itu benar.

 

Aku menunduk, “aku tidak tahu apa yang sedang kurasakan, Rae In-ah… otte?”

 

 

………………………

 

Esok harinya, aku bersama Rae In masuk sekolah. Saat ini jam istirahat, dan aku bersama Rae In duduk di salah satu bangku kantin sambil menikmati makanan yang kami pesan. Suasana kantin ini tidak begitu ramai jadi memungkinkan bagi kami untuk mengobrol.

 

“Min Young-ah, bukankah itu Lee Sungmin?” pernyataan Rae In yang terkesan ragu itu berhasil membuatku menoleh untuk mengikuti arah pandangnya. And God, kalian tahu apa yang sedang kami saksikan?

 

Lee Sungmin sedang mengecup pipi Sunny!

 

Tanpa kusadari, aku mendesis kesal. Ahh, apa yang sedang kurasakan saat ini? Kenapa rasanya aku begitu ingin marah? Aku begitu ingin melangkah ke meja mereka kemudian menggebrak meja itu sekeras-kerasnya. Namun niat itu urung begitu aku memikirkan apa yang menjadi alasan jika aku melakukan hal itu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan otakku?

 

“M-Min Young-ah..?” panggil Rae In dengan suara setengah ragu.

 

Aku menoleh padanya, “hm?”

 

“Wajahmu kenapa?” tanyanya.

 

“Hah?” otomatis aku menyentuhkan tanganku ke arah wajah, secara reflek berusaha menyingkirkan kotoran yang menjadi hal pertama yang terlintas di otakku.

 

Rae In menyingkirkan tanganku dari wajah, “aish, bukan itu!”

 

Aku hanya menatapnya dengan ekspresi bodoh, “lalu apa?”

 

Rae In menghirup lalu menghembuskan udara dengan ekspresi malas. Aku yakin tingkah cengoku ini begitu membuatnya jengkel. “Kau itu kelihatan kesal. Kau kenapa sih? Begitu melihat mereka berdua, mukamu langsung cemberut seperti itu,” jelas Rae In padaku.

 

Aku termenung, sadar kalau perkataan Rae In memang benar. Apa aku masih menyukai Sungmin? Walaupun bertahun-tahun berlalu, tapi apakah rasa itu tidak bisa benar-benar kuhilangkan? Semuanya memang nyaris tidak berubah, semenjak hari di mana dia menghinaku dengan kasarnya. Ah, bahkan kejadian itu masih bisa kuingat dengan baik, seperti memutar film dengan kualitas terbaik.

 

“Begitu, ya?” bisikku sambil menunduk.

 

 …………………

 

 

Jam sudah menunjukkan jam tiga lebih lima menit, dan aku masih berlari menuju rumah Lee Sungmin. Namja ini tinggal di kawasan elite di daerah Nowon. Dia memang anak orang kaya, mungkin yang paling kaya di SMA tempat kami sekolah. Bus yang tadi kutumpangi mengalami keterlambatan, belum lagi jarak rumah Sungmin dengan halte terdekat lumayan jauh jadi aku harus berjalan kaki untuk sampai.

 

Jam di pergelangan tanganku rasanya berputar dua kali lebih cepat. Saat ini sudah lebih sepuluh menit dari waktu yang telah ditetapkan. Aku mendesah cemas. Napasku terengah-engah dan panik, aku tahu benar seorang Lee Sungmin tidak menyukai orang yang terlambat. Ia benar-benar benci orang yang tidak menepati waktu perjanjian. Dan sepertinya aku akan mendapatkan masalah besar setelah ini.

 

Kaki pendekku semakin kularikan, tak peduli dengan rambut panjangku yang berkibar pelan hingga menghalangi pandangan. Hanya satu yang harus kulakukan. Sampai ke rumah Lee Sungmin secepat yang kubisa.

 

Akhirnya dengan perjuangan yang melelahkan, aku sampai di depan rumah Lee Sungmin. Aku masih mengingat betul di mana letaknya, mudah saja mengetahui bahwa rumah – atau mungkin mansion – milik Sungmin adalah yang terbesar di daerah ini. Aku memencet bel di ujung pagar, lalu muncul seorang satpam berperawakan sedikit gemuk.

 

“Ada keperluan apa?” tanya satpam itu. Tatapannya terkesan sinis dan mencela. Rupanya dia menilai penampilanku.

 

Dengan napas yang masih terengah-engah, aku menjawab pertanyaannya. “Namaku Han Min Young. Aku ingin menemui Lee Sungmin.”

 

Mata satpam itu membulat begitu mendengar namaku. Dengan segera dia membungkuk lalu membukakan gerbang itu selebar ukuran badannya. Kemudian satpam itu menyilakanku untuk masuk. Begitu aku memasuki kawasan halaman depan mansion Sungmin yang sangat luas, seorang pelayan memberiku petunjuk untuk menemui Sungmin dengan mengikutinya.

 

Isi masion Sungmin sudah banyak yang berbeda, jauh lebih mewah dibandingkan saat terakhir kali aku ke sini lima tahun lalu. Meskipun tata letak ruangannya masih sama, tapi ada begitu banyak perabotan baru yang mengisi kekosongan ruangan luas di mansion ini. Semuanya didominasi warna gold yang sangat mewah. Rasanya seperti masuk ke dalam istana raja. Semua kemewahan di sini sungguh keterlaluan hingga terkesan angkuh.

 

Kami menaiki tangga menuju lantai kedua, melewati namja yang mirip dengan Sungmin yang menatapku dengan tatapan penasaran. Hey, bukankah itu adiknya Lee Sungmin? Kalau tidak salah, namanya… Ah, iya, Lee Sungjin. Aku memberi salam sekadarnya sambil tersenyum lalu kembali mengikuti langkah pelayan di depanku yang menaiki tangga kembali. Kali ini menuju ke lantai ketiga.

 

Aku mendengus kesal, mengetahui betapa capeknya untuk menemui Sungmin. Memangnya di mansion ini ada berapa lantai, sih? Apakah mansion ini mirip dengan istana Raja yang memiliki menara, lalu sebagai sang pangeran, kamar Lee Sungmin terletak di paling atas sendiri agar terhindar dari perampokan? Menggelikan.

 

“Tuan Muda sudah menunggu Anda,” pelayan itu memberitahuku dengan sopan, teramat sopan malah. Dia menuju ke depan pintu cokelat tua yang lebar, penuh dengan ukiran rumit namun indah di permukaannya. Dibukanya pintu itu dengan perlahan hingga terbuka.

 

Aku mengikuti langkah kaki pelayan itu yang memasuki ruangan yang sangat luas. Ah, aku ingat. Ini kamar Lee Sungmin.

 

“Tuan Muda, nona Han Min Young sudah datang,” pelayan itu dengan sangat sopan membungkuk lalu memohon diri untuk keluar.

 

Kupandangi sosok Lee Sungmin. Namja ini sedang berdiri dengan bersandar di lengan sofa. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan memberiku tatapan membunuh. Aku bergidik ngeri melihat ekspresinya yang seakan ingin menelanku hidup-hidup. Berbahaya! Instingku menjeritkan kata itu.

 

“Kau sungguh rajin, Han Min Young-ah. Kau datang tepat waktu!” Sungmin menekankan kata tepat waktu hingga terkesan menyindirku.

 

Aku melirik jam tanganku sekilas. 3.25 sore, ini sudah sangat terlambat. Aku membungkuk sedalam mungkin, benar-benar merasa bersalah. “Aku benar-benar minta maaf. Ini salahku. Tadi bus yang kutumpangi mengalami keterlambatan, belum lagi aku harus berjalan kaki ke rumahnya. Aku~”

 

“Aku tidak butuh penjelasanmu!” potongnya cepat.

 

Aku mengangguk pelan lalu meringis ngeri. Mungkin ini akan menjadi hal yang biasa kudapatkan mulai hari ini. Dalam hati aku merasakan sedikit rasa takut saat melihat wajah marahnya. “Maafkan aku,” ujarku lagi.

 

“Dengar, ya. Aku sangat tidak menyukai orang yang tidak menepati janjinya. Dan aku paling benci jika harus menunggu untuk hal tak berguna sepertimu, kau mengerti?” ujarnya dengan nada suara rendah dan serius.

 

“A-Aku mengerti,” hanya itu yang bisa terucap dari bibirku.

 

Kudengar helaan napas kesal dari mulutnya, “sekarang, ayo belajar. Aku akan mengajarimu teknik belajar bahasa Inggris yang baik,” dia berkata dingin.

 

 ……………………….

 

 

“Aish, kau benar-benar membuatku gila! Bagaimana mungkin soal semudah ini kau tidak bisa, hah?”

 

Sungmin membentakku – lagi – karena ketidakmampuanku mengerjakan soal-soal bahasa Inggris yang – menurutnya – mudah. Aku meringis merasakan pukulan pensilnya di kepalaku lagi.

 

“Hah, aku benar-benar kehabisan akal bagaimana lagi cara untuk mengajarimu! Kau itu benar-benar bebal!” seru Sungmin lagi. “Sudah kuberitahu berapa kali lagi, jika subyek kalimatnya itu I maka tobe-nya adalah am, bukan is! Sekarang ulangi lagi!”

 

“Jangan membentakku!” aku balas teriak padanya.

 

“Argh, kau itu benar-benar bodoh, Min Young-ah. Jika soal untuk anak SMP saja tidak becus, bagaimana mungkin kau bisa mengerjakan soal untuk kelas SMA? Aku tak heran jika nilaimu itu terus turun, tidak bisa bertambah!” dia terus saja meledekku. Kucengkeram pinggiran meja belajar milik Sungmin dengan erat. Bertahan agar tidak jadi menendangnya. Menyingkirkan pikiranku yang berteriak agar aku segera memukul kepala tololnya itu.

 

Tapi beruntung sekali aku bisa menahan amarahku ini.

 

“Jadi sekarang kau ulangi lagi materi itu, jangan pulang sebelum satu materi selesai kaupelajari. Mengerti?” ujarnya lalu langsung melangkah keluar dari kamarnya yang luas ini.

 

Kupandangi kepergiaannya. Aku masih merasakan sakit hati karena hinaannya tadi. Bukankah wajar jika aku memang tidak mengerti tentang ini, jadi tidak seharusnya dia marah-marah, bukan? Lagipula aku saja bisa meredam amarahku, kenapa dia tidak bisa? Belum pernah aku menemui lelaki yang sekasar dia.

 

Kembali kufokuskan pandanganku ke buku materi bahasa Inggris, mencoba melupakan kejadian menyebalkan tadi walaupun sulit. Argh, rasanya aku bisa gila dan tuli jika terus diteriaki oleh namja menyebalkan bernama Lee Sungmin. Memang kelihatannya wajah namja itu polos dan pendiam, tapi jangan tanya kepribadiannya, aku bahkan tak ingin membicarakannya lagi.

 

Okelah, aku akan mulai mencoba metode belajar yang tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Sebenarnya ini simple, tapi aku aja yang tidak bisa fokus. Aku memang agak kesusahan membaca huruf dalam bahasa Inggris. Aku mencoba membuat kalimat yang dalam bahasa Hanguk berarti ‘Aku sedang kesal’. Kalimat yang benar-benar mencerminkan perasaanku saat ini.

 

Subyek kalimatnya bisa dengan mudah kutulis, lalu diikuti dengan to be. Aku tadi ingat mengenai penjelasan to be oleh Lee Sungmin. To be untuk subyek I adalah am. Ah, tinggal satu kata lagi, ‘kesal’. Untuk kosakata ini, aku mencarinya di kamus. Angry. Oke, begitu aku tahu jawabannya, aku segera menuliskan jawabanku di buku tulis khusus pelajaran kursus ini.

 

I am angry.

 

Ternyata tidak sesulit yang kukira, hanya perlu memahami aturan dan menghafal langkah-langkahnya. Aku tersenyum gembira sekali.

 

Kudengar langkah kaki Sungmin kembali memasuki kamar ini. Kubalikkan badanku dan terkejut karena dia membawa buku-buku super tebal di tangannya. Aku bisa membaca tulisan judul buku itu. Materi bahasa Inggris dasar. Aku bisa menghitung berapa buku yang ia bawa. Satu, dua, tiga, empat. Empat buku super tebal. Begitu ia sampai di samping meja belajarnya yang kutempati, dilemparkannya buku itu dengan kasar ke meja. Aku berjengit kaget, menatapnya marah.

 

“Bisakah kau lebih sopan pada wanita?” protesku.

 

Sungmin mendengus,” buat apa aku harus bersikap sopan pada orang bodoh sepertimu?”

 

Amarahku meledak. “Ya! Berani sekali kau mengataiku bodoh?! Memangnya kau sendiri tidak sadar kalau kau juga bodoh? Dasar Kelinci Pirang!” aku berusaha meledeknya.

 

“Ya! Kau!” Sungmin mengayunkan tangannya hendak menampar pipiku, tapi begitu tinggal beberapa senti dari pipi, dia menghentikan ayunan keras tangannya, kemudian menjatuhkannya di sisi tubuhnya. “Berani sekali kau mengataiku seperti itu huh? Memangnya kau tidak tahu siapa aku?” tantangnya.

 

Aku mengangguk, “kau Lee Sungmin,” jawabku pura-pura polos.

 

“Ya! Bukan itu maksudku!” ujarnya sambil memukul meja. Aish, aku benar-benar tidak menyukai sikapnya yang suka sekali memukul barang. Dikiranya ini semua miliknya? Semua barang-barang ini milik orang tuanya!

 

“Lalu apa yang kaumaksud, eoh?”

 

Sungmin mengacak rambutnya frustasi. “Argh, aku bisa gila jika terus bersamamu, Han Min Young!” erangnya.

 

Aku menjawab dengan nada santai, “bukankah aku yang seharusnya bilang seperti itu?”

 

Sungmin membanting tubuhnya ke kasur berukuran king size, memejamkan mata sambil mengurut kepalanya yang mungkin saja terasa pening. “Apalah, aku tidak peduli. Terserah kau saja.” Sungmin akhirnya menyerah dengan debatanku ini. Aku tersenyum lebar penuh kemenangan.

 

“Aku mau pulang,” ujarku santai. Ini memang sudah jam setengah delapan malam, dan sudah waktunya untuk kembali ke apartment yang jaraknya jauh dari mansion ini.

 

Sungmin langsung bangkit. “Kau mau pulang? Ya sudah, pulang saja,” ujarnya tanpa perhatian.

 

“Antar aku pulang.”

 

“Mwo? Shireo! Kau datang ke rumahku ini sendiri, maka kau juga harus pulang sendiri! Jangan pernah mencoba merepotkanku, Min Young-ah!” protesnya.

 

Aku mengendikkan bahuku, “apa kau mau membiarkan yeoja lemah seperti aku ini berjalan sendirian di malam hari? Jika ada perampok bagaimana? Aku bisa celaka!”

 

“Itu urusanmu! Bukan urusanku!”

 

Aku menatapnya jengah, “argh, kau benar-benar menyebalkan, Kelinci Pirang! Jika aku mati malam ini, maka kau yang akan disalahkan oleh Kim Songsaenim.” Aku mencoba mencari cara agar ada yang mau mengantarku pulang, siapa saja.

 

“Baiklah, aku akan menyuruh Sungjin untuk mengantarmu. Tapi ingat, hanya untuk kali ini. setelah ini jangan harap aku mau memberimu tumpangan.” Dia keluar dari kamar lagi, mungkin untuk menemui adiknya itu.

 

Kurapikan bukuku, memasukkannya secara sembarang ke dalam tas mungilku lalu segera kuselempangkan di bahu. Sebelum mengikuti jalannya tadi, kupandangi kamar Lee Sungmin sekali lagi. Mewah. Dan fantastis. Tapi aku tahu bahwa kamar ini terlalu besar untuk ia pakai sendiri. Aku tahu dia kesepian karena dia tidak memiliki teman kecuali Ryeowook dan Eunhyuk. Anak orang kaya memang kebanyakan seperti Sungmin. Kesepian.

 

Tapi aku langsung meralat pemikiran itu setelah mendadak ingat kekasih Sungmin, Sunny. Sungmin tidak akan kesepian karena kekasihnya itu akan selalu menemaninya. Ah, tak tahu kenapa dadaku rasanya sedikit sesak memikirkan hal itu. Benarkah aku masih menyukai Lee Sungmin?

 

Sungmin datang lagi ke kamarnya, kali ini bersama si adik, Lee Sungjin. Anak itu tersenyum manis padaku. Ah, aku begitu heran melihat perbedaan mencolok antara kakak dan adik itu. Aku tahu bahwa Lee Sungjin adalah anak remaja yang sangat baik. Tampan dan sopan terhadap orang lain. Dan itu sangat berbeda dengan si kakak, Lee Sungmin. Kuakui keduanya memang tampan, tapi sikap mereka benar-benar seperti langit dan bumi bagiku.

 

“Ini gadis bodoh yang kuceritakan tadi malam, Sungjin-ah. Bisakah kau mengantarnya pulang?” tanya Sungmin pada adiknya.

 

Apa? Gadis bodoh? Jadi seperti itulah yang diceritakan oleh Sungmin pada adiknya mengenai diriku? Aku tidak bisa menerima ini! Kasar sekali dia! Aku segera memberi tatapan membunuh untuknya, berharap dia akan takut hingga nyalinya ciut jika kuberi tatapan ini. tapi sepertinya usahaku sia-sia. Dia tidak bereaksi sama sekali.

 

“Emm. Noona, apa kau sudah siap?” tanya Sungjin padaku. Entah apa yang jadi penyebabnya, wajah namja manis ini sedikit merona merah. Tapi aku diam saja, tidak ingin mengutarakan rasa penasaranku ini.

 

Aku mengangguk. Kemudian Sungjin memintaku untuk mengikutinya menuju garasi mobil keluarga Lee. Setelah menekan tombol unlock di kunci mobil itu, dia memasuki mobil di sana. Aku tahu merk mobil ini, Audi. Tapi aku tidak tahu mengenai tipenya. Aku memasuki mobil di kursi samping pengemudi, memasang sabuk pengaman lalu menatap lurus ke depan. Sungjin mengeluarkan mobil dari dalam garasi dengan ahlinya.

 

“Sungjin-ah, kau sudah mendapatkan SIM?” tanyaku setelah keheningan yang rasanya cukup lama.

 

“Tentu saja. Bulan lalu aku mendapatkannya.” Ia tersenyum bangga padaku. Aku balas tersenyum.

 

“Em, noona, bagaimana belajarmu hari ini?” tanya Sungjin dengan sopan.

 

Aku menghempaskan tubuhku ke jok penumpang. “Benar-benar buruk, Sungjin-ah. Jika kau jadi aku, kau tidak akan tahan mendengar teriakannya selama berjam-jam. Aku heran, kenapa Kelinci Pirang itu tidak mengalami kesakitan di tenggorokanku karena berteriak seperti itu.” Aku bergumam gusar.

 

Sungjin terkekeh di sampingku. “Benarkah seburuk itu? Aku sama sekali tidak menyangka hyung akan bertingkah seperti itu, padahal biasanya dia sangat lembut pada yeoja.”

 

Aku mendengus. “Aku tak yakin jika dia menganggapku sebagai seorang yeoja. Si Kelinci Pirang itu melihatku seperti barang tak berguna. Seperti alat pelampiasannya karena dia selalu meneriakiku.”

 

Sungjin tersenyum mengerti. “Gwaenchana, Noona. Sungmin hyung pasti akan berubah.”

 

Aku membalas senyumannya, “oh, Sungjin-ah. Kau tahu di mana alamatku?” tanyaku setelah sadar bahwa aku belum mengatakan alamat apartment-ku pada bocah manis ini.

 

“Noona, tidak perlu khawatir. Tadi Sungmin Hyung memberiku alamat apartment-mu. Kebetulan hari ini aku ingin pergi ke rumah temanku untuk bermain futsal bersama, dan rumah temanku itu dekat dengan apartment-mu,” ucapnya sambil tersenyum.

 

Aku menghela napas. Ternyata Sungmin mengetahui setidaknya sedikit tentangku. Kupikir selama ini dia selalu buta mengenaiku. Aku menyangka jika dia tidak pernah melihatku sebelum ini. Aku tersenyum kaku, sedikit senang karena pemikiran itu.

 

 

…………………….

 

Jam sudah menunjukkan pukul setengah Sembilan malam. Barusan aku sampai di apartment dan langsung membanting tasku kemudian membaringkan tubuhku di ranjang kecil yang kumiliki. Hari ini rasanya begitu melelahkan. Penuh teriakan dan pemerasan otak. Tapi aku perlu sedikit senang karena bisa melihat wajah Lee Sungmin dari jarak dekat.

 

Begitu memikirkan tentang Lee Sungmin, jantungku langsung berdegup kencang, bertalu memukul rusuk. Aku bisa merasakan kedua pipiku memanas dan menduga bahwa pipiku ini sudah berubah warna menjadi merah merona. Wajah Lee Sungmin terus saja berputar-putar di otakku, membentuk suatu pola unik dan aneh yang membuat darahku serasa mendesir. Aku benar-benar ragu dengan hatiku sendiri, apa aku kembali menyukai Lee Sungmin?

 

Merasa tidak memiliki jawaban atas pertanyaan dalam benakku tadi, aku beralih menuju balkon apartment. Tempatku melukis seperti biasanya. Dengan cahaya lampu yang kubuat seterang-terangnya, aku mulai menyiapkan peralatan melukisku dengan serapi mungkin. Sebingkai kanvas telah kusiapkan, lalu aku mengambil beberapa tub cat minyak serta kuas-kuas dengan aneka bentuk bersamaku. Mataku terfokus pada area putih bersih kanvas di depanku, mencari ide lukis.

 

Tanpa berpikir, aku menggoreskan warna biru langit di atas kanvas itu. Lalu tiba-tiba otak lemotku ini menangkap ide yang sama sekali tidak pernah kuduga sebelumnya. Aku terkekeh pelan. Dengan sedikit tersenyum, aku kembali menggambarkan sosok pria berambut pirang yang sedang berdiri di suatu ruangan warna biru muda dengan ekspresi marah dan membentak, lengkap dengan beberapa efek sweatdrop di sana-sini. Serta aku menambahkan gadis kecil berambut cokelat gelap yang sedang duduk di kursi belajar, membelakangi si namja pirang. Ekspresi gadis kecil itu kubuat mengantuk dan seolah tidak peduli dengan bentakan si namja.

 

Tak terasa aku sudah tiga jam berkutat dengan peralatan melukisku, dan lukisanku ini sudah hampir sempurna. Aku menambahkan kata-kata di sudut kanan bawah lukisan,

 

Satu hari terlewati dengan sedikit rasa sulit,

Akankah besok menjadi lebih mudah?

 

Setelah menuliskan kata-kata itu, aku melukis tanggal. Kebiasaanku seperti pada lukisan-lukisanku yang lain. Aku segera membereskan peralatan lukisku dan masuk kembali ke dalam apartment-ku yang hangat. Memasukkan tub-tub cat minyak ke lemari khusus serta mencuci palet dan kuasnya hingga bersih. Kuletakkan hasil lukisanku di atas meja belajar dan menyandarkannya ke dinding sambil menunggu hingga kering.

 

Sial, aku bahkan sampai melupakan makan malamku hanya demi satu buah lukisan. Tapi apa mau dikata, perutku sama sekali tidak keberatan jika tidak diisi. Tapi aku tahu resikonya, aku harus makan sedikit lebih banyak pagi besok. Baiklah.

 

Aku merebahkan lagi tubuhku ke atas ranjang mungilku, berusaha memejamkan mata, mengarungi alam mimpi. Pikiranku kembali memunculkan wajah Sungmin. Jujur, aku semakin tidak bisa melupakan namja itu. Caranya tersenyum membuatku ikut tersenyum-senyum sendiri. Cara bicaranya, aku suka walaupun lebih banyak membentakku. Aku menyukai segalanya yang dia lakukan.

 

Apa benar aku jatuh cinta pada Lee Sungmin?

 

To Be Continued

 

jujur aja pas aku baca ulang bagian yg terakhir , aku ngerasa kalo bagian itu bikin bosen soalnya nggak ada dialog nya -_- . tapi apalah mau dikata, kemampuan ku cuma sampe segitu..

Jeongmal gamsahamnida buat yg udah mau baca.. ^^ aku selalu berharap kalian bisa berhenti menjadi silent readers dan membubuhkan sedikit komentar di setiap FF ku ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: