Fanfiction : Footsteps (1/2)


Footsteps

 

Title                       : Footsteps

Genre                   : Romance, Angst

Pairing                  : SungYoung [Sungmin >< Min Young]

Other Cast          : Siwon

Length                  : One shot

 

Annyeonghaseyo… FF ini tercipta gara-gara rasa galauku karena nggak bisa nonton MuBank Jakarta, rasa sebel saat Syahrini salaman sama Sungmin, dan rasa iri berat sama lucky fans yang berhasil menangin Google+ bareng Super Junior. Pokoknya segala macem rasa galau campur jadi satu deh -_-

Jadi, harap maklum jika FF ini nggak sesuai sama yang diharapkan.

 

WARNING ! : TYPO(s), Cerita Gaje, Angst gk kerasa, bahasa Inggrisnya salah de-el-el.

 

Happy Reading ^^

Back Sound : BoA – Waiting, SuJu M – Blue Tomorrow, SuJu M – Distant Embrace, SuJu – Daydream

‘Apakah yang dinamakan kehilangan itu?

Satu saat di mana kau tidak bisa menemui orang yang kaucintai,

Baik secara nyata maupun emosional.

Sehingga yang hanya bisa kaurasakan hanyalah satu,

Kekosongan,’ – Han Min Young

 

‘Penyesalan selalu datang terlambat,

Dan aku harus membayar mahal karena telah menyianyiakan sumber napasku,

Jika waktu bisa kuputar kembali,

Aku akan mengubah hari itu hingga kau tetap menjadi milikku,

Aku mencintaimu selamanya,’ – Lee Sungmin

 

 

 

NORMAL Point of View

 

HAN MIN YOUNG melepaskan flat shoes-nya, kemudian menaruhnya di rak sepatu dekat pintu apartment. Min Young menghela napas lelah, hari ini ia memang cukup sibuk. Sepupunya dari New York, Choi Siwon, datang dan dia harus menyambutnya. Bukannya ia sebal, justru Min Young sangat merindukan sepupunya itu. Tapi pertemuan itu membuat jadwalnya jadi berantakan. Jadwal yang sangat penting menurut Min Young.

 

Min Young melirik kalendar, menatap tanggal yang dilingkari di sana. Angka 12 bulan Maret ini akan menjadi hari yang paling bahagia pagi Min Young. Bagaimana tidak, di hari itu dia akan merayakan hari jadinya bersama namja bernama Lee Sungmin yang notabene adalah kekasihnya selama dua tahun ini. Dan Min Young berharap acara yang sudah ia rencanakan akan berjalan dengan lancar.

 

Hari ini Min Young dikejutkan pada fakta unik. Choi Siwon, sepupunya, ternyata adalah teman baik dari Lee Sungmin. Dan tentu saja Min Young bisa meminta bantuan kepada Siwon untuk membuat rencana kejutan Anniversary mereka. Sungmin pasti menyukainya.

 

Mengingat nama Lee Sungmin membuat Min Young harus mendesah kecewa. Dia sangat yakin bahwa Sungmin akan menyukai kejutan darinya nanti, dia sangat yakin. Tapi sikap Sungmin yang sekarang ini berubah mulai membuat Min Young pesimis. Lee Sungmin sudah berubah, begitulah pemikiran gadis ini.  Lee Sungmin yang sekarang bukanlah Lee Sungmin yang dulu. Sungmin yang dulunya hangat dan penuh perhatian telah menjadi Sungmin yang dingin dan selalu disibukkan dengan pekerjaannya hingga tak bisa menyisakan waktu untuk Min Young.

 

Namun tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Yang terpenting adalah membuat Sungmin terkesan dengan kejutan yang akan ia siapkan nantinya. Min Young melangkah menuju meja sofa setelah sebelumnya meletakkan tas biru kecil yang ia bawa tadi ke meja ruang tengah. Dengan segera ia meraih ponsel dari dalam tas kemudian menghubungi satu nomor.

 

Choi Siwon.

 

……………………………………….

 

 

Hari ini Min Young kembali menemui Choi Siwon. Tapi kali ini dia bukannya melakukan sambutan atau menjadi tour guide mendadak, melainkan meminta bantuan kepada Siwon untuk membuat kejutan perayaan Anniversary-nya yang kedua bersama Lee Sungmin. Gadis ini berharap sepupunya dapat diandalkan.

 

Siwon sudah duduk di meja café yang sudah disepakati, dan Min Young datang sepuluh menit kemudian.

 

“Sorry, I’m late, Have you been waiting for me for a long time?” Tanya Min Young sambil menarik kursi di meja itu lalu mendudukinya. Kemudian ia melepas tasnya dan menaruhnya di atas pangkuan.

 

“Not so long. I can wait for you for longer time,” jawab Siwon sambil tersenyum manis. Memamerkan karismanya.

 

“Don’t tease me, Wonnie-ya,” tukas Min Young cepat.

 

Siwon menghela napas. “Okay. Now, what do you want to me to do?”

 

Min Young berhenti untuk mengatur napas terlebih dulu, menenangkan pikiran. “Aku butuh batuanmu untuk membuat pesta kejutan untuk Lee Sungmin. Kau kenal dia, bukan?”

 

Siwon mengangguk pelan.

 

“Dia sekarang kekasihku. Kami sudah dua tahun berpacaran dan aku ingin merayakannya. Kau bisa membantuku?”

 

Siwon terlihat manggut-manggut mengerti. “Aku mengerti, tapi aku tak yakin bisa membantumu. Hey, tapi aku punya usulan. Kau bisa membuat perayaan dengan makan malam romantis! Tempat mana yang paling sering kalian kunjungi dulu?” sekarang giliran Siwon yang bertanya.

 

Min Young menggigit bibir bawahnya ragu, mencoba membuka memori di otaknya. Dulu, Lee Sungmin dan dirinya suka sekali pergi ke pantai Samcheok untuk menghabiskan akhir pekan. Dulu sebelum sikap Sungmin mulai berubah.

 

“Pantai Samcheok,” jawab Min Young dengan suara yang pelan.

 

Mata Siwon tampak berbinar, “whoa, that’s great! Kau bisa melakukan reservasi pada tempat itu, menyewa beberapa peralatan serta perlengkapan makan malam di kala senja di situ! It will be a very glamour dinner!”

 

Min Young hanya mengangguk, mengiyakan. Kemudian keduanya diam. Siwon masih menikmati cappuccino pesanannya, sedangkan Min Young hanya diam sambil merasakan angin kota yang menghempas pelan rambut hitamnya. Siwon sedikit heran dengan sikap aneh Min Young.

 

“Kau tidak pesan sesuatu, Min Young-ah?” tanya Siwon heran.

 

“Tidak. Aku sedang tidak ingin makan apapun,” jawab Min Young. Suaranya terdengar sendu

 

“Atau minum mungkin? Kau tidak mau pesan minuman juga?” Siwon bertanya skeptis. Pertanyaan Siwon dibalas dengan gelengan kepala dari Min Young, tanda gadis ini juga tidak mau minum apa-apa. Siwon memandang aneh Min Young.

 

“Kau aneh, really weird.” Itu bukan pertanyaan.

 

Min Young diam saja tidak menanggapi perkataan sepupunya ini. Lalu dengan serta merta, ia bangkit berdiri sambil menyangking tasnya.

 

“Aku pergi dulu,” pamit Min Young kemudian.

 

Siwon terperangah kaget, “why are you so hurry?” tanyanya heran.

 

“Aku ingat kalau ada urusan,” Min Young berbohong. “Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku, aku sangat menghargainya. Oh, terima kasih juga sarannya.” Min Young berlalu dengan langkah anggun. Siwon memandangi punggung Min Young dengan tatapan heran bercampur penasaran.

 

“Pasti ada yang salah,” bisik Siwon dengan suara pelan.

 

 …………………………………….

 

 

Langkah Sungmin terlihat tegap menyusuri lorong apartment-nya. Ia berhenti di satu pintu warna cokelat tua, memencet serangkaian tombol, lalu masuk ke ruang apartment-nya. Ia berjalan menuju sofa warna peach mewah, menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke sofa. Sungmin menghela napas lelah, pekerjaannya teramat banyak akhir-akhir ini. hingga waktunya seolah habis ia pakai untuk bekerja, dan waktu untuk Min Young menjadi sangat berkurang. Sungmin merasa bersalah.

 

Sungmin bangkit lalu menuju kamar mandi. Sekitar duapuluh menit kemudian, ia sudah keluar lagi dengan wajah yang lebih segar. Handuk masih tergantung di lehernya, handuk kimono masih melekat di tubuh indahnya. Sungmin melangkah menuju kamar untuk mengganti pakaian.

 

Sungmin kembali lagi, dengan celana kain warna hitam dan T-Shirt biru tua. Sungmin kembali duduk di sofa peach-nya lalu mengambil remote untuk menyalakan TV. Tayangan berita, membosankan. Ia melirik jam dinding di atas TV, sudah setengah duabelas lewat. Min Young pasti sudah tidur.

 

Sempat terpikir oleh Sungmin untuk menghubungi gadisnya. Tapi pria ini sangat yakin bahwa Min Young sudah tidur. Sungmin sangat mengenal kekasihnya, ia sangat tahu bahwa Min Young bukanlah gadis yang suka begadang atau menghabiskan malam dengan kegiatan tak berguna seperti menonton film. Gadis ini lebih suka tidur daripada kegiatan apapun. Tapi jika Min Young sedang ada pikiran hingga membuatnya kalut, ia sanggup bertahan terjaga hingga pagi.

 

Mata Sungmin berkeliaran ke seluruh penjuru apartment. Lalu ia berhenti saat matanya secara tidak sengaja menuju satu titik, kalendar meja. Tanggal duabelas ia lingkari dengan simbol hati. Namja ini ingat benar bahwa hari itu adalah hari perayaan Anniversary-nya yang kedua bersama Min Young. Ia sungguh ingat.

 

Sungmin menghela napas kasar. Hari ini dia terlalu sering menghela napas, dan dapat dipastikan bahwa bebannya memang sangat berat akhir-akhir ini. Ia mengambil tas kantor yang tadi ia taruh dan membuka isinya. Jemari panjangnya menarik selembar dokumen yang dibungkus folder cokelat. Napasnya seakan tercekat melihat dokumen itu, hatinya mendadak sakit.

 

Sungmin segera mengambil ponsel hitamnya. Ia memang bermaksud menghubungi Min Young. Tapi karena dikiranya Min Young sudah tidur, ia hanya mengetikkan pesan singkat ke Min Young.

 

 

 

|To : Min Young Chagi^^

 

Sore ini jam empat, temui aku di Sungai Han. Aku ingin memberitahu hal penting padamu.|

 

 

Sent.

 

Begitu pesan singkat itu terkirim, Sungmin langsung terdiam. Perasaan sakit juga gelisah terasa merayap di hatinya. Tapi ia mencoba mengabaikan rasa itu, ini adalah keputusannya. Keputusan demi masa depannya. Masa depan yang ia sendiri tidak tahu bagaimana jadinya.

 

Satu pesan baru di ponsel Sungmin.

 

Bergegas Sungmin mengecek ponselnya. Min Young mengirimi pesan balasan. Sungmin tercekat, ternyata Min Young belum tidur. Sungmin mendesah, gadis ini pasti sedang kalut.

 

 

|From: Min Young Chagi^^

 

Baiklah, aku akan datang tepat waktu. Sleep well^^|

 

 

Sungmin memejamkan matanya, sekarang pikirannya-lah yang kalut. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya pertemuan dirinya dengan Min Young sore nanti. Tapi Sungmin masih berusaha menutupi itu semua, ia memendam semua perasaan kalut dan sakit itu dalam-dalam, tidak ingin membiarkan perasaan itu menyeruak ke permukaan. Ia memang pandai menyimpan masalahnya sendiri. Ia memang aktor yang hebat.

 

Namja ini segera mengambil remote lalu menekan tombol ‘power’ untuk mematikan TV yang sedang menayangkan berita tengah malam. Tayangan yang tidak begitu menarik bagi Sungmin. Lalu dengan segera ia melangkah menuju kamarnya, merebahkan tubuh di antara tumpukan bantal-bantal warna tosca, lalu berusaha mengarungi alam mimpinya.

 

Sungmin tidak pernah tahu, bahwa di hatinya ada sesuatu yang mengalir begitu menyakitkan.

 

…………………………………

 

 

Min Young terjaga. Pikirannya yang banyak membuatnya tidak bisa tidur. Apa lagi yang bisa mengganggu pikirannya hingga seperti itu selain Lee Sungmin? Namjanya ini hampir tidak bisa lagi memiliki waktu luang. Begitu banyak pekerjaan, begitulah jawaban yang akan Min Young dapatkan dari Sungmin.

 

Ponsel silver Min Young bergetar, ada pesan masuk.

 

 

|From: Sungminnie Oppa^^

 

Sore ini jam empat, temui aku di Sungai Han. Aku ingin memberitahu hal penting padamu.|

 

 

Min Young sedikit tersentak kaget mengetahui isi pesan itu. Ujung bibirnya perlahan terangkat membentuk sebuah senyum kecil yang cantik. Sungmin mengajaknya kencan! Hal yang tak pernah Min Young duga karena akhir-akhir ini sikap Sungmin memang dingin padanya. Apakah ini adalah hadiah awal perayaan Anniversary itu dari Sungmin? Min Young tidak tahu pasti.

 

Min Young segera mengetik pesan balasan untuk pesan Sungmin.

 

 

|To: Sungminnie Oppa^^

 

Baiklah, aku akan datang tepat waktu. Sleep well^^|

 

 

Sent.

 

Min Young menghembuskan napas lega. Begitu lega rasanya ketika Sungmin kembali bersikap manis padanya. Namun Min Young sedikit merasa aneh. Kata-kata dalam pesan milik Sungmin tadi memiliki bahasa yang cukup kaku untuk ukuran pasangan kekasih. Min Young hanya bisa menduga-duga. Kemungkinan karena terlalu sering menggunakan bahasa formal dalam pekerjaan kantornya, Sungmin jadi terpengaruh menggunakan bahasa itu dalam pesan untuk kekasihnya. Min Young sama sekali tidak tahu.

 

Tapi yang pasti, Min Young merasa lebih mudah tidur malam ini. Pesan dari Sungmin tadi membuat pikirannya mendadak terasa ringan. Padahal sebenarnya tidak ada yang berubah, justru yang ada hanyalah keadaan yang semakin parah.

 

 ………………………………………

 

 

Jam sepuluh pagi, Min Young mendapatkan telepon dari Siwon.

 

“Yoboseyo, Siwon-ah. Ada apa?”

 

‘Aku sudah mereservasi tempat di pantai Samcheok untuk tanggal duabelas. Kau bisa memakainya saat senja untuk makan malammu dengan Sungmin hyung.’

 

“Jjinja? Ah, terima kasih, Siwon-ah! Kau yang terbaik!”

 

‘Aku juga sudah menyewa peralatan untuk dinner pada tanggal itu. Semuanya sudah beres,’ suara Siwon terdengar seperti tersenyum.

 

“Ahh, kurasa kau tidak perlu menolongku terlalu banyak, Siwonnie. Aku terlalu merepotkanmu. Aku –“

 

‘Hey, ini semuanya tidak gratis! Kau harus membayarnya setelah tanggalnya terlewati!’

 

Min Young mendengus kecil. “Kau tidak berubah, Siwon-ah. Sama saja seperti dulu,” sindir Min Young pedas. Min Young sebenarnya merasa sedikit terganggu dengan sikap Siwon yang selalu ada maunya, udang di balik batu. Tapi dia juga senang dan merasa sangat berterima kasih pada Siwon karena telah banyak membantunya.

 

‘Kau kan tahu bagaimana diriku,’ sewot Siwon sedikit tersinggung.

 

“Baiklah. Sekali lagi, terima kasih, Siwon-ah! Kau benar-benar sepupuku yang terbaik!”

 

Percakapan telepon berakhir.

 

Wajah Min Young serta merta langsung sumringah. Hari ini adalah hari terbaik baginya. Semua rencana berjalan dengan lancar dan nanti sore Sungmin akan mengajaknya berkencan. Sungguh hari yang menakjubkan bagi Min Young.

 

……………………………………..

 

 

Jam tiga lewat, Min Young sudah siap dengan dress selutut warna pale beige-nya. Ia memakai tas kecil warna cokelat serta sepatu boot berwarna senada. Min Young menggerai rambut lurus panjangnya. Tadi siang ia pergi ke salon untuk mewarnai rambutnya dari hitam menjadi cokelat kemerahan.

 

Dengan semangat dan senyum yang terlukis lembut di bibirnya, Min Young melangkahkan kaki menuju halaman depan gedung apartment-nya lalu menyetop taksi. Ia yakin Sungmin akan senang melihat gaya baru dari Han Min Young. Gadis ini berharap Sungmin akan semakin mencintainya.

 

Jam empat kurang lima menit Min Young sudah sampai di lokasi. Kepalanya celingak-celinguk mencari sosok Sungmin di antara beberapa orang yang ada di kawasan itu. Lalu matanya menangkap siluet tubuh Sungmin di tepi sungai Han. Namja itu sedang menatap jauh ke depan, menatap tempat di seberang sungai. Min Young menyadari satu hal;tatapa namja itu kosong, benar-benar kosong.

 

Min Young menghampiri Sungmin lalu menggenggam tangan namja itu. Sungmin sedikit tersentak lalu berbalik menghadap Min Young yang sedang tersenyum.

 

“Kau sudah sampai.” Gumam Sungmin dengan suara kecil.

 

“Apa aku terlambat?”

 

“Ini bahkan belum jam empat,” Sungmin terdiam sebentar, mengamati rambut Min Young.” Ke mana rambut hitammu?” tanya Sungmin heran.

 

“Aku mewarnainya. Bagaimana? Apa gaya ini cocok untukku?” tanya Min Young meminta pendapat.

 

Sungmin tersenyum manis. “Kau selalu cantik dalam segala keadaan, Min Young-ah.”

 

“Benarkah? Kalau begitu, kenapa kita tidak jalan-jalan saja?” Min Young menawarkan.

 

Senyum Sungmin semakin lebar, “as your wish.”

 

Mereka pun berjalan di sepanjang tepi sungai Han, saling menggenggam tangan. Min Young benar-benar menikmati saat-saat seperti ini. Baginya, tidak ada yang lebih nyaman dibandingkan dengan tangan hangat Sungmin yang sekarang ini sedang menggenggam lembut tangannya. Terasa nyaman dan menenangkan. Senyum Min Young tak henti-hentinya menyeruak. Tapi hal ini tidak berlaku bagi Sungmin.

 

Namja ini tampak gelisah. Dari tadi ia tidak bisa berhenti menampilkan wajah cemas dan gugupnya. Ia bukan gugup karena bersama Min Young, melainkan ia gugup memikirkan apa yang akan terjadi jika dia mengatakan maksud dari ajakannya pada Min Young. Keringat dingin mulai muncul di tengkuk dan keningnya. Wajahnya selalu terlihat gelisah serta tatapannya kosong. Beruntung sekali Min Young tidak menyadari hal ini.

 

“Kau tahu, aku sama sekali tidak menyangka kau akan mengajakku kencan hari ini. Aku sangat senang,” gumam Min Young dengan suara senang.

 

Sungmin hanya bisa tersenyum masam, merasa sedikit bersalah karena telah membohongi Min Young. Sebenarnya bukan ini  yang Sungmin maksudkan. Bukan kencan yang ia inginkan.

 

“Kau harus datang ke pantai Samcheok tanggal duabelas nanti. Kita akan merayakannya bersama.” Min Young memberitahu Sungmin. Senyum tak henti-hentinya hilang dari wajah Min Young.

 

Sungmin membeku begitu mendengar permintaan dari yeojachingu-nya. Tidak menyangka bahwa Min Young mempunyai pikiran sejauh itu. Ia sama sekali tidak menduga Min Young yang ia kenal pendiam ternyata bisa memberi kejutan yang lumayan hebat. Tapi bukan ini yang Sungmin inginkan.

 

“Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku sudah mereservasi tempat itu untuk dinner romantis. Kau pasti akan menyukainya.” Min Young masih tidak menatap Sungmin. Jadi, gadis ini sama sekali tidak mengetahui bagaimana ekspresi wajah Sungmin yang begitu gugup.

 

“Kita akhiri saja.” putus Sungmin tiba-tiba. Ekspresinya kaku.

 

Min Young sama sekali tidak mengerti ke mana arah pembicaraan mereka. Ia menoleh ke arah Sungmin, sedikit tersentak dengan ekspresi kekasihnya ini. “A-Apa maksudmu?” tanya Min Young terbata.

 

Sungmin menghela napas, berusaha tenang. “Aku dapat pekerjaan baru di Boston. Aku akan ke sana,” jawab namja ini dengan yakin. Tapi suaranya terdengar bergetar saat mengucapkan kata Boston.

 

“Kau akan pergi?” tanya Min Young dengan suara yang lemah. Ia menyadari kakinya sekarang terasa goyah.

 

Sungmin mengangguk. “Segera setelah ini semua berakhir.”

 

Min Young mendongak, menatap Sungmin dengan ekspresi memohon. Kini matanya sudah basah.

 

“Tidak bisakah aku ikut denganmu?” Min Young memohon. Matanya makin berair.

 

Sungmin menggeleng serius. “Jangan gila, Min Young-ah. Bagaimana dengan pekerjaanmu di sini? Lalu, kau akan meninggalkan Seoul hanya untuk mengikutiku? Itu sangat konyol, kau tahu?” Sungmin bersikeras.

 

“Lalu aku harus bagaimana? Aku sama sekali tidak ingin berpisah denganmu! Kau tahu aku mencintaimu, Lee Sungmin! Kau tahu itu bukan?!” kini suara Min Young tak terkendali. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, mengalir bebas dan deras menuruni pipinya.

 

Sungmin hanya diam saja, menatap wajah Min Young yang sudah basah oleh air mata. Ada perasaan sakit yang menjalar di hatinya kala ia menatap Min Young yang sedih, Min Young yang menangis. Tapi kali ini ia tidak bisa berbuat apapun. Bahkan untuk memeluk dan menenangkan Min Young pun ia tidak yakin bisa melakukannya. Sungmin tidak ingin membuat keadaan semakin memburuk bagi Min Young. Sungmin ingin secepatnya menyelesaikan ini.

 

“I-Ini hanya masalah waktu, bukan? B-Baiklah! Aku akan menunggumu! Tidak peduli kau pergi dua tahun, tiga tahun, bahkan sepuluh tahun pun, aku akan menunggumu!” bahu Min Young bergetar hebat saat mengucapkan kata-kata itu. Suara isakan kini lolos dari bibir mungilnya.

 

“Ini bukan masalah berapa lama, Min Young-ah! Aku tidak akan kembali!” kini suara Sungmin ikut menaikkan nada bicaranya.

 

Min Young mendadak membeku. Ucapan Sungmin barusan begitu menusuknya, tajam, tak berperasaan. Tapi dengan cepat yeoja ini menampik segalanya. Ia mencintai Sungmin. Dan selamanya gadis ini tidak akan melepaskan Sungmin begitu saja.

 

“A-Aku tidak peduli! Aku tetap akan menunggumu hingga kembali! Aku tak peduli apapun!” Min Young tetap saja bersikeras. Air mata mengalir lebih deras dari sebelumnya. Tapi tangan Min Young tidak juga kunjung bergerak untuk menyekanya. Tenaganya seolah tersedot habis.

 

Sungmin sekali lagi menghela napas kesal dan jengkel. Ia sama sekali tidak menyangka yeoja di hadapannya ini begitu keras kepala. Sungmin sesungguhnya sangat menyukai kata-kata Min Young, tapi hatinya berontak. Ini harus segera diselesaikan agar tidak akan ada masalah kembali. Ia harus mengambil keputusan tegas.

 

Namja ini menggenggam kedua pundak Min Young, menatap kedua mata Min Young dalam-dalam. Mata Foxy Sungmin berhasil menemukan rasa takut di mata Min Young.

 

“Dengarkan aku, Han Min Young. AKU, TIDAK, MENCINTAIMU, LAGI. Jadi, jangan pernah kau menyia-nyiakan waktumu hanya untuk menunggu hal yang mustahil.” Ucap Sungmin dengan penekanan di beberapa kata.

 

Kata-kata Sungmin berhasil merobohkan sikap keras kepala Min Young. Hatinya hancur, lebih daripada yang ia duga. Kini Min Young hanya bisa menatap kosong dan nanar sosok kejam di depannya, tak mampu berkutik, bahkan untuk berkedip saja sulit ia lakukan.

 

“Kuharap kau bisa mengerti keputusanku.” Sungmin menghilangkan keheningan yang terjadi.

 

Min Young tidak menjawab. Bibirnya rasanya seperti dibungkam, tidak mampu membalas perkataan apapun dari namja di depannya ini. isakannya masih belum berakhir. Semua ini mengguncang dirinya, menghancurkan hatinya. Seorang kekasih yang sudah bersamanya selama dua tahun, tega memutuskan hubungan mereka bahkan beberapa hari sebelum hari jadi mereka.

 

“Hiduplah dengan baik. Aku akan selalu mengingatmu… sebagai masa laluku. Selamat tinggal.” Sungmin berbalik untuk melangkah pergi. Tapi belum dua langkah ia ambil, Sungmin merasakan seseorang menahan lengannya. Han Min Young.

 

Min Young terisak semakin keras. Gadis ini menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang menohok hatinya. Tidak, gadis ini tidak akan bisa bertahan hidup jika tanpa Lee Sungmin, nafasnya. Tangan mungil Min Young menggenggam lengan kokoh Sungmin, mencengkeram pelan seperti tidak ingin Sungmin pergi dari tempat itu.

 

“A-Apa… aku benar-benar tidak bisa ikut denganmu?” Min Young berhenti sebentar, isakan membuyarkan kalimat yang akan ia ucapkan. “Kau tidak menginginkanku?”

 

Sungmin memejamkan matanya. Sakit. Rasanya ia juga ingin menangis. Melihat yeoja yang telah menjadi kekasihnya selama dua tahun ini menangis, ia sama sekali tidak bisa apa-apa. Nyeri mulai terasa di dadanya, seiring dengan semakin kerasnya isakan Min Young. Tapi kemudian ia kembali membuka matanya, melepas paksa genggaman tangan Min Young di lengannya. Min Young tersentak dengan sikap Sungmin.

 

“Mian. Aku hanya ingin membangun karirku tanpa beban yang mengikuti,” ucap Sungmin begitu dingin.

 

Beban yang mengikuti, batin Min Young kelam. Jadi selama ini Sungmin hanya menganggap Min Young sebagai beban? Hal yang begitu membuat namja ini kewalahan dan tertekan? Seperti itukah arti Min Young di mata Sungmin?

 

Kini Sungmin sudah berjalan menjauh, menghilang dari pandangan Min Young. Yang tersisa hanyalah Min Young yang menangis, berdiri seorang diri di tepi Sungai Han yang mulai gelap. Mendapat tatapan heran dari beberapa orang yang lewat di sekitar Min Young.

 

Hari mulai senja, matahari sudah akan tenggelam di dunia bagian barat. Min Young memandang lurus ke depan, tidak lagi menangis. Namun sisa air matanya yang mengering masih terlihat jelas di kedua pipi serta sekitar matanya. Tatapan Min Young kosong, tanpa sinar sedikitpun. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha memendam rasa nyeri di dada karena hal paling berarti di hidupnya sudah pergi. Pergi dengan tanpa perasaan.

 

Mengingat Sungmin, Min Young mulai menangis lagi. Kali ini ia membiarkan Kristal beningnya terjun bebas di wajah, tak ingin mengusap. Karena jika ia menyeka air mata itu, yang keluar akan semakin banyak lagi.

 

“Min Young-ah? You’re here?”

 

Suara yang familiar. Min Young begitu mengenal pemilik suara itu. Pemiliknya adalah sepupunya yang paling baik, yang paling menyayangi Min Young seperti adik kandung sendiri. Choi Siwon.

 

Siwon menghampiri Min Young, berdiri di belakang gadis itu. Namja ini menyentuh pundak Min Young dengan telapak besarnya, tapi Min Young tetap bergeming. Merasakan ada yang aneh, Siwon bertanya lagi.

 

“Min Young-ah, what’s wrong with you?” tanya Siwon sekali lagi.

 

Bukannya menjawab, Min Young malah mendiamkan Siwon. Lalu Siwon dibuat tersentak saat melihat bahu Min Young yang bergetar. Gadis ini menangis. Lalu dengan segera Siwon membalik tubuh Min Young hingga menghadapnya. Hati Siwon mencelos kala menatap wajah basah penuh air mata Min Young.  Namja ini langsung menarik Min Young menuju ke pelukannya.

 

“Hey, apa yang terjadi?” Siwon mencoba bertanya lagi. Min Young semakin membenamkan wajahnya ke dada jantan Siwon.

 

“He broke me up… He said he doesn’t love me anymore… what should I do…?” nada bicara Min Young terdengar sangat sedih.

 

Siwon tidak bisa apa-apa, yang bisa ia lakukan hanyalah membelai rambut cokelat Min Young sambil membisikkan kata-kata motivasi yang sama sekali tidak memberi efek menurut Min Young. Namja ini mulai merasakan kemejanya basah oleh air mata Min Young, tapi ia mengabaikannya. Sepupu kesayangannya sedang mengalami masa terburuk dalam hidupnya, dan ia tidak akan membiarkannya semakin sedih.

 

 

………….To Be Continued……………..

 

harap maklum jika akhir-akhir ini aku jarang banget ngepost fanfic ato fakta… aku sibuk gegara tugas dan kegiatan sekolah yang bejibun kayak gunung Fujiyama… baca FF aja jarang apalagi bikin… FF ini aja butuh perjuangan ekstra keras di sela-sela kegiatan menjelang praktek table manner yang akan aku ikutin…

jadi, jeongmal mianhae jika blog ini membosankan… aku berusaha menyisihkan waktu buat ngepost karya-karya standar ku. tapi karena tanggapan dan komentar yang kurang… ya, beginilah jadinya..

give comment ne…

1 Komentar (+add yours?)

  1. leehana15
    Mar 14, 2013 @ 09:35:36

    Part 2 nya manaaaaa???
    Huwaaa….*nangiskejer*
    Sebel!
    Ini Sungmin oppa kenapa??
    Apa jgn2 sungmin sakit??
    Ayo Viii..
    Part 2 di tunggu sangat!
    Fighting!!^^b

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: