Fanfiction : Two Moons


Two Moons

Title                 : Two Moons

Author             : VhianPumpkins

Cast                 : Lee Hyukjae, Han Min Young, Putri Hwang

Genre              : Fantasy, Romance, Hurt

BackSound       : Super Junior – Love Disease, F.I.X – Please Don’t Say

Okelah. Ini mungkin disebut Author’s Note ya.. ini adalah FF ku yang kukirim di salah satu page facebook dalam rangka merayakan ultah Eunhyuk. Dan Alhamdulillah aku dapet juara 2 ^^ .

PLEASE! COMMENT!😀😀😀

 

Summary:

‘Mungkin ini yang dinamakan pengorbanan. Aku tidak akan pernah memedulikan apapun selain dirimu. Cukup buruk saat-saat yang kulewati tanpa dirimu, dan aku menyesali tindakanku waktu itu. Maafkan aku. Han Min Young, aku mencintaimu,’ – Lee Hyukjae

 

..o0o.. Happy Reading ..o0o..

 

Jika kedua bulan bersatu, hanya akan ada bencana.

Butuh pengorbanan oleh darah Nymph yang murni.

Tanah Elve harus diselamatkan.

 

Pangeran Hyukjae berusaha menerobos belantara hutan yang lebat, mencoba meloloskan diri dengan kuda cokelatnya yang kelihatan tangguh. Di pinggangnya tampak sebilah pedang yang tersimpan rapi dalam kerangkanya. Pedang yang ia ambil dari istana. Setengah panik, Pangeran Hyukjae menoleh ke belakang. Kerumunan yang mengejarnya sudah tidak ada lagi. Ia bernapas lega.

Dengan sisa dari konsentrasinya, ia menunggang kudanya yang kini sudah tampak kelelahan. Terbesit dalam pikirannya untuk beristirahat sejenak di tepi sungai yang mungkin dekat dari sini. Tapi sepanjang mata memandang, ia tak menemukan apa yang ia cari.

Ia turun dari kudanya, sekali lagi menengok ke belakang. Para prajurit itu pasti tidak berani memasuki hutan ini lebih dari itu. Dan ia sangat bersyukur bahwa legenda dan mitos-mitos itu masih membudaya di kalangan rakyat. Kemisteriusan hutan Krizto.

Kejadian barusan mengingatkan Pangeran Hyukjae tentang kejadian sebelumnya…

Para petinggi kerajaan Elve sedang merundingkan masalah tahta. Raja Hyunhwa, perdana menteri dan para pengurus lainnya kini sudah berada di aula istana, berunding serius sambil sesekali berdebat ringan. Suasana tampak tegang.

“Pangeran Hyukjae dilahirkan dengan lambang bulan di belakang telinga kanannya, dan tentu saja itu tak bisa dibiarkan. Baginda, saya sebagai perdana menteri, menyatakan keberatan dengan penaikan tahta Pangeran Hyukjae.” Perdana menteri berusaha meminta pengertian Raja, tapi sepertinya sikap sang Raja sedang keras kepala kali ini.

“TIDAK BISA! Bagaimana mungkin kalian berkata seperti itu?! Pangeran Hyukjae adalah anak laki-laki semata wayang dari Raja, dan itu berarti dialah yang akan meneruskan tahtaku! Apa-apaan ini?!” murka Raja Hyunhwa. Wajahnya sudah memerah karena marah.

“Jika Yang Mulia membiarkan hal ini terjadi, maka akan terjadi bencana di tanah Elve ini, Baginda! Kami mohon, pertimbangkan suara kami!” kali ini seorang petinggi membungkukkan badan memohon.

“Itu benar, Yang Mulia. Pangeran Hyukjae terlahir dengan perbedaan yang mencolok. Rambutnya tidak berwarna hitam atau kecoklatan seperti rakyat pada umumnya, tapi berwarna terang seperti bulan purnama. Ini akan menjadi malapetaka di tanah Elve jika Pangeran Hyukjae naik tahta,” kali ini seorang petinggi yang sudah mendekati masa tua menyela.

Pemikiran-pemikiran dari para pendampingnya membuat Raja Hyunhwa bimbang. Raja Hyunhwa memang sangat memikirkan nasib rakyat daripada apapun juga. Tapi keputusan ini begitu berat. Jika Pangeran Hyukjae tidak naik tahta, lantas siapa nantinya yang akan meneruskan gelar Raja kerajaan Elve?

“Lantas bagaimana cara mengatasinya?” kini suara Raja Hyunhwa jauh lebih rendah daripada tadi. Kini suaranya sarat akan kepanikan dan kebingungan.

Salah satu petinggi tersenyum, lalu menjawab. “Saya pernah mendengar kisah ini sebelumnya, dan kisah ini memang benar adanya. Seorang Pangeran yang memiliki tanda bulan di belakang telinganya harus dinikahkan dengan seorang Putri yang memiliki darah Nymph di tubuhnya  sebelum pangeran itu bertemu dengan bulan lainnya.”

Raja mengerutkan keningnya. “Siapa gerangan putri yang memiliki darah Nymph itu?”

Pria dengan bekas luka di bagian pipi kirinya menjawab. “Ada satu. Putri Hwang dari kerajaan Somnezh. Putri Hwang mewarisi semua bakat itu dari mendiang ibunya yang murni seorang Nymph. Baginda, saya menyarankan untuk menjodohkan Pangeran Hyukjae dengan Putri Hwang. Saya mendengar bahwa hubungan kerajaan Elve ini dengan Kerajaan Somnezh sangat baik. Jadi, kami rasa itu akan menjadi mudah.” Senyum di wajah pria itu semakin membuat Raja Hyunhwa percaya. Yang lainnya mengangguk setuju dengan usulan pria itu.

“Baiklah. Sepertinya hanya cara ini bisa menghilangkan bencana itu. Aku akan mengirimkan pinangan atas Pangeran Hyukjae ke kerajaan Somnezh. Aku yakin mereka akan senang menerimanya,” ucap Raja Hyunhwa dengan senyum lebar di wajahnya.

Mereka semua tidak sadar bahwa ada satu pria yang mencuri dengar pembicaraan mereka. Pangeran Hyukjae. Dengan tangan gemetar, mencengkeram gagang pintu yang dibiarkan tidak ada pengawal. Sejenak pikirannya kosong. Tidak, Pangeran Hyukjae tidak bisa menerima ini! Ia sudah lama menginginkan pernikahan kelak dengan perempuan yang ia cintai.

Ia langsung berlari ke kamarnya, membulatkan tekad untuk kabur dari istana. Ia memakai pakaiannya yang terbaik. Bersih tentu saja, dan juga tidak mudah robek. Diambilnya sebilah pedang di kamarnya – yang sebenarnya tak boleh tersentuh – dan langsung melenggang keluar. Pangeran Hyukjae mengendap ke arah kandang kuda kerajaan dan langsung melepaskan tali kuda tergagah di situ. Dengan cepat ia menaiki pelana di punggung kuda itu lalu melaju seperti angin.

Pangeran Hyukjae merasa bebas. Ia tak pernah merasa sebebas ini. senyuman lebar tersungging di bibirnya. Semua kesenangannya terasa menyeruak ke permukaan sebelum akhirnya teriakan salah seorang pengawal membuat jantung Pangeran Hyukjae bertalu cepat. Dalam sekali menghentakkan tali kekang, ia langsung bisa merasakan kuda yang ia tunggangi melaju bagai busur panah.

Mungkin inilah takdir pangeran Hyukjae, semua prajurit itu tidak bisa mengejarnya hingga ke pelosok hutan. Hutan Krizto yang terkenal dengan kelebatan dan cerita-cerita seramnya. Pangeran Hyukjae sendirian.

Tak lama kemudian, ia menemukan aliran sungai kecil yang airnya sangat jernih. Ia mengikat tali kekang kudanya di pohon terdekat, lalu bergegas ke tepian sungai untuk membasuh kedua tangan dan kakinya. Rasanya begitu menyegarkan. Ia mengamati ada ikan-ikan yang cukup gemuk yang berenang kesana-kemari. Pangeran Hyukjae memegang perutnya, ia lapar, dan yang ia pikirkan sekarang adalah menangkap ikan itu untuk dijadikan makan malam.

Ia mencabut pedang dari kerangkanya, lalu berusaha menangkap ikan-ikan itu dengan cara menusukkan pedang ke badan ikan. Tapi setelah beberapa menit, ia masih belum  mendapat satu ikan pun. Peluhnya mulai menetes. Ia mulai kelelahan. Kakinya mulai melangkah maju, berpijak pada sebongkah batu besar berlumut. Pangeran Hyukjae sama sekali tidak mengetahui bahwa batu itu licin, dan akhirnya ia terpeleset dan jatuh terjerembab.

“Aarghh..!” serunya kesakitan. Kepalanya terbentur batu-batu kecil di sepanjang tepian sungai. Hal terakhir yang ia lihat sebelum semuanya gelap adalah, darah di kepalanya.

..o0o..

“Ugh…” Pangeran Hyukjae memegangi kepala bagian belakang yang terasa sangat sakit. Ia melenguh kesakitan pelan, bangkit dari atas dipan dari kayu yang menampung tubuh kurusnya.

“Kau sudah sadar? Akhirnya…” suara wanita itu begitu mengejutkan Pangeran Hyukjae. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah, kemudian menemukan sesosok gadis dengan rambut panjang tergerai indah di punggung. Posisi gadis itu membelakangi Pangeran Hyukjae. Pria ini kemudian menerawang keadaan di sekitarnya. Ini rumah – ah, sepertinya lebih mirip gubuk yang dibangun di tengah hutan Krizto. Semuanya tampak begitu sederhana… dan kurang. Sangat berbeda dengan yang ada di istana.

Gadis itu membalikkan badannya, memandang Pangeran Hyukjae dengan senyum manis terpatri lembut di wajahnya. Di tangannya terdapat piring yang berisi nasi dan beberapa lauk ikan. “Kau makanlah dulu, kau pasti lapar.” Si gadis meletakkan piring itu di bagian samping dipan tempat Pangeran Hyukjae terbaring.

Pangeran memandang gadis itu curiga, “siapa kau?”

“Aku? Namaku Han Min Young. Selamat datang di tempatku. Kau pasti dari tanah Elve, bukan?” tanya gadis bernama Min Young itu dengan senyuman ceria di wajahnya. Hyukjae mengangguk, tapi tidak mengeluarkan suara. Jantungnya serasa berdesir saat menatap senyum cantik dari Min Young. Apa ini?

Min Young membujuk Pangeran Hyukjae kembali. “Sudahlah, makan saja masakanku,” ujar Min Young masih dengan senyum cantiknya. Pangeran Hyukjae kembali memandang piring itu. Pikirannya berkecamuk. “Tenang saja. Aku tidak memasukkan racun di makanan itu. Aku tidak suka membunuh orang.” Candanya kemudian sembari tertawa renyah.

Kelihatannya Min Young tidak mempermasalahkan warna rambut Pangeran Hyukjae yang berbeda. Pirang. Baguslah kalau begitu. Pangeran Hyukjae melanjutkan makannya – yang ia pikir makanan tersederhana sepanjang hidupnya – dan mengalihkan pandangan dari wajah gadis yang serupa malaikat itu. Senyumnya bisa menggetarkan hati Hyukjae… apa jangan-jangan…

..o0o..

“Kau menemukanku pingsan di pinggir sungai?” tanya Hyukjae dengan tatapan bertanya.

Min Young mengangguk semangat. “Eum! Aku kasihan melihat keadaanmu dan segera membawamu ke rumah. Tubuhmu ternyata tidak terlalu berat juga. Aku sudah mengobati luka di kepalamu dengan daun-daun obat yang kutemukan di sekitar rumah. Tenang saja, kau sudah sembuh!” seru Min Young dengan suara cerianya.

Ternyata dia gadis yang berhati baik, batin Hyukjae sambil memandang wajah Min Young dengan tatapan terpana. Gadis itu sedang memandang lurus ke depan, menatap rimbunan semak di depan mereka. Langkah kaki Min Young terkesan anggun dan lembut, tidak ada kesombongan ataupun kecentilan yang terpancar dari tingkah laku Min Young.

“Oh, kau tinggal sendirian di sini, Min Young-ssi?”

Min Young menoleh ke Hyukjae. Wajahnya sedikit meredup. “Iya. Aku diasingkan oleh keluargaku, entah karena apa, akupun tidak mengetahuinya. Aku belum pernah melihat tanah Elve sebelumnya karena orangtuaku melarang. Setiap beberapa bulan sekali ibuku mendatangi tempat ini untuk membawakan bahan makanan untukku, serta bercerita tentang beberapa hal. Biasanya rasa bangganya pada kakakku.”

Nada bicara Min Young melemah dan terkesan sedih. Hidup sendirian dan terasing, sebegitu kesepiannya hidup Min Young. Tapi kenapa wajahnya selalu ceria? Senyum selalu muncul dengan tulus? Hyukjae memandang kagum Min Young. Takjub menyadari betapa kuatnya hati gadis ini.

“Tanah Elve pasti sangat menyenangkan, ya?” tanya Min Young. Kali ini senyum itu kembali.

“Tidak semenyenangkan seperti di bayanganmu,” jawab Hyukjae singkat. Tubuhnya menegang.

Min Young menyipitkan matanya. “Benarkah? Aku tidak mengetahuinya. Oh, siapa namamu?”

Pertanyaan dari Min Young menghujam Hyukjae. “N-Namaku… Eun-Hyuk… ya, Eunhyuk!”

“Baiklah, Eunhyuk-ah. Ayo kita bergegas sebelum matahari tepat di atas kepala. Sudah mulai siang.”

Mereka pun menaikkan kecepatan berjalan mereka. Hyukjae meringis, merasakan betapa pahitnya berbohong. Hyukjae tidak ingin Min Young tahu bahwa dia adalah pangeran dari kerajaan Elve. Ini berbahaya.

Sungai ternyata tidak begitu jauh dari rumah Min Young. Sungai ini jauh lebih besar dari yang kemarin Hyukjae temukan, dan begitu banyak ikan-ikan yang berenang di perairan segar itu. Min Young melepaskan tongkat penangkap ikan yang ada di pinggangnya. Tongkat dengan ujung yang tajam, sangat berguna. Hyukjae tidak mau kalah, ia menarik pedangnya dari kerangka dan mulai menangkap ikan dengan alat itu. Hyukjae tersenyum, ini pasti akan menyenangkan.

Satu jam berlalu, Min Young sudah mendapatkan lebih dari sepuluh ikan-ikan yang besar, tapi Hyukjae baru mendapatkan satu ikan, dan itupun berukuran kecil. Berkali-kali Hyukjae jatuh terjerembab ke sungai hingga pakaiannya basah kuyup, sedangkan Min Young hanya bisa membantunya berdiri.

“Aish, kenapa ini susah sekali?” keluh Hyukjae lagi, mengusap peluh yang kembali menetes di dahinya.

“Eunhyuk-ah!” panggil Min Young. “Jika kau lelah, sebaiknya kau tidak usah ikut berburu ikan. Aku istirahat saja. Ingat, kau baru saja sembuh,” bujuk Min Young. Tapi hanya mendapatkan gelengan kepala dari Hyukjae. Pria ini terlihat tidak mau kalah dari Min Young. Mau ditaruh di mana muka Hyukjae jika ia yang notabene adalah seorang pangeran, kalah dari gadis seperti Min Young. Memalukan.

“Ya! Ya! Ya! Aish! Min Young-ah! Tolong tangkapkan pedangku yang hanyut itu! Cepat!” seru Hyujae panik begitu pedangnya terlepas dari genggaman. Hanyut bersama arus sungai yang deras.

Min Young melangkah maju cepat, menangkap pegangan pada pedang itu dengan tangkas. “Ya! Dapat!” soraknya kegirangan. Buru-buru ia kembali ke tepian untuk menyerahkan pedang itu ke Hyukjae. Tapi tindakannya langsung terhenti saat menyadari pola ukiran di pegangan pedang itu begitu ia kenal. “Ini…” ucapannya terputus. Matanya sibuk mengamati detail ukiran itu. “Pangeran Hyukjae…” ujarnya dengan suara terkejutMin Young mengenal pola ukiran itu karena ibunya selalu membawa sapu tangan berlambang sama. Selain itu, ibunya selalu bercerita perihal kerajaan Elve agar Min Young tahu setidaknya sedikit. Min Young segera  membungkukkan badannya di depan Hyukjae.

Pangeran Hyukjae terbengong begitu melihat sikap Min Young sekarang. “A-Apa yang kau lakukan?”

“Kumohon, maafkan aku! Aku sama sekali tidak tahu kalau yang berhadapan denganku adalah Pangeran Hyukjae! Aku telah bersikap kurang ajar! Aku mohon maaf!” Min Young masih membungkuk di depan Hyukjae. Sungguh, gadis ini merasa sangat malu dan takut. Malu, karena tindakannya yang ia pikir sudah kelewatan. Dan takut jika ia dihukum oleh kerajaan Elve karena tindakan kurang ajarnya. Wajahnya sudah merona merah.

“Kenapa kau masih saja membungkuk? Cepat bangkitlah! Jangan merasa bersalah seperti itu! Sungguh, aku tidak mempermasalahkan itu sama sekali!” seru Pangeran Hyukjae sambil meringis. Ia sangat tidak suka jika melihat Min Young merendah di depannya.

Min Young menegakkan tubuhnya, namun kepalanya ia tundukkan. Masih merasa malu. Bahkan rona merah itu menjalar hingga telinga. Hyukjae kebingungan bagaimana caranya membuat Min Young kembali ceria seperti biasanya, bukan pemalu seperti ini. Di tengah kebingungannya, terdengar suara ringkikan kuda. Tubuh Hyukjae langsung membeku. Dipikirnya, itu adalah salah satu prajurit kerajaan yang berhasil menemukannya. Dengan perlahan ia memalingkan wajahnya.

“Kudaku!” seru Pangeran Hyukjae kegirangan. Ternyata itu adalah kuda yang kemarin ia curi dari istana. Setengah berlari ia menghampiri kudanya. Min Young mengikuti dari belakang. Ekspresi gadis ini kebingungan. “Ah, syukurlah. Kuda ini masih ada. Kupikir sudah kabur,” gumam Hyukjae sambil mengusap kepala kuda itu.

“Ini kuda anda, Yang Mulia?” tanya Min Young begitu sopan.

Hyukjae merasa sangat tidak senang dengan panggilan formal dari Min Young. “Tolong, jangan panggil aku sesopan itu. Panggil saja aku Hyukjae atau apa. Dan kau boleh menggunakan bahasa tidak formal padaku.” Hyukjae meminta. Dibalas oleh anggukan ringan dari Min Young.

“Sekarang, ayo kita pulang. Kita pakai kuda saja,” ujar Hyukjae sambil menepuk-nepuk punggung kuda.

“M-Mwo?” seru Min Young sambil membelalakkan mata. Apa maksud Hyukjae? Maksudnya… menunggangi kuda berdua?

“Cepat naiklah, setelah itu aku akan naik juga.” Pangeran Hyukjae menarik lengan Min Young lalu menyuruhnya naik. Dengan canggung, Min Young naik ke punggung kuda yang sudah ada pelananya. Selanjutnya Hyukjae naik, berada di belakang tubuh Min Young. Jadilah sekarang mereka naik kuda berdua. Hey~ Bukankah itu romantis?

Mereka berkuda menuju rumah Min Young. Gadis ini masih tidak bisa menyembunyinya rona merah di wajahnya, malu… dan senang tentu saja. Ia sudah tidak mampu lagi mengontrol degup jantungnya yang bertalu kencang. Min Young memang menyukai Pangeran Hyukjae, sejak hari ia menemukan Pangeran ini pingsan di pinggir sungai, sejak mengobati luka di kening Pangeran, serta sejak memandangi wajah Pangeran Hyukjae yang sangat damai saat tidur. Semua hal tentang Hyukjae membuatnya jatuh cinta.

Hyukjae juga demikian. Ini adalah hari yang tak akan pernah terlupakan baginya. Ia bisa merasakan kebahagiaan yang meletup-letup jika berada di dekat Min Young. Gadis ini sudah berhasil membuatnya membuka hati. Senyum, wajah dan sikapnya membuat Hyukjae menyukainya. Tentu saja, wajahnya tak kalah merona dari Min Young saat ini. ada hasrat ingin menggenggam tangan Min Young, tapi mati-matian ia tahan karena mereka tidak memiliki hubungan apapun. Hyukjae mendesau kecewa.

Hutan sedang masa musim gugur sekarang. Daun-daun cokelat berguguran menciptakan suasana romantis yang tak terelakkan. Kuda itu melangkah lambat, seolah mengerti perasaan dua insan yang kini sedang menunggang di punggungnya. Tak tahan lagi dengan perasaannya, Pangeran Hyukjae menggenggam tangan kiri Min Young, menggenggam dengan erat dan penuh perasaan. Min Young menoleh ke belakang, memandang wajah Hyukjae dengan tatapan penasaran. Hyukjae menjawab dengan senyumnya yang menawan.

Sungguh, hari yang romantis bagi Pangeran Hyukjae dan Min Young.

..o0o..

Ini sudah tiga minggu sejak Pangeran Hyukjae tinggal di rumah –eum, gubuk milik Min Young dan dari hari ke hari, hubungan mereka sudah semakin baik. Mereka mulai membiasakan diri pada masing-masing, dan yang terpenting adalah saling memahami.

Kini di rumah Min Young sudah ada dua dipan untuk tidur. Setiap pagi, Min Young selalu membangunkan Hyukjae untuk membersihkan diri di sumber air kecil di belakang rumah Min Young, sementara gadis ini memasak sarapan mereka. Selanjutnya setelah Hyukjae selesai mandi, lelaki ini membantu Min Young memasak, kemudian mereka berdua makan bersama. Hey~ mereka sudah seperti sepasang suami istri yang sangat harmonis bukan?

Hari sudah sore dan Hyukjae sudah kembali dari sungai untuk mencari ikan. Dia membawa satu keranjang penuh ikan yang besar-besar. Rupanya ia sudah mahir menangkap ikan dengan pedangnya. Kini Min Young juga tidak lagi canggung dengan Hyukjae, ia memanggil Pangeran Hyukjae dengan panggilan ‘Hyukjae’ saja.

“Min Young-ah! Aku bawa ikan yang besar-besar! Kita akan makan besar setelah ini~” suara ceria Hyukjae terdengar begitu melewati pintu depan. Min Young yang sedang ada di dapur pun melengok ke ruang depan. Dengan wajah yang agak hitam karena asap dari tungku, Min Young mengumbar senyum menawannya ke Hyukjae. Noda hitam tak mengurangi kecantikannya sedikitpun.

“Whoa~ kau semakin pintar menangkap ikan, Hyukjae-ya! Bahkan aku kalah olehmu!” seru Min Young sambil menghampiri Hyukjae. Ia menggantikan tangan Hyukjae yang sedang membawa keranjang khusus ikan itu, lalu ditaruhnya di dekat tungku. Rencananya setelah ini ia akan mencuci ikan-ikan itu di sumber air di belakang rumah.

Hyukjae menghempaskan tubuhnya di alas tikar pemberian ibu Min Young yang sengaja ia letakkan di dapur. Ini untuk memudahkannya mengawasi Min Young saat memasak. Ia menghela napas lelah, pekerjaan yang kelihatannya mudah tidak selamanya terasa mudah. Bahkan ini adalah pekerjaan yang sukar, tapi meskipun begitu Hyukjae tetap menikmatinya.

“ARGH!” seruan Hyukjae mengejutkan Min Young yang sedang meniup bambu kecil untuk menghidupkan api. Min Young mengalihkan wajahnya untuk menatap Hyukjae. Ia lihat pria ini tengah mengelus tengkuk sebelah kanannya. Wajahnya meringis kesakitan.

“Ada apa, Hyukjae-ya?” tanya Min Young ikutan panik. Ia lihat wajah Hyukjae sudah memerah.

Hyukjae masih meringis. “Sepertinya ada serangga yang menggigit tengkuk kananku. Argh. Sakit sekali~” keluh Hyukjae kemudian. Tangan kanannya masih mengelus tempat bekas gigitan serangga tadi.

“Sebentar.” Min Young bangkit lalu melenggang menuju ruang depan. Ia menuju dipan lalu mengambil kotak kayu berwarna hitam pekat. Gadis ini membuka tutupnya dan mengeluarkan botol kecil dengan cairan hijau pekat dari dalam. Setelah itu ia kembali ke Hyukjae.

“Ini obat gigitan serangga pemberian ibuku. Mungkin akan sedikit perih, tapi sangat manjur. Sekarang, mana bagian yang digigit?” Min Young membuka tutup botol lalu meneteskan sedikit di ujung jari telunjuknya.

Hyukjae menjenjangkan lehernya, di bawah telinga kanannya ada luka memerah bekas gigitan serangga – mungkin semut atau laba-laba. Tanpa aba-aba, Min Young mulai mengoleskan cairan itu secara merata. Hyukjae meringis sebentar karena cairan itu membuat perihnya makin terasa. Tapi setelah beberapa saat, nyeri itu hilang berganti rasa lega karena nyerinya sudah hilang.

“Whoa~ kau punya tanda lahir ini juga? Kupikir hanya aku saja yang punya tanda bulan sabit di bawah telinga, ternyata ada lagi yang memilikinya!” seru Min Young terkejut bercampur senang. Senyumannya melebar.

Beda dengan Hyukjae. Ia membeku. Jelas. Bagaimana mungkin ia tidak terkejut jika mengetahui bahwa hal yang harus – dan benar-benar wajib ia hindari ternyata adalah gadis yang berada di depannya. Tentu saja ia terkejut mengetahui bahwa Min Young adalah bulan kedua yang seharusnya tidak pernah ia temui. Tapi kenapa dia malah mencintai gadis ini?

“A-Apa maksudmu?” tanya Hyukjae dengan terbata-bata.

Min Young tersenyum. “Kita punya tanda lahir yang sama. Lihat~ aku juga punya di belakang telinga kiriku.” Min Young menyibak rambut yang selama ini menutupi bagian tengkuk dan pundaknya. Kini leher jenjang nan mulus Min Young terlihat. Dan tampak sangat mencolok, lambang bulan sabit warna hitam pekat di belakang telinga kirinya.

 

Jika kedua bulan bersatu, hanya akan ada bencana.

Bencana… bencana yang akan menimpa tanah Elve. Sebagai pangeran dan calon raja masa depan, Pangeran Hyukjae juga memikirkan nasib rakyat Elve ke depannya. Dan… jika ia terus saja bersama Min Young, maka akan ada bencana yang sangat besar. Pangeran Hyukjae tidak egois, ia tidak mementingkan diri sendiri… jadi pilihannya hanya satu. Ia harus meninggalkan Min Young dan kembali ke istana. Istana yang saat ini mungkin kalang kabut karena kejadian kaburnya Sang Pangeran.

Tapi ia mencintai Min Young. Ia tidak bisa berbohong. Ia begitu mencintai gadis yang telah menyelamatkan nyawanya ini. Ia selalu menaruh perhatian pada Min Young, juga menaruh hatinya. Tapi ia harus menerima kenyataan. Min Young bukan takdirnya. Mereka tidak mungkin bersatu, dan itu harga matinya. Ia harus segera menjaga jarak dari Min Young.

“Min Young-ah…” ragu-ragu Hyukjae memanggil Min Young. Gadis ini menoleh, tentu saja senyumnya tak pernah tertinggal.

“Eum?”

“Aku… akan kembali ke istana setelah ini.” putus Hyukjae akhirnya.

“Eh?”

..o0o..

“Kenapa mendadak sekali?” tanya Min Young dengan nada sedih. Wajahnya muram, tak seperti biasanya yang selalu mengumbar senyum. Kini, mereka berdua sudah berada di depan rumah Min Young. Kuda Hyukjae sudah menunggu untuk ditunggangi.

“Maafkan aku. Tapi aku sudah terlalu lama berada di rumahmu, Min Young-ah. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi. Terima kasih banyak atas bantuanmu selama ini, aku sangat menghargainya.” Hyukjae kemudian menaiki pelana dan duduk dengan posisi wajar. Tangan Min Young mengelus kepala kuda itu dengan lemah. Gadis ini benar-benar berat untuk ditinggal oleh Hyukjae.

“Aku mohon… jangan pernah melupakanku di sini,” bisik Min Young sedih.

Tentu saja aku tidak akan pernah  sanggup melupakanmu, Min Young-ah! Batin Hyukjae sedih.

“Jadilah Raja yang baik.” Min Young mengakhiri ucapannya dengan senyum lemah. Melihat senyum itu, batin Hyukjae bergejolak. Ia sangat sedih melihat wajah muram Min Young. Batinnya meronta agar ia memeluk Min Young saat ini juga. “Dan jangan kecewakan rakyat di kerajaanmu.”

Hyukjae merundukkan kepala, mendekatkan wajahnya dengan wajah Min Young. Lalu sebuah kecupan mesra dan ringan mendarat di kening indah Min Young. Kecupan yang sarat akan kasih sayang. Selanjutnya Hyukjae mulai menarik tali pada kuda lalu kuda gagah itu berjalan pelan.

“Selamat tinggal, Han Min Young… aku mencintaimu,” bisik Hyukjae sebelum akhirnya kudanya membawanya lari menembus kerimbunan hutan.

Min Young terpaku di tempat. Air matanya menetes. Ia menangis. Ia menangis tersedu-sedu begitu sosok Hyukjae sudah tak terlihat lagi olehnya. Ia berjanji, suatu saat ia akan kembali bertemu dengan Hyukjae. Entah kapan. Entah bagaimana caranya.

..o0o..

 

Two Months Later..

 

Dua bulan sejak  kembalinya Pangeran Hyukjae ke istana, seluruh rakyat istana sangat gembira. Mereka lega akhirnya pangeran yang sangat mereka hormati bisa pulang dengan selamat. Bahkan Raja mengadakan perayaan kecil atas kepulangan Hyukjae.

Hidup Hyukjae berubah. Tiga hari setelah ia pulang, ia langsung ditunangkan dengan Putri Hwang dari kerajaan Somnezh. Dan dengan sangat amat terpaksa, Pangeran Hyukjae menerimanya. Ini semua demi kelangsungan hidup rakyat Elve. Ia harus mengutamakan kepentingan rakyat lebih dari apapun. Setelah pertunangan, dua minggu lagi akan diadakan pernikahan besar-besaran di istana. Hal ini membuat Hyukjae semakin sakit kepala.

Sore ini, Hyukjae jalan-jalan di sekitar istana bersama beberapa pengawal serta tunangan ‘tercinta’nya. Pengawalan terhadap pangeran diperketat sejak kejadian itu. Ia berjalan paling depan, tatapannya beredar ke sepanjang pemandangan yang ia lihat.

BRUUK!!!~

Tak sadar, seseorang menabrak pangeran hingga tersentak ke belakang. Ternyata salah seorang pelayan lalai menabrak tubuh pangeran yang sedang berjalan santai. Pelayan itu jatuh terduduk dengan nampan ada di genggamannya. Pelayan itu mendongak, dan sangat terkejut melihat siapa yang ia tabrak. Begitupun Hyukjae yang benar-benar kaget dengan gadis di depannya.

“Min Young-ah? Bagaimana bisa kau ada di sini?” tanya Hyukjae langsung.

Min Young tersenyum lebar, menampilkan cengirannya yang khas, “aku ingin melihatmu, jadi aku memutuskan untuk menjadi pelayan di istana. Ah, aku sangat merindukanmu, Hyukjae-ya,” ujar Min Young dengan suara sopan hingga tak ada yang bisa mendengar gadis ini menggunakan bahasa informal yang tidak sopan selain Hyukjae.

Mendengar perkataan Min Young, Hyukjae terkejut bukan main. Jujur, ia sangat senang –sangat bahagia menyadari Min Young di sini untuknya. Tapi, jika Min Young masih ada di sini hingga hari pernikahan tiba… entah apa yang akan terjadi. Bulan pertama dan kedua tidak boleh bersatu.

“Kau tidak seharusnya berada di sini,” bisik Hyukjae dengan dinginnya. Min Young yang mendengarnya langsung tersentak. Gadis ini sama sekali tidak menyangka ucapan sedingin itu bisa keluar dari mulut seseorang yang ia cintai. Tidak~ pasti Hyukjae hanya berpura-pura acuh padanya.

“Siapa dia, Pangeran Hyukjae?” seorang wanita bertubuh tinggi semampai terlihat menggamit lengan Hyukjae mesra. Min Young tercekat melihatnya. Ia sama sekali tidak mengenal wanita di samping Hyukjae itu. “Dia bukan siapa-siapa, hanya pelayan yang tidak sengaja menabrakku. Biarkan saja.” Pangeran Hyukjae berbicara dengan suara yang dingin, bahkan ketus.

Lalu Hyukjae dan wanita itu –Putri Hwang– berjalan menjauh dari tubuh Min Young yang membeku. Ia sama sekali tidak menyangka Hyukjae bisa berbuat seperti itu pada dirinya. Min Young sudah bersusah payah datang ke istana dan menjadi pelayan semata-mata hanya untuk bertemu Hyukjae. Ia rela orangtuanya bingung mencarinya yang kabur dari gubuk di tengah hutan itu. Ini semua demi Hyukjae, demi pria yang sangat ia cintai. Mungkinkah Hyukjae telah berubah? Dua bulan… apakah waktu itu sudah cukup untuk menghilangkan perasaan cinta ke seseorang? Siapa gerangan yang akan menjawab segala pertanyaannya?

Benda bening mulai mengalir dari mata indah Min Young.

..o0o..

Min Young melangkah lebar-lebar menuju dapur istana. Ia bertugas di bagian memasak karena masakannya dinilai sangat enak oleh para pelayan lainnya. Ia mulai menyusun sayuran yang akan dipotong, membersihkan tungku raksasa dan merebus air. Ia tidak sendirian di dapur itu. Ada beberapa pelayan lainnya yang sedang mengiris lobak sambil mengobrol –eum, atau lebih tepatnya menggosip.

“Kau lihat tunangan Pangeran Hyukjae tadi? Dia terlihat sangat angkuh, bukan?” tanya seorang pelayan mengawali pembicaraan.

T-Tunangan? Batin Min Young sedih. Ia berhenti mengusuri kayu-kayu bakar di tungku. Pikirannya yang langsung kosong membuatnya tidak bisa bekerja dengan fokus. Ia sangat terkejut.

“Iya, aku sudah melihatnya. Dia memang cantik, tapi wajahnya sedikit sinis. Kudengar mereka akan menikah dua minggu lagi, tepat di hari ulang tahun pangeran Hyukjae. Maka dari itu sedang ada renovasi besar-besaran di halaman depan istana. Ahh, aku penasaran bagaimana perayaannya,” lanjut pelayan yang lain.

Kini hati Min Young seakan tergerus rasa sakit yang berkepanjangan. Pangeran Hyukjae akan menikah? Tidak, Min Young tidak bisa menerima ini. Sebegitu tak pentingnya kah Min Young bagi Hyukjae, hingga perasaan mereka bisa lelaki itu tepis dengan mudah? Tak terasa, Min Young mulai menitikkan air mata kembali. Batinnya tak kuat menahan desakan rasa sakit di dadanya. Ini… begitu menyakitkan. Ini… begitu menyiksanya.

“Heh, Min Young-ah! Kerja yang benar! Lihat, api di tungku itu hampir padam!” seru seorang pelayan dari belakang punggung Min Young. Gadis ini terkejut dan langsung menyeka air matanya dengan kasar. Lalu tangannya mulai mengurusi api yang nyaris mati itu. Beberapa saat kemudian api itu sudah kembali berkobar.

Min Young menghadap mereka dengan senyuman –pahit-. “Maafkan aku,” suaranya bergetar. Lalu ia kembali memunggungi mereka. Para pelayan yang mendengar nada suara Min Young yang aneh hanya menelengkan kepala heran, tapi tidak bertanya.

..o0o..

Hari demi hari berlalu, dan besok adalah hari pernikahan Pangeran Hyukjae dengan Puteri Hwang. Halaman utama istana Elve sudah dihias dengan berbagai pernik semenarik mungkin agar perayaan bisa berlangsung meriah. Rencananya setelah prosesi pernikahan, akan diadakan perayaan ulang tahun pangeran Hyukjae yang ke-27. Dari hari ke hari, wajah Min Young semakin terlihat menyedihkan.

Hyukjae tidak sepenuhnya bersikap dingin dengan Min Young. Ia hanya bersikap dingin saat berhadapan langsung dengan gadis ini. Tapi, Hyukjae selalu saja meluangkan waktu untuk mengintip kegiatan Min Young di istana, mengawasi gadis ini. Ada rasa rindu yang membuncah di hatinya saat melihat wajah Min Young. Ia rindu saat ia memeluk tubuh hangat Min Young, ia rindu saat ia menggenggam tangan halus Min Young, dan ia rindu pada saat ia mengecup kening indah Min Young. Ia rindu segalanya yang berkaitan dengan Min Young. Tapi saat ia melihat air mata mengalir deras di wajah Min Young, rasanya ia ingin menampar dirinya sendiri. Hatinya rasanya ditikam parang berkarat saat melihat wajah sedih itu. Ia ingin menenangkan, ingin melindungi Min Young ke dalam pelukannya. Tapi ia tidak bisa melakukannya, ia tidak bisa melindungi Min Young dan menghapus air mata gadis itu dengan lembut.

Putri Hwang mengetahui kedekatan Pangeran Hyukjae dengan pelayan bernama Min Young itu.  Putri Hwang mengetahui semuanya. Hubungan mereka, perasaan mereka, semuanya. Bahkan ia tahu saat Hyukjae mulai menyelinap ke ruangan pelayan hanya untuk sekadar melihat wajah Min Young, ia pun mengetahuinya. Jujur saja, perasaan Putri Hwang seperti dipermainkan. Ia memang menyukai Hyukjae, tapi~ ia juga tidak bisa melihat pangeran itu tidak bahagia hanya karena pilihan yang tidak dikehendaki. Ia harus melakukan sesuatu.

..o0o..

Tengah malam, pangeran Hyukjae tidak bisa tidur. Ia sedang menatap bulan di balkon kamarnya. Sesekali ia menghela napas lelah. Bagaimana bisa ia menjalani prosesi pernikahan esok hari jika hatinya lebih mencintai orang lain? Sekalipun ia memaksa hatinya untuk menerimanya, tapi tetap saja tidak bisa. Ia memikirkan Min Young. Gadis yang selama beberapa bulan ini menggelayuti pikirannya. Jika… ia hidup tanpa bisa bersama Min Young, apa yang akan terjadi padanya?

Bulan bersinar terang. Cantik, dan tampak suci. Di luar, kolam kecil memantulkan cahayanya. Saat ini sudah tengah malam, dan ia sekarang sudah berusia duapuluh tujuh tahun. Usia yang cukup matang untuk menjadi Raja. Seandainya… seandainya saja ia bisa meminta satu permohonan…

Hyukjae menangkupkan kedua tangannya, saling menempel. Ia memejamkan kedua matanya, berkonsentrasi dengan apa yang ia harapkan.

Di usiaku yang kini bertambah, aku menginginkan sebuah kebahagiaan yang sejati. Aku ingin menemukan sumber kehidupanku di dunia, poros jiwaku yang kini sedang terbelenggu dalam bimbang. Kuharap dengan ini, aku bisa mengerti apa itu cinta, dan bagaimana cara mensyukurinya. Menjadikan cinta itu sebagai sumber semangatku menempuh hidup. Pancarankebahagiaan yang sejati.

Satu harapan yang sesungguhnya sederhana, tapi memiliki nilai yang sangat berharga bagi Pangeran Hyukjae. Ia sudah memiliki segalanya, tapi tidak dengan cinta. Cintanya yang telah memilih Min Young, tapi harus hancur oleh garis takdir.

Tanpa Pangeran Hyukjae ketahui, di sisi lain istana, tepatnya di bagian asrama pelayan, Min Young tengah menatap bulan juga. Ia sadar tengah malam telah terlewati dan ini sudah hari ulang tahun pangeran Hyukjae yang sangat ia cintai. Ia tidak bisa menghadiahi apa-apa padanya, selain sebuah do’a yang ikhlas. Tulus dari lubuk hatinya.

Di malam yang indah ini, di bawah langit malam dengan gemerlap bintang menghiasi, serta rembulan yang jadi saksi, aku berdoa. Berdoa untuk kebahagiaan Pangeran Hyukjae kelak. Meskipun cintaku ini tak terbalas, tapi aku rela ia menepisnya asalkan ia bahagia. Menemukan cinta sejatinya, kemudian menjadi seorang raja yang bijaksana. Kumohon, Tuhan, dengarkan permohonanku ini. Selamat ulang tahun, Pangeran Hyukjae. Aku mencintaimu.

Bulan mendengarkannya, bintang-bintang memandanginya.

..o0o..

Para petinggi sudah menduduki kursi masing-masing. Bersama istri mereka, barisan kursi memanjang mengelilingi halaman utama istana terlihat penuh. Pakaian yang mereka kenakan adalah pakaian terbaik mereka. Khusus untuk pernikahan sang calon raja.

Pangeran Hyukjae duduk gelisah di singgasananya. Ia sama sekali tidak memerhatikan atraksi-atraksi dan tarian yang disuguhkan di depannya. Ia kelewat gugup dengan ini semua. Bukan gugup lantaran tidak ingin membuat kesalahan… hanya saja, ia sungguh tidak ingin mengikuti acara ini. ini bukan kehendak hatinya! Sungguh, rasanya Hyukjae ingin pergi dari tempat ini sekarang juga!

“Mempelai wanita memasuki istana.” Suara berat dan baritone dari salah satu penyelenggara acara terdengar keras. Selang beberapa detik kemudian, gerbang utama terbuka. Menampakkan seorang wanita dengan hanbok yang luar biasa indah. Wajahnya sungguh cantik dan cerah. Kening indah yang tampak karena tak ada sehelai rambutpun yang menghalangi. Rambut hitam panjang Putri Hwang ditata sedemikian rupa menggunakan alat tertentu hingga kelihatan sangat berat. Para pelayan dan yang lainnya berjalan di belakangnya.

Dengan langkah pelan dan terukur, sesuai irama musik yang mengiringi, Putri Hwang menghampiri Pangeran Hyukjae yang berdiri kaku di depan. Sambil tersenyum palsu, ia menatap wajah Hyukjae. Sedangkan si pangeran malah asyik dengan dunianya sendiri. Berdiri tapi dengan tatapan kosong. Jiwanya seakan tersedot hingga tak bisa menangkap gambaran di depannya.

Min Young berdiri tak jauh dari tempat itu, mengeratkan genggaman pada nampan di tangannya. Setetes air mata telah jatuh, diikuti oleh tetes-tetes yang lainnya. Hatinya hancur, hingga nyaris tak menyisakan apapun lagi untuk dijadikan pijakan. Melihat pangeran yang selama ini ia cintai sebentar lagi akan memiliki pendamping hidup, membuat jantungnya seakan ditusuk oleh parang berkarat. Kakinya seolah dipancang sampai mati. Ia nyaris tak bisa bernapas karena sedari tadi dadanya terasa sangat sesak, seperti ada sebongkah batu besar di dalamnya.

Kini putri Hwang sudah berada di depan pangeran Hyukjae. Mereka saling membungkuk. Wajah putri Hwang tampak sangat bahagia, tapi tidak dengan pangeran Hyukjae. Di hari ulang tahunnya ini, ia justru diberi hadiah terburuk yang pernah ia terima – menikah dengan wanita yang sama sekali tidak ia cintai. Hatinya begitu terpuruk, hancur dan berantakan. Ia begitu ingin menghancurkan acara ini.

“Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.” Suara itu membuat semua orang yang hadir di acara megah ini terkejut bukan main.

Bukan Pangeran Hyukjae yang mengatakannya, melainkan Putri Hwang.

“Kami tidak saling mencintai. Aku tidak mencintai Pangeran Hyukjae, dan Pangeran Hyukjae juga sudah memiliki tambatan hati. Pernikahan ini tidak seharusnya terjadi, jadi batalkan saja.” putri Hwang mengakhiri ucapannya dengan senyum manis yang tulus.

“PUTRI HWANG! APA YANG KAU BICARAKAN?!” teriakan itu berasal dari mulut raja Somnezh. Ia sungguh kaget mendengarkan ucapan tak terduga yang berasal dari mulut putrinya. Putri Hwang menatap ayahnya yang sudah berdiri dari kursi raja, menatapnya sambil tersenyum manis.

“Ayah, aku tidak menginginkan pernikahan yang tidak dilandasi oleh rasa cinta. Jika aku melakukannya, hidupku tidak akan bahagia. Aku sudah mencoba mencintai Pangeran Hyukjae selama beberapa bulan ini, tapi tidak bisa. Aku tidak ingin memaksakan kehendak. Aku tidak menginginkan pernikahan ini,” jawab Putri Hwang dengan tenang, tak ada nada emosi yang terdengar.

“Kau ini!” Raja Somnezh bangkit dari kursi singgasananya dan melangkah menuju putrinya. Wajahnya tampak sarat akan emosi. “Katakan, siapa yang menjadi tambatan hati Pangeran Hyukjae!” seru Raja Somnezh sambil melotot ke arah Putri Hwang.

Putri Hwang tersenyum, lalu memalingkan wajah ke arah kerumunan, “bawa dia ke sini!” serunya, entah ke siapa. Lalu, dari kerumunan muncul beberapa prajurit yang mencengkeram lengan seorang gadis. Gadis itu tampak kesakitan karena kerasnya pegangan prajurit itu.

Bola mata Hyukjae langsung melotot melihat gadis itu. Han Min Young! Lelaki ini menggumamkan kata ‘Min Young’ di bibirnya tanpa suara. Min Young dibawa ke tengah halaman oleh para prajurit, Raj Hyunhwa beranjak bangkit dari singgasana dikuti istrinya.

“Jadi ini yang sudah membuat Hyukjae terus saja murung selama beberapa bulan ini? Hei~ bukankah kau seorang pelayan? Kau pelayan Han, bukan?” tanya Raja Hyunhwa tak sabar.

“A-Aku… hanya pelayan.” Min Young menjawab dengan suara kecil dan putus-putus karena gugup. Putri Hwang yang melihat reaksi Min Young langsung menggeleng kuat. Putri Hwang menyuruh prajurit itu untuk melepaskan cengkeraman tangan mereka dari Min Young karena wajah gadis ini tampak kesakitan.

“Dia adalah gadis yang dicintai pangeran Hyukjae. Mereka saling mencintai, jadi pernikahan ini bukan untukku dan Pangeran Hyukjae, tapi untuk Pangeran Hyukjae dengan gadis ini, Han Min Young.” Putri Hwang mengaitkan tangan Min Young dengan tangan Pangeran Hyukjae.

“Putri Hwang!” Raja Somnezh sudah kehilangan kesabaran. Ia menyentak kedua tangan yang bersatu itu kemudian menarik lengan Putri Hwang dengan kasar. Putri bahkan meringis kesakitan karena kuatnya genggaman itu. Raja Somnezh membawa putrinya keluar dari halaman untuk berbicara – atau memarahi – putrinya yang ia nilai kurang ajar hari ini.

Kini yang tersisa di halaman hanya tinggal Pangeran Hyukjae, Min Young, Raja Hyunhwa, Permaisuri dan para petinggi kerajaan. Raja Hyunhwa menatap tajam Min Young, membuat gadis ini menciut nyalinya. Bagaimanapun juga, yang saat ini ia hadapi adalah orang-orang besar di kerajaan Elve.

“Siapa kau? Apa hubunganmu dengan putraku?” tanya Raja Hyunhwa mengintrogasi.

Min Young kali ini benar-benar gugup. “S-Saya..”

“Jawab yang jelas!” bentak Raja, merasa kalau Min Young lamban merespon.

“Ayah!” teriak Hyukjae kesal karena ayahnya membentak Min Young. Jelas saja, mana ada orang yang diam saja melihat orang yang ia cintai dibentak dengan kasarnya? Raja Hyunhwa berpaling ke Hyukjae. Merasa amarahnya akan meledak-ledak tak terkendali.

“Jelaskan siapa dia!” perintah Raja Hyunhwa.

Hyukjae menatap Min Young sebentar, tersenyum manis. “Dia… adalah gadis yang amat kucintai. Gadis yang telah menolongku yang hampir mati di tepi sungai. Gadis yang bersedia menampungku di rumahnya yang kecil dan sederhana. Gadis yang mengajariku betapa keras dan sulitnya hidup di luar istana. Gadis yang membuatku bersedia membuka hatiku untuknya. Dia gadis yang harus kutinggalkan untuk kembali ke istana. Gadis yang sama yang selalu masuk dalam mimpiku setiap malam. Han Min Young adalah gadis yang sangat berharga di hidupku. Aku tak ingin kehilangannya.”

Bagaikan diberi sentakan keras, Min Young terlonjak kaget. Tak menyangka sedalam itu arti dirinya di hati Hyukjae. Sebuah senyum tipis terkuak di wajahnya. Senang, bahagia jelasnya. Akhirnya cinta ia ia rasakan tidak bertepuk sebelah tangan. Hyukjae juga mencintainya! Tak dapat dilukiskan betapa bahagianya Min Young kini.

“Apa itu?” tanya Raja Hyunhwa saat ia melihat tanda hitam aneh di belakang telinga kiri Min Young yang tak tertutupi juntaian rambutnya, hingga tanda bulan itu terlihat jelas. “Bukankah itu… tanda bulan?” seru Raja dengan sentakan hebat.

Bulan kedua? Pelayan Han adalah bulan kedua? Bagaimana mungkin?” seru Permaisuri dengan ekspresi terkejut yang sangat nyata. Min Young hanya berdiri di tempat dengan ekspresi bingung. Gadis ini sama sekali tidak mengerti tentang apa yang dibicarakan Raja dan Permaisuri. Jelas saja, dia tidak pernah diberitahu sedikitpun mengenai ini sebelumnya.

Kemudian Min Young dibuat kaget setengah mati saat para prajurit itu kembali mencengkeram lengan kurusnya itu. Kali ini lebih erat, membuat Min Young merintih kesakitan. “Lepaskan aku!”

“Ayah, lepaskan Min Young sekarang juga! Tidakkah ayah lihat dia mulai kesakitan?” Hyukjae berusaha menyelamatkan Min Young dari kemungkinan buruk yang akan terjadi. Jujur saja, ia sangat kaget saat ayahnya tahu mengenai tanda lahir itu di diri Min Young. Ia sebenarnya berniat menyembunyikan itu selamanya agar dirinya dengan Min Young bisa bersama. Tapi sekarang…

“Tidak akan, Pangeran Hyukjae. Kau sudah mencintai gadis yang salah. Kalian tidak boleh bersama. Jika itu terjadi, tanah Elve akan berada dalam bahaya! Kau sudah mengetahui itu, bukan, Pangeran Hyukjae?” Raja tetap kukuh dengan pendiriannya.

Muncul seseorang dengan pakaian gelap. Cenayang istana. Dia membawa beberapa peralatan yang aneh dan tak lazim. Kemudian, cenayang wanita itu menghampiri Raja, membungkuk hormat.

“Cenayang Seo, bulan kedua telah ditemukan. Lakukan tugasmu sekarang,” perintah Raja dengan suara yakin. Terlihat cenayang itu mulai mempersiapkan segala hal, seperti ritual. Dia menaburkan bunga-bunga berbau kuat ke tubuh Min Young yang diawasi ketat oleh para prajurit. Mencipratkan air berwarna merah, kemudian membakar suatu benda hingga asapnya membumbung di udara. Raja dan Permaisuri mundur beberapa langkah, para petinggi masih setia menonton.

Cenayang itu mengambil benda mirip cambuk yang tergeletak di lantai.

Pangeran Hyukjae waswas. “Apa yang akan kau…”

CTTAAKKKK!!!!

“AAARRGGHHH!!!” jerit memilukan Min Young menggelegar di sepanjang halaman utama istana. Cenayang itu mencambuk kaki Min Young hingga terlihat bekas luka cambuk yang begitu mencolok.

“HENTIKAN!!! BERANI SEKALI KAU MENYENTUHNYA!!!” Pangeran Hyukjae hendak berlari untuk menyelamatkan Min Young dari si pencambuk tua itu. Hatinya bagaikan ditusuk pedang saat melihat wajah tersiksa Min Young. Tapi belum tiga langkah ia berlari, pengawal yang lain sudah menahan langkahnya. “LEPASKAN AKU!!!”

Cenayang Seo membalik menatap Hyukjae. Ekspresinya datar walaupun ada rasa kesedihan yang terpancar di wajahnya. “Maafkan saya, Yang Mulia. Saya hanya menjalankan tugas yang saya terima.” Ujar Cenayang tua itu singkat lalu kembali melayangkan cambukan di kaki Min Young.

Jeritan kesakitan kembali terdengar, tapi Hyukjae tidak bisa apa-apa. Ia mencoba berontak dari cengkeraman dua prajurit yang menahannya, tapi ia tidak bisa lepas. Yang bisa ia lakukan hanyalah berteriak agar cenayang itu berhenti mencambuki tubuh Min Young. Ia sangat sedih, sangat tersiksa melihat tubuh orang yang begitu ia cintai luka, dan sakit karena hal yang tidak bisa ia hentikan. Ini begitu menyakiti keduanya.

“Arrghhh!! Sa-kiit!!” kini tubuh Min Young terjatuh ke tanah, merosot karena kakinya begitu lemah menahan berat tubuhnya. Para prajurit yang memeganginya tadi mulai menyingkir. Dalam benak mereka, terbesit rasa kasihan dan iba pada Min Young.

Air mata Hyukjae menetes. Ia menunduk, tak sanggup melihat Min Young lagi. Ia menggigit bibir bawahnya menahan isakan. “Hen-tika-n! kumohon hentikan ini!” suaranya kini melemah, isakan mulai terdengar walaupun lirih.

Tubuh Min Young sudah penuh luka cambukan. Bahkan wajahnya terlihat pucat dan penuh luka karena ujung cambuk itu mengenai pipi dan juga bagian wajah lainnya hingga berdarah. Tubuh penuh luka itu sudah tergeletak lemah di tanah, seakan nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Semua orang yang ada di situ bergumam kasihan, serta menaruh iba pada gadis yang tidak tahu apapun mengenai takdirnya. Raja Hyunhwa berjalan mendekati Hyukjae yang kian terpuruk, menaruh lengannya di pundak sang putra.

“Aku sangat tidak menginginkan ini semua terjadi. Tapi percayalah. Dengan melakukan ini semua, masa depan Kerajaan Elve akan membaik. Aku turut bersedih,” bisik Raja di telinga Hyukjae. Hyukjae hanya diam tak bergerak karena cengkeraman pengawal membatasi ruang geraknya. Ibu Hyukjae datang memeluk anaknya, menangis tersedu di pundak sang anak. Ia turut merasakan betapa pedihnya jika harus melihat orang yang dicintai terluka dan tersiksa. Namun, apalagi yang bisa dia lakukan.

CTAAAKKKKK!!!!

“HENTIKAN SEMUA INI!!!” Putri Hwang kembali. Kali ini wajahnya dipenuhi kesedihan. Cenayang tua itu berhenti mencambuki tubuh Min Young, menatap Putri Hwang dengan ekspresi datar. Kemudian, pandangan Putri Hwang bertumbuk pada tubuh tak berdaya Min Young. Ia mendesis sedih sekaligus prihatin melihat kondisinya. “Tidak perlu ada ritual Penghapusan Bulan lagi. Sudah cukup Han Min Young tersiksa seperti itu.” Suara Putri Hwang terdengar sangat meyakinkan. Semua pandangan di halaman utama istana itu tertumbuk pada wajah wanita bertubuh semampai ini.

“Aku, satu-satunya manusia berdarah Nymph yang masih tersisa di bumi ini,” Putri Hwang menghirup napas sebentar sebelum melanjutkan. Meyakinkan diri dengan keputusannya. “Akan mengorbankan darah Nymph-ku ini untuk mereka berdua. Aku akan melakukan ritual Penyatuan Bulan dengan pengorbanan darah Nymph.”

“PUTRI!” Raja Hyunhwa protes. Bagaimanapun, ini pengorbanan yang cukup besar. Di bumi ini sudah tidak ada lagi manusia Nymph, dan putrid Hwang-lah yang terakhir. Jika manusia Putri Hwang mengorbankan darah Nymph yang tersisa di tubuhnya, itu artinya… Manusia Nymph akan benar-benar punah di muka bumi. “Jangan pernah lakukan itu!”

Putri Hwang berpaling ke arah Raja, menampilkan senyum indah khas Putri dari kerajaan Somnezh. “Bukan apa-apa, Yang Mulia. Aku sudah meminta pendapat pada Ayah dan dia mengijinkan. Lagipula aku juga tidak keberatan melakukan ini.”

Putri Hwang menyuruh prajurit untuk membawa Min Young mendekat, lalu ia menghampiri Pangeran Hyukjae yang masih terihat shock dengan apa yang terjadi. putri Hwang mengeluarkan sebilah pedang kecil dengan kerangka yang sangat indah, berhiaskan batu-batu berharga warna biru laut. Kemudian dengan penuh pertimbangan, ia menggoreskan pisau itu ke telapak tangannya. Darah di telapak itu mengalir cukup deras.

Bulan. Dua bulan akan segera bersatu. Hilangkan jarak antara mereka. Hilangkan dinding pembatas di antara mereka. Demi bunga edelweiss dengan segala keabadiannya, satukan mereka.” Putri Hwang membisikkan mantera-mantera khususnya. Selanjutnya, ia menangkupkan kedua tangannya. Terlihat pendaran cahaya dari tangkupan telapak tangan itu.

Putri Hwang begitu fokus hingga kening indahnya berkerut. Mantera rahasia tak pernah berhenti ia ucapkan. Kemudian ia membuka kembali telapaknya yang kini penuh dengan darahnya sendiri, darahnya berpendar redup. Itu adalah darah Nymph. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke belakang telinga Pangeran Hyukjae juga Min Young, tepat pada tanda bulan hitam.

“Arghh…” “Argghhh…” dua jeritan kesakitan itu lolos bersamaan dari bibir Hyukjae dan Min Young. Putri Hwang meringis kesakitan karena darahnya seakan tersedot, dan wajahnya juga memucat. Tak lama kemudian, tubuh keduanya – Hyukjae dan Min Young – ambruk ke tanah, pingsan.  Putri Hwang jatuh berlutut di antara keduanya, ia gunakan punggung tangannya untuk menyeka peluh di dahi.

“Bereskan mereka. Kutukan itu sudah hilang.”

..o0o..

Malam sudah tiba, Pangeran Hyukjae sudah sadar dari pingsannya dan sedang duduk di teras kamar. Dia memandangi bulan yang bersinar dengan cantiknya. Senyum bahagia terpancar jelas di wajah putih milik Pangeran Hyukjae. Ia bahagia, jelas. Akhirnya kutukan itu berakhir dengan bersatunya dua insan yang saling mencintai itu. Orang tuanya sudah menyetujui hubungan mereka, bahkan mendukung kelanjutan kisah Hyukjae dan Min Young. Sungguh, tak ada yang lebih membahagiakan daripada ini.

“Pangeran Hyukjae~” suara lembut itu terdengar oleh telinganya. Han Min Young. Dengan penuh senyum, Hyukjae menyambutnya untuk duduk di samping dirinya.

“Kau seharusnya jangan bangun dari tempat tidur dulu, Min Young-ah. Lihatlah, kondisimu masih belum membaik. Kau masih lemah,” bisik Hyukjae tepat di telinga Min Young. Pemuda ini merangkul tubuh lemah Min Young agar gadis ini tidak kedinginan oleh udara malam. Tangannya yang bebas mengelus surai hitam Min Young.

Terdengar suara tawa kecil. “Aku baik-baik saja. Kau ingat bukan, kalau aku ini gadis yang kuat? Cambuk sekecil itu tidak akan mungkin membunuhku!” seru Min Young terdengar semangat. Mendengar perkataan itu, mau tak mau Hyukjae mengingat kejadian tadi pagi. Kejadian paling ia benci selama hidupnya – menyaksikan Min Young tersiksa dengan tubuh penuh luka cambuk. Kini, ia memandangi tangan halus Min Young yang masih tercetak jelas bekas cambukan itu. Ia menurunkan kepalanya, menunduk, lalu  dikecupnya luka cambukan itu dengan sangat hati-hati. Min Young hanya membulatkan matanya kaget melihat tingkah Hyukjae.

“Sakit, ya?” tanya Hyukjae,tangannya  mengelus luka itu. Min Young menggeleng kepalanya kuat-kuat. Ia tidak akan mengaku sakit di depan Hyukjae. Tidak untuk selamanya.

“Asalkan bersamamu, aku yakin tidak akan pernah merasakan sakit lagi. Karena kau tahu? Kau sudah seperti obat bagiku,” ucap Min Young diikuti semburat merah muda di pipi bulatnya. Hyukjae terkejut, lalu tersenyum cerah. Ia mencium pipi Min Young, gemas karena warna merah muda di pipi itu. “Selamat ulang tahun, Hyukjae-ya~” ucap Min Young tiba-tiba.

“Eh?” Hyukjae terkejut, lalu mengerjap.

“Kau pikir aku tidak tahu hari ini? Aku begitu mengingatnya, Pangeran. Sekarang, apa yang kauinginkan?” tanya Min Young seolah-olah bisa mengabulkan segala permintaan Hyukjae. Lelaki ini tertawa renyah mendengar nada bicara Min Young, lalu tangan Hyukjae bergerak mengelus pipi bulat Min Young, memberikan getaran yang tak pernah Min Young ketahui sebelumnya.

“Aku… hanya menginginkan dirimu untuk menjadi bagian dari hidupmu. Aku ingin melihatmu saat pertama aku membuka mata di pagi hari. Aku ingin mendengarkan suaramu setiap saat. Aku ingin melihat wajahmu setiap waktu. Aku ingin… kau jadi ratuku kelak.” Lelaki itu bersimpuh di depan Min Young, menggenggam tangan gadis itu dengan lembut. “Han Min Young. Maukah kau menikah denganku?”

Tak disangka Pangeran Hyukjae melamarnya saat ini. Jantung Min Young berdetak cepat, bertalu memukul rusuk. “Ya, aku mau menikah denganmu, Pangeran Hyukjae, aku mencintaimu.” Min Young menjawab dengan nada suara yang sangat yakin. Senyum cantik itu mengembang, membingkai wajahnya dengan begitu indah.

“Aku lebih mencintaimu, Han Min Young.” Jawab Hyukjae. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Min Young, mempersempit jarak keduanya. Kemudian, bibir mereka saling bertaut, menyalurkan sebuah ciuman lembut yang penuh dengan cinta. Dua manusia itu akhirnya bersatu, menciptakan kisah cinta sejati yang penuh pengorbanan. Hingga akhirnya mereka bisa bersatu, dengan takdir yang begitu indah.

Di sudut lain, bulan ikut tersenyum menatap pasangan bahagia itu.

…END…

WAJIB BACA:

Oke, kalian udah baca kan? Gimana? Bagus nggak? Jelek yaa ? -_-

 

Gamsahamnida yang udah mau baca ^^

3 Komentar (+add yours?)

  1. venussiatria
    Apr 05, 2013 @ 20:27:32

    Reblogged this on venussiatria and commented: 🙂 (y)

    Balas

  2. auauau
    Apr 23, 2013 @ 21:39:09

    Ceritanya bagus, konfliknya dapet… ^^b

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: