Fanfiction : Raindrops


Raindrops

 

Judul                     : Raindrops

Author                  : VhianPumpkins

Main Cast            : Lee Hyukjae (Eunhyuk Super Junior), Choi Hwarin (OC)

Genre                   : Romance, Hurt

Rating                   : General

Author Notes   : Selamat Ulang Tahun untuk Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk Super Junior. Di umur yang sudah mencapai 28 tahun, aku doakan yang terbaik untuk Oppa.

Ini FF kilat yang bikinnya hanya memakan waktu beberapa jam dan melewati satu proses edit. Jadi harap maklum jika masih ada typo J

Ini sudah aku kirim ke SJFF2010 dan masih belum diposting… yaudah, aku posting duluan di blog ini ^^

Warning : Typo(s), OOC, Cerita Gaje, de-el-el. Ini adalah Fan Fiction ter-gaje yang pernah kubikin

 

..o0o..

 

Normal Point of View

 

langit kota Seoul sore ini nampaknya kurang bersahabat. Awan-awan tebal berwarna abu-abu gelap terlihat berkumpul menutupi cahaya matahari kemerahan khas sore hari yang seharusnya tampak indah sekarang ini. Angin berhembus lumayan kencang, menerbangkan daun-daun tua yang sudah menguning di pepohonan.

 

Café di pinggir jalan itu nampak sepi, kosong melompong. Tapi masih ada dua orang yang masih berada di dalamnya, saling menatap dengan tatapan sendu. Hati mereka bergumul, bimbang ingin mengatakan hal apa. Jika di satu sisi keegoisan dijadikan jalan utama bagi hubungan keduanya, maka di sisi lain ada hasrat ingin mempertahankan—dan mengulang kembali.

 

Si pria terlihat menyesap teh di depannya tanpa minat. Tatapannya tertunduk menatap lantai. Tangannya bergerak-gerak gelisah di kursi yang ia duduki. Kemudian dia mendongak. Matanya bertemu pandang dengan gadis di depannya.

 

Si gadis itu tak kalah gelisah dengan si lelaki. Ia berkali-kali mengusap rambut panjangnya dengan gerakan ragu. Tangannya yang lain ia gunakan untuk mengaduk-aduk teh hangat di depannya. Ketika tatapannya dengan tatapan si lelaki bertemu, buru-buru ia mengalihkan pandangan. Gugup. Lalu semburat kemerahan menjalar di wajahnya hingga ke telinga.

 

“Ehem…” si lelaki berdeham sebentar. “Bagaimana kabarmu, Choi Hwarin-ssi?” tanyanya berbasa-basi.

 

Gadis bernama Hwarin itu mendongak terkejut, lalu senyum tipis muncul di wajah mungilnya. “Seperti yang kaulihat, aku baik-baik saja. Sehat dan bahagia. Bagaimana denganmu, Hyukjae-ssi?” Hwarin balik bertanya.

 

Pria yang dipanggil Hyukjae itu terlihat menganggukkan kepala ringan. “Bisa dikatakan hampir sama denganmu. Aku baik-baik saja. Yeah, walaupun akhir-akhir ini aku sangat sibuk karena jadwal latihan untuk Super Show yang super padat.” Hyukjae menghela napas setelah mengatakan kalimat terakhirnya.

 

Hwarin tertawa kecil, “kau sama saja seperti dulu. Masih seorang Eunhyuk Super Junior.”

 

Hyukjae balas dengan senyum lebar memesonanya. “Kau juga masih sama seperti dulu. Masih ada dua lesung pipi di wajahmu itu. Aku bertanya-tanya, apakah lesung pipi itu akan hilang sebelah seperti milik Jungsoo Hyung?” tawa Hyukjae sedikit lebih keras.

 

“Tidak akan pernah hilang!” ujar Hwarin kemudian. Kali ini ia tertawa lepas―dan tulus.

 

Hyukjae terdiam saat melihat Hwarin tertawa dengan begitu lepasnya. Terpesona. Mendadak ia teringat kenangan masa lalunya yang bisa dibilang indah. Dulu sekali sebelum lelaki berwajah tampan ini masuk ke dalam sebuah grup boyband bernama Super Junior, Hyukjae pernah menjalin hubungan istimewa dengan Choi Hwarin.

 

“Bagaimana keadaan hyung dan dongsaeng-mu di SuJu? Apa mereka baik-baik saja?” tanya Hwarin penasaran. Matanya berbinar menanti jawaban yang keluar dari mulut Hyukjae.

 

“Mereka juga baik—sama seperti aku. Hanya saja saat ini Yesung Hyung sering ke dokter untuk check-up cedera pada kakinya. Kau tahu, bukan, di konser kami beberapa minggu yang lalu dia jatuh hingga kakinya cedera,” jelas Hyukjae dengan nada bicara yang ringan. Akhirnya kegugupannya tadi sudah berhasil ia singkirkan.

 

“Semoga ia cepat sembuh,” gumam Hwarin dengan suara begitu lirih. “Lalu Sungmin Oppa, bagaimana kabarnya?” tanya Hwarin begitu semangat. Gadis ini memang mengidolakan Lee Sungmin SuJu.

 

Hyukjae memberi tatapan tak suka ke Hwarin. “Dia pun sama sepertiku. Sungmin Hyung saat ini masih sering siaran di Sukira bersama Wookie.”  Hyukjae terdiam sebentar. “Apa kau masih mengidolakannya seperti dulu?” tanya Hyukjae sebal.

 

Hwarin mengangguk ceria. “Ehm, tentu saja. Bukankah kau dari dulu sudah tahu kalau aku ini Pumpkins sejak dulu? Kau lupa, huh?”

 

Hyukjae tersenyum. “Tidak. Aku tidak pernah lupa,” Hyukjae bungkam sambil memilin jari-jari tangannya sendiri, “aku tidak akan pernah melupakan segalanya tentangmu, Hwarinnie-ya.” Hyukjae bergumam sedih.

 

“Hyukkie-ya…”

 

“Kenapa kau tidak mau menungguku?” tanya Hyukjae tajam.

 

“Itu…” Hwarin tidak menemukan jawaban yang pas.

 

“Aku tidak pernah mengkhianatimu, tapi kenapa kau malah menjauhiku?”

 

“Hyukkie…”

 

“Kau berjanji agar kita bisa selalu bersama-sama, tapi sekarang apa?”

 

“Dengarkan aku…”

 

“Kau yang berjanji padaku, tapi kenapa malah kau sendiri yang mengingkarinya?” kali ini suara Hyukjae terdengar bergetar.

 

“Lee Hyukjae, dengarkan aku!” seru Hwarin sedikir lebih keras. Mata gadis ini menghujam dalam-dalam wajah Hyukjae.

 

Akhirnya Hyukjae bungkam. Tatapannya sarat kepedihan yang telah lama berkecamuk dalam hatinya selama beberapa tahun ini. Bibirnya menegang, menandakan bahwa dia sedang dalam keadaan sensitive. Hwarin tahu semuanya.

 

“Itu sudah lewat, Hyukjae-ya. Kau dan aku sudah berakhir tiga tahun lalu. Kau harus menerima itu semua.” Hwarin menjelaskan dengan sedikit tercekat. Gadis ini merasa tercekik dengan ucapannya sendiri. Berat, ia merasa berat mengucapkan kata-kata itu pada Hyukjae. Ia turut merasakan rasa sakit itu juga.

 

Hyukjae mendengus, memalingkan wajahnya ke arah lain. “Menerima itu semua? Baiklah, mungkin diriku bisa menerimanya, tapi jangan harap hatiku bisa menerima itu semua, Rinnie-ya.” Hyukjae semakin berkeras, tak mau kalah.

 

Tubuh Hwarin terhempas pasrah ke kursi yang ia duduki. Ia memandang tehnya yang sudah tidak mengepulkan asap lagi, pertanda teh itu sudah mendingin. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke luar etalase café. Sunyi, sangat sepi. Hanya ada beberapa orang yang melintas di depan teras café, semuanya mengenakan baju hangat yang cukup tebal dengan payung di genggaman mereka. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi.

 

“Lalu apa yang bisa kulakukan agar kau menerima perpisahan kita?” tanya Hwarin dengan nada suara pasrah. “Kau tidak boleh memiliki perasaan khusus pada wanita yang sudah menikah.”

 

Tatapa Hyukjae memicing. “Tidak ada. Dan aku tidak peduli dengan statusmu itu. Aku memiliki perasaan cinta padamu, dan itu adalah hakku. Kau tidak berhak melarangku.”

 

“Tapi aku sudah menikah, Hyukjae-ya! Demi Tuhan!”

 

“Aku tetap tidak peduli. Sekalipun kau menikah, punya anak atau apa, aku tetap tidak akan menghilangkan rasa cintaku ini. Kau tahu aku tulus mencintaimu, Hwarinnie-ya,” balas Hyukjae dengan nada tajam. Kentara sekali ada rasa suka saat ia menyebutkan perkataannya tadi.

 

Hujan.

 

Jutaan tetes air hujan turun dengan derasnya. Disertai angin yang tidak terlalu kencang yang meniup-niup pepohonan di luar café. Beberapa orang yang kebetulan melintas di depan café nampak buru-buru membuka payung mereka untuk melindungi tubuh dari dinginnya air hujan. Langit sudah benar-benar pekat dengan gumpalan awan kelabu tebal.

 

Hwarin menatap air hujan yang turun deras dengan tatapan merana. Ia tidak bisa pulang ke rumahnya tepat waktu. Suaminya, Jang Seohwan, pasti belum pulang. Itu artinya, ia tidak bisa meminta Seohwan untuk menjemputnya. Hwarin buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam tas biru kecil miliknya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk layar ponsel touch-screen itu, mencari nomor perusahaan penyedia jasa taksi.

 

“Kau mau menelepon siapa?” tanya Hyukjae curiga.

 

Hwarin mendongak menatap Hyukjae, lalu matanya kembali memandangi layar ponselnya. “Aku mau menelepon taksi untuk pulang. Suamiku belum pulang dari kantor jadi aku tidak bisa memintanya untuk menjemputku.”

 

Hati Hyukjae mendadak terasa sangat sakit begitu Hwarin menuntaskan ucapannya. Suami… bahkan Hwarin tampak begitu lancar saat mengeja kata itu. Tak bisa dipungkiri serangan rasa pedih mulai menghujam kuat dadanya, membentuk berbagai perasaan tak suka—juga cemburu yang sepenuhnya beralasan.

 

“Kau tidak perlu menelepon taksi. Temani aku di café ini hingga hujan berhenti,” pinta Hyukjae. Suaranya datar.

 

Hwarin terlihat ragu, “tapi…”

 

“Kumohon… untuk kali ini saja.” kali ini ia begitu memohon. Matanya terlihat terkulai lemah di wajahnya. Ekspresi yang sejak dulu tak mampu membuat Hwarin menolak permintaannya.

 

“Eum, baiklah.”

 

Hwarin kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Gadis ini bisa mendengar helaan napas lega―dan senang―dari Hyukjae. Hwarin tahu Hyukjae saat ini sedang merasa senang, dan ia mau tidak mau ikut merasa senang karena Hyukjae.

 

Hwarin meraih cangkir teh, lalu menyesap isinya. Keningnya berkerut saat menyadari bahwa teh itu sudah mendingin. Ia meletakkan cangkir itu kembali ke tatakan sambil mengernyit tidak suka. Hwarin benci teh dingin.

 

Hyukjae melihat itu. “Biar kupesankan lagi untukmu.” Hyukjae menawarkan.

 

Belum sempat Hwarin membuka mulut untuk menolak, Hyukjae sudah terlebih dahulu memanggil pelayan untuk memesan teh kembali. Kali ini ia juga memesan dua porsi cream soup untuk menghangatkan badan.

 

Pelayan itu kemudian berlalu. Kini tinggal mereka berdua di café. Hyukjae tak bisa berhenti memandangi wajah Hwarin yang menurutnya cantik—sangat cantik. Sedangkan gadis ini mendadak menjadi salah tingkah karenanya.

 

Pintu café terbuka, diikuti oleh angin lembab beraroma hujan dari luar café. Sepasang kekasih tampak memasuki café dengan baju yang cukup basah karena air hujan. Keduanya memilih tempat duduk di pojok. Salah seorang pelayan tampak menghampiri mereka untuk mencatat pesanan serta memberikan handuk kering kecil pada mereka.

 

Hyukjae nampak makin meringkuk, berusaha menyembunyikan wajahnya agar tidak bisa dilihat oleh pasangan kekasih tadi. Ia menggeser sedikit kursinya hingga membelakangi mereka. Menghembuskan napas lega setelah yakin ia tidak akan ketahuan.

 

Jika ia ketahuan berada di café ini bersama dengan Hwarin, ia pasti akan menjadi perbincangan hangat selama beberapa waktu. Nama Super Junior akan memburuk dan ia bisa saja kehilangan citranya. Hyukjae tidak mau ini terjadi.

 

Pelayan mendatangi meja Hyukjae dan Hwarin. Meletakkan dua mangkuk berisi cream sup panas pada keduanya, serta menaruh dua cangkir berisi teh pesanannya tadi.

 

“Terima kasih,” ujar Hyukjae singkat dan pelan. Pelayan itu membungkuk lalu beranjak dari sana.

 

Keduanya menikmati hidangan di depannya dalam diam, sama sekali tidak ada topik pembicaraan yang rasanya cocok untuk diperbincangkan saat ini. Hwarin mengamati hujan di luar, tatapannya kosong. Rupanya ia sedang melamun. Hyukjae yang melihat ekspresi Hwarin hanya bisa diam. Dalam hati ia bertanya-tanya apa yang gadis ini lamunkan. Apakah gadis ini sedang memikirkan masa lalu mereka?

 

Hyukjae sama sekali tidak menyangka bisa bertemu dengan Hwarin hari ini. Di tempat mereka biasa bertemu dulu, café yang sama saat Hyukjae menyatakan cinta pada Hwarin beberapa tahun yang lalu.

 

Jadwalnya sedang kosong seharian ini karena kelonggaran yang diberikan manager setelah beberapa minggu ini sibuk persiapan konser Super Show 5.

 

Kini Hwarin sudah bisa dibilang bahagia dengan hidupnya. Memiliki suami yang setia dan mencintainya. Rumah tangga yang harmonis, serta segala kecukupan yang menjamin kehidupannya. Hwarin seolah sudah melupakan Hyukjae. Seolah keputusannya tiga tahun lalu adalah keputusan yang sama sekali ringan bagi Hwarin. Ia seolah memang ­ingin meninggalkan Hyukjae.

 

Ini bukan salah Hyukjae, juga bukan salah Hwarin. Salahkan saja pada kontrak kerja Hyukjae yang melarangnya memiliki hubungan khusus dengan gadis di luar manajemen SM Entertainment. Kebijakan yang mengharuskan setiap member dan grup untuk tidak memiliki pasangan selain yang juga bernaung di bawah label SM. Ini dilakukan agar tidak meredupkan sinar para artis SM di depan publik.

 

Bukannya SM Entertainment melarang memiliki kekasih. Hanya saja, mereka hanya akan menyetujui jika berhubungan dengan artis satu agensi. Itu untuk meningkatkan pamor serta menciptakan shipper-shipper di luar sana. Sesuatu yang sebenarnya sangat Hyukjae benci.

 

Dan kebijakan itu telah membuatnya berpisah dengan Hwarin. Gadis ini selalu nampak tertekan karena terus-terusan didesak pihak SM untuk mengakhiri hubungannya dengan Hyukjae. Awalnya Hwarin menolak keras dengan alasan terlalu mencintai Hyukjae. Tapi gadis ini tidak egois, ia tahu betul apa dampaknya di kemudian hari jika hubungannya terekspos ke publik. Bukan hanya dirinya dan Hyukjae yang akan dihujat oleh netizen, tapi Super Junior pasti juga akan terkena dampaknya.

 

Hubungan mereka berakhir dan beberapa minggu setelahnya, Hwarin menerima perjodohan yang dilakukan oleh orangtuanya. Ia menikah dengan lelaki bernama Jang Seohwan dua bulan kemudian. Hidup Hwarin banyak berubah semenjak menikah dengan Seohwan. Ia jadi jarang tertawa, jarang tersenyum dengan tulus. Apalagi alasannya kalau bukan karena ia tidak mencintai Seohwan? Bahkan hingga tiga tahun berlalu, ia masih belum mencintai Seohwan. Sosok Hyukjae masih membekas erat di hati Hwarin.

 

“Kau mencintainya?” suara Hyukjae membuyarkan lamunan panjang Hwarin. Gadis ini menoleh dan sedikit tersentak saat menyadari tatapan Hyukjae menghujam lurus wajahnya.

 

“E-eh? Apa maksudmu?” tanya Hwarin tidak mengerti.

 

“Aku tanya, apa kau mencintai suamimu? Jang Seohwan?”

 

Pertanyaan Hyukjae begitu dingin, begitu datar, dan begitu—tak berperasaan. Jujur saja saat ini Hwarin merasakan hawa dingin merambat di tengkuknya, membangkitkan kesan merinding saat mendengar pertanyaan itu dari Hyukjae.

 

Jujur saja, Hwarin tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan itu.

 

“Ya, aku men-cintainya.” Suara Hwarin jelas terputus di tengah kalimat, menandakan bahwa ia jelas-jelas tengah ragu.

 

“Bohong.”

 

“Eh?”

 

“Jelas-jelas kau berbohong. Kau masih mencintaiku, oh tidak—kau masih sangat mencintaiku meskipun kau sudah bersuami. Apa aku salah, Hwarin-ah?”

 

Hwarin bungkam. Sungguh tepat pernyataan dari Hyukjae barusan. Ia sama sekali tidak bisa melupakan perasaannya pada Hyukjae. Ia sama sekali tidak bisa menghilangkan segala macam perasaan spesial pada Hyukjae. Hwarin masih mencintai Hyukjae.

 

Pasangan kekasih tadi sudah menghilang di balik pintu depan café, selesai menyantap makanan panas dan minuman hangat yang disediakan oleh café ini. Kini kembali menyisakan dua orang ini di café. Suasana begitu sepi, hanya terdengar sayup-sayup suara angin dan hujan yang menembus hingga ke dalam ruangan café.

 

Ponsel Hwarin berbunyi.

 

Hwarin segera membuka tasnya lalu mengeluarkan ponsel dari dalam. Menekan tombol hijau di layar ponsel lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.

 

“Yoboseyo?”

 

‘….’

 

“Ah, aku sedang berada di café Monroe. Bisakah kau menjemputku sekarang?”

 

‘…’

 

“Aku bersama Lee Hyukjae-ssi di sini. Kami tadi tak sengaja bertemu dan berbincang sebentar…”

 

‘…’

 

“Baiklah, aku menunggumu di sini.”

 

Perbincangan di telepon berakhir. Sebuah senyum terlihat di wajah Hwarin. Entah senyum apa itu, Hwarin sendiri tidak paham. Yang ia tahu, ia bisa segera pulang dan menghindari Hyukjae, agar jantungnya bisa berdetak secara normal kembali.

 

Dan Hwarin pun terkejut bukan main begitu melihat wajah tersiksa Hyukjae. Jujur saja, hati Hwarin ikut terluka melihat wajah mantan kekasihnya tiga tahun silam itu.

 

“Kau akan pergi?” tanya Hyukjae dengan suara lemah.

 

Hwarin mengangguk. “Suamiku akan menjemputku sebentar lagi.”

 

Wajah Hyukjae langsung bertambah sedih. “Kurasa kau benar-benar tidak ingat ini hari apa. Jujur saja, aku sangat kecewa,” ujar Hyukjae dengan nada suara sarat akan kekecewaan.

 

Hwarin mengerutkan keningnya. “Memangnya ini hari a—oh!” mendadak Hwarin mengingatnya.

 

Hari ini adalah hari ulang tahun Hyukjae yang keduapuluh delapan, dan Hwarin melupakan hal itu. Rasa sesal merambah masuk ke dalam hatinya.

 

“Maafkan aku, aku melupakan hari ulangtahunmu,” ujar Hwarin penuh penyesalan. “Tapi, saengil chukhahaeyo, Hyukjae-ya. Kudoakan yang terbaik untukmu.” Hwarin berdoa dengan tulus.

 

Wajah Hyukjae tetap seperti sebelumnya, murung dan sedih. Membuat Hwarin benar-benar kelabakan, bingung harus berbuat apa.

 

“Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa memberimu hadiah apa-apa, aku lupa.” Suara Hwarin terdengar bergetar. Gadis ini benar-benar menyesal telah lupa pada hari ini. Padahal tanggal 4 ini adalah tanggal yang paling ia nantikan, tapi…

 

“Berikan aku satu pelukan,” kata Hyukjae tiba-tiba.

 

“Eh?”

 

Hyukjae menatap wajah Hwarin sendu. “Aku ingin memelukmu, mungkin ini yang terakhir kalinya. Aku berjanji setelah ini aku tidak akan menemuimu lagi. Aku berjanji setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi… bisakah, aku memelukmu?”

 

Mata Hyukjae terlihat basah waktu mengatakannya, dan itu membuat Hwarin mau tidak mau harus merasakan rasa sakit itu juga. Rasa sakit yang sebenarnya telah lama bersemayam dalam hatinya. Rasa sakit yang berusaha ia enyahkan tapi tidak pernah bisa ia lakukan. Rasa sakit yang membuatnya menjadi orang paling kesepian di dunia.

 

Hwarin mengangguk lemah. “Ya. Kau boleh memelukku.”

 

Tanpa aba-aba, tubuh mungil Hwarin sudah berada dalam pelukan Hyukjae. Hwarin menenggelamkan wajahnya di dada hangat Hyukjae. Sedangkan lelaki ini mengecup rambut Hwarin, mengelus surai hitam gadis ini. Ia hirup aroma parfum yang menjadi favorite gadis ini. Aroma vanilla. Aroma khas yang kelak akan Hyukjae rindukan.

 

Aku mencintaimu, Hwarin-ah. Sangat mencintaimu…” ucapan itu terdengar samar di telinga Hwarin. Suara sedih Hyukjae seakan ikut mengiris hatinya, menimbulkan luka yang ia tahu tidak akan sembuh dengan mudah.

 

Pelukan mereka terlepas, kini Hyukjae memandang wajah Hwarin dengan seulas senyum tipis di wajahnya. Tangannya bergerak mengusap benda basah yang sudah akan bersiap-siap meluncur melewati pipinya.

 

“Kau tahu, mungkin aku akan berusaha merelakanmu mulai sekarang. Aku akan berusaha!” ucap Hyukjae dengan suara yang terdengar lebih ceria. Jujur saja Hwarin tahu, di balik senyum dan suara ceria itu Hyukjae memendam perasaan tersiksa yang hebat.

 

“Hwarinnie-ya?” suara berat lelaki membuat Hwarin menoleh.

 

Tampak gagah lelaki berwajah tampan dengan tubuh tegap dan kelihatan berotot. Lelaki itu adalah suami Hwarin, Jang Seohwan.

 

“Hey~ kau sudah di sini?” Hwarin sedikit tersentak begitu melihat siluet suaminya di sini.

 

Lelaki itu berjalan menghampiri dua orang lainnya, lalu lengannya menggamit mesra Hwarin. Mata Hyukjae langsung terasa panas melihat adegan itu.

 

“Annyeong, Hyukjae-ssi. Aku Jang Seohwan, suami dari Jang Hwarin.”

 

Bahkan lelaki ini sudah memanggil Hwarin dengan nama marganya.

 

“Aku Lee Hyukjae, kau pasti sudah mengenalku. Eum, aku minta maaf karena aku tidak menghadiri acara pernikahanmu tiga tahun lalu, aku sedang ada konser di China.” Suara Hyukjae samar-samar bergetar.

 

“Aku mengerti, tidak masalah karena kau memang seorang idol,” canda Seohwan dan hanya ditanggapi dengan tawa sumbang dari Hyukjae. “Eum, sepertinya sudah malam. Kami harus pulang sekarang. Sampai jumpa, Hyukjae-ssi.” Seohwan berpamitan.

 

Lelaki tinggi ini lalu menggandeng tangan Hwarin lalu berjalan menuju pintu depan café. Sebelum benar-benar keluar, Hwarin menoleh Hyukjae, memberikan senyuman tulus dari dalam hatinya. Senyuman selamat berpisah dan itu bukan main-main. Selanjutnya siluet dua orang itu sudah tidak nampak lagi di mata Hyukjae. Hyukjae sendirian.

 

Hyukjae duduk di kursinya. Dengan tatapan sendu, ia tatap kursi yang tadi Hwarin duduki. Ia juga memandangi cangkir teh yang masih memiliki bayangan Hwarin di sana. Hyukjae menunduk, merasakan bulir-bulir air mata yang menggenang di matanya. Perlahan, jatuh juga benda basah itu. Setetes, dua tetes, hingga tetes-tetes berikutnya mengiringi hati Hyukjae yang seakan mati detik itu juga.

 

“Aku akan berusaha melepasmu, Hwarin-ah, aku jamin kau tidak akan pernah terganggu karena kehadiranku lagi. Tapi jangan harap aku akan menghilangkan rasa cinta ini padamu. Sekalipun aku harus mati, aku tak akan menghilangkannya.”

 

Di luar, hujan bertambah deras. Membuat Hyukjae semakin sarat akan kepedihan. Tetes hujan yang turun seakan menjadi perwakilan berapa banyak luka yang Hyukjae rasakan. Ini sangat sulit… ia tidak akan sanggup menghadapi ini semua.

 

Ia tidak mampu melupakan cintanya.

 

 

..o0o..

 

Apa ini?!! *deepsigh*

Semoga suka dengan Fan Fiction ini. Maaf jika ending-nya jelek dan tidak sesuai harapan. Maklum, ini Fan Fiction dadakan dan bikinnya kilat.

Jangan lupa comment ya, agar aku bisa tahu kekuranganku bikin FF itu bagaimana.

2 Komentar (+add yours?)

  1. dhharu
    Des 12, 2013 @ 03:33:59

    Ah sad ending pas ulangtahun nya lagi;-;
    Aku kira awalnya bakal happy ending.
    Yaampun hyukjae ga nyangka bisa men-cinta-i wanita sebegitunya

    Balas

    • vianpumpkins
      Des 18, 2013 @ 22:05:49

      hahaha… ini hanya fiktif.. jadi jgan dianggep nyata…
      di sini aku mau bikin eunhyuk menderita sampe mampus(?) #plaakkk
      hehehe, gomawo udah komen… silakan baca yg lainnya yaa… #hug

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: