Fanfiction : Cooking? Cooking!


Ini FF iseng. Ide muncul begitu liat foto Kim Jaejoong yang luar biasa ngganteng itu. Perlu diketahui bahwa saat ini aku sedang suka banget sama Kim Jaejoong, dan dengan iseng membuat FF aneh ini.

NB: Jika ada yang tidak suka, mending tidak usah baca.^^

 

Title : Cooking? Cooking!

Author : JaeVhian

Casts : Kim Jaejoong, Park Yoomi

Genre : Romance

Rated : General

Song : Other happy songs…^^

Warning : Typo(S), OOC, etc.

Pagi yang cerah bagi Jaejoong. Matahari bersinar lembut dengan angin yang tidak terlalu kencang menerpa korden apartemennya. Di balkon, tampak sepasang burung merpati yang hinggap sambil bercengkerama. Suasana begitu damai. Terlalu damai untuk dirusak oleh kebisingan apapun.

Si pemilik apartemen masih meringkuk di bawah selimut, dengan sprei yang sudah awut-awutan. Ini sudah jam delapan pagi tapi Jaejoong masih belum mau melepaskan diri dari alam mimpinya. Lebih baik seperti ini daripada terjaga tapi tidak melakukan apapun. Pada hari Minggu, matahari akan terbit jam sepuluh pagi, menurut Jaejoong.

Televisi di kamarnya masih dibiarkan menyala sejak semalaman. Memang, tadi malam ia sempat menonton pertandingan sepak bola Inggris yang ditayangkan salah satu stasiun TV swasta di Korea. Tapi karena malas, lelaki ini tidak mematikan TV itu, sehingga bisa ditebak, benda kotak lebar itu panasnya sudah mendekati suhu inti bumi.

Di tengah suasana damai itu, ponselnya berbunyi. Ada telepon masuk. Lagu Mirotic terdengar cukup keras hingga membuat Jaejoong terusik tidurnya. Tanpa membuka mata, lelaki ini mengambil ponsel di samping tempat tidur. Lalu tanpa perlu melihat siapa yang menelepon, Jaejoong menekan tombol hijau dengan sentuhan jari lalu menempelkan salah satu ujung telepon di telinganya. Jaejoong masih berada di dalam selimut.

Yoboseyo?” suara serak khas bangun tidur Jaejoong terdengar.

Hey, Jaejoong-ah! Kau belum bangun, huh? Ini sudah jam berapa?”

Ternyata itu adalah telepon dari Park Yoomi, kekasih Jaejoong. Yoomi terdengar kesal karena kekasih tercintanya ini masih tidur jam delapan ini. Sungguh khas Yoomi.

Hmm…” hanya itu yang keluar dari bibir Jaejoong yang mengatup.

Aish, kau ini benar-benar menyebalkan! Kau lupa nanti siang kau jalan denganku? Kau ingat apa tidak?”

Ya…”

Aku akan ke apartemenmu setelah ini. kuharapkau sudah bangun saat aku datang!” ucap Yoomi penuh ancaman.

Jaejoong hanya bergumam sebagai jawaban. Lelaki ini masih mengantuk! Jelas saja ia tidak begitu memedulikan ucapan Yoomi di telepon.

Aku akan datang setengah jam lagi. Sampai jumpa!”

Sambungan telepon langsung terputus. Begitu tak terdengar lagi suara cerewet dari Yoomi, Jaejoong langsung melempar ponsel hitam kesayangannya itu ke sembarang tempat. Untung saja ponsel itu jatuh tepat di sofa kamarnya yang empuk. Kalau tidak, mungkin Jaejoong harus mencari ponsel baru.

Tanpa memedulikan apapun, lelaki bermarga Kim ini langsung mengeratkan selimutnya untuk kembali melanjutkan mimpinya yang tadi tertunda karena telepon dari sang kekasih.

xXx

Yoomi melangkah dengan buru-buru di lorong apartemen di kawasan pusat Seoul. Gadis berambut panjang ini harus cepat datang sebelum Jaejoong bangun dan kelaparan. Benar, Yoomi akan memasak untuk Jaejoong pagi ini. Di tangannya sendiri sudah penuh bahan makanan. Daging, telur, sayuran dan bahan-bahan lain tampak memenuhi tas itu.

Begitu Yoomi sampai di pintu apartemen nomor 261, Yoomi langsung memencet sederetan angka di bagian samping pintu. Deretan angka itu adalah sandi apartemen Jaejoong yang sudah Yoomi hafal di luar kepalanya. Setelah pintu bisa dibuka, Yoomi masuk ke apartemen itu, menuju dapur.

Jaejoong-ah, kau di mana?” teriak Yoomi sambil meletakkan bahan-bahan masakan itu ke meja pantry.

Tidak ada sahutan, Yoomi bermaksud menuju ke ruang tengah. Mungkin saja Jaejoong sedang menonton TV. Tapi begitu sampai di ruang TV, ia tidak menemukan sosok pacarnya itu di sana. Kakinya berjalan ke kamar tidur Jaejoong dan terkejut melihat sebuah gundukan di tempat tidur. Gundukan itu tertutup selimut putih bersih.

Walaupun tertutup selimut, Yoomi yakin sekali kalau itu adalah Jaejoong. Yoomi menatap sosok itu dengan tatapan sengit. Kemarahannya sudah sampai ubun-ubun dan siap meledak. Dihampirinya tempat tidur Jaejoong, lalu disibaknya selimut yang menutupi tubuh Jaejoong.

Lelaki ini tampak terganggu karena selimutnya hilang entah ke mana. Ia memeluk gulingnya lebih erat sambil menutupi wajahnya di balik guling itu. Jelas sekali mengabaikan Yoomi.

Ya! Jaejoong-ah! Bangun!” teriak Yoomi kesal sambil mengguncang-guncang tubuh Jaejoong. Tapi Jaejoong masih saja bergeming.

Hm…” hanya gumaman saja yang keluar, dan itu semakin membuat Yoomi kesal.

Gadis ini menarik-narik kaki Jaejoong hingga Jaejoong mengerang kesakitan.

Hentikan!” ucap Jaejoong dengan mata yang masih terpejam.

Ish, kau harus bangun sekarang! Atau, kencan nanti siang batal!” ancam Yoomi dengan serius.

Mendengar ancaman itu, Jaejoong langsung membuka matanya. Kemudian dengan wajah ditekuk, Jaejoong menegakkan tubuhnya menjadi duduk di tempat tidur. Dipandangnya Yoomi dengan tatapan menusuk. Jelas saja Jaejoong merasa sebal pada Yoomi karena gadis ini telah mengusik tidur nyenyaknya.

Apa maumu, hmm?” tuntut Jaejoong sambil mengucek-ngucek matanya dengan sebelah tangan.

Tatapan Yoomi semakin sengit. “Seharusnya aku yang bertanya, apa maumu? Bukankah tadi sudah kubilang segeralah bangun sebelum aku datang? Lalu ini apa, huh! Dasar pemalas!” Yoomi melempar sebuah bantal ke wajah Jaejoong.

Aish!” Jaejoong mendengus kesal sambil merapikan rambut kusutnya karena habis dilempar bantal oleh Yoomi.

Kau mandi saja dulu. Aku akan membereskan kamarmu. Lihatlah! Kenapa berantakan sekali, huh? Perasaan aku sudah membereskannya tiga hari yang lalu. Bukankah kau bilang kalau kau suka kebersihan?” sindir Yoomi pedas.

Jaejoong hanya mencibir sambil bangkit dari tempat tidur. Ia melangkah pelan menuju kamar mandi samping kamarnya sambil mengelus-elus tengkuknya, entah untuk apa. Yoomi memandang sosok Jaejoong yang hilang di balik pintu kamar mandi, lalu buru-buru membereskan tempat tidur milik Jaejoong yang sangat berantakan itu.

Siapa yang tidak beruntung memiliki kekasih seperti Yoomi? Cantik, tinggi, cerdas, dan suka membersihkan sesuatu. Benar-benar calon istri idaman semua orang, termasuk Jaejoong. Tapi di balik semua kelebihan itu, Yoomi benar-benar gadis dengan mood yang berubah-ubah. Ia bisa meledak marah dengan mudah meskipun hanya karena masalah sepele. Contohnya seperti tadi itu.

Sedikit demi sedikit, Yoomi mulai membuat kamar Jaejoong rapi kembali. Ia membenarkan sprei, menyusun bantal-bantal, melipat selimut, membereskan pakaian Jaejoong yang bertebaran di sofa kamar dan membersihkan karpet dengan vacuum cleaner.

Tapi, saat ia membersihkan kolong tempat tidur Jaejoong, ia menemukan sesuatu yang sangat mengganggunya. Majalah dewasa. Sontak saja Yoomi langsung melemparkannya ke sofa karena kaget. Ia berdecak tak percaya, Jaejoong mempunyai majalah dewasa di kamarnya? Seorang Jaejoong? What the Hell?!

Belum sempat Yoomi meredakan rasa terkejutnya, Jaejoong sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Lelaki ini sudah rapi dan fresh dengan celana jeans hitam dan kaus warna merah marun. Bau parfum Jaejoong yang maskulin langsung menyerbu indra penciuman Yoomi.

Wow, rapi sekali! Kau memang berbakat untuk menjadi pembantu, Yoomi-ya!” canda Jaejoong sambil tersenyum jahil ke Yoomi. Sedangkan gadis ini malah memberengut kesal.

Saat Jaejoong sedang mematut dirinya di cermin, membelakangi Yoomi, gadis ini melempar punggung Jaejoong dengan majalah dewasa yang tadi ia temukan.

Hey!” seru Jaejoong kaget. Lelaki itu menunduk menatap majalah yang tadi dilempar oleh Yoomi. Matanya membelalak kaget.

Itu milikmu?” tanya Yoomi ketus.

Jaejoong masih kaget. “I…Itu….” Jaejoong masih belum mampu berbicara.

Yoomi merasa jengah. “Aku tanya, apa itu milikmu?” tanyanya sekali lagi.

B-Bukan! Itu bukan milikku! Buat apa aku punya barang seperti itu?!” kilah Jaejoong.

Lalu kenapa bisa ada di kamarmu?”

I-Itu… karena… kemarin Junsu dan Changmin datang ke mari, mereka membawa majalah itu!”

Jadi itu milik mereka?” tanya Yoomi, masih curiga. Matanya memincing menatap tajam Jaejoong yang masih berdiri membeku.

Iya! Itu milik mereka!”

Yoomi terdiam, menatap Jaejoong dengan sanksi. “Wajah Changmin Oppa itu sangat polos… bagaimana mungkin dia punya majalah seperti itu?”

Jaejoong mendengus. “Kau jangan tertipu dengan wajahnya. Penampilan seseorang itu bisa saja menipu,” ujar Jaejoong sok bijak.

Yoomi mencibir. “Seperti dirimu?”

Jaejoong langsung mengerjap kaget. “A-Apa? Apa maksudmu?”

Yoomi tersenyum meremehkan. “Bukankah kau juga telah menipu semua orang dengan penampilan sok cool-mu itu?”

Hey! Aku ini memang keren! Tampan! Penampilanku ini sama sekali tidak menipu!” Jaejoong langsung memamerkan pose tubuh sok keren. Yoomi buru-buru menampilkan wajah seperti mau muntah.

Cih, dasar! Narsis sekali kau.”

Jaejoong tersenyum menggoda. “Akui saja kalau aku tampan! Aku tahu kalau kau menyukaiku karena aku ini tampan, kan?”

Yoomi langsung memberengut kesal. “Kau itu terlalu percaya diri! Sudahlah, ayo kita masak bersama! Aku sudah membawakan bahan-bahan makanan di supermarket tadi,” ajak Yoomi sambil menarik tangan Jaejoong keluar dari kamar lelaki itu.

xXx

Kau akan memasak apa?” tanya Jaejoong begitu mereka berdua memasuki kawasan dapur. Yoomi hanya tersenyum misterius, enggan menjawab sekarang.

Dapur di apartemen Jaejoong ini lumayan lengkap untuk ukuran apartemen laki-laki. Biasanya memang seorang lelaki akan malas sekali memasak sendiri di apartemennya dan lebih memilih untuk makan di luar, entah itu café atau restoran.

Jaejoong meletakkan tas belanjaan Yoomi di meja dapur, kemudian Yoomi mengeluarkan isi belanjaannya itu dibantu oleh Jaejoong.

Kau duduk saja, biar aku yang memasak.” Yoomi melarang Jaejoong dan menyuruh lelaki itu untuk duduk di kursi pantry.

Kau yakin tidak mau kubantu?” ujar Jaejoong sedikit curiga. Mata tajamnya menyipit.

Tidak, aku bisa melakukannya sendiri.”

Memangnya kau bisa memasak?” nada bicara Jaejoong terkesan sangat menyindir, dan meremehkan, “seingatku kau tidak pernah memasak selama kita pacaran!”

BRAKKK! Yoomi meletakkan pisau daging dengan keras.

YA! Kau meremehkanku, huh? Siapa bilang aku tidak bisa memasak?! Aku bisa! Lihat saja!” ujar Yoomi tidak mau kalah.

Jaejoong menampilkan senyum liciknya. Ia menatap Yoomi dengan sengit dan merendahkan. “Baiklah. Kita lihat, apa lagi yang bisa kaulakukan selain marah-marah tidak jelas sepanjang hari!”

Perkataan Jaejoong barusan benar-benar memancing kemarahan Yoomi.

YAA!!!~ KAU!!!”

xXx

Apa yang harus kulakukan lebih dulu, ya? Ah! Benar! Menanak nasi!”

Tanpa berpikir, Yoomi langsung menakar beras, kemudian mencucinya di kran dapur. Dengan – berusaha – cekatan, Yoomi berhasil menanak nasi dengan lumayan baik. Selanjutya, Yoomi dibuat bingung dengan bahan-bahan yang ada di hadapannya.

Apa yang harus kumasak?” bisiknya kebingungan. Gadis ini hanya membalik-balikkan kembasan daging dengan wajah bingung.

Jaejoong mendengus remeh saat melihat gelagat aneh Yoomi. Jelas saja, Jaejoong sudah tahu kalau Yoomi ini sama sekali tidak bisa memasak. Tapi tidak apalah, ia membiarkan. Tidak peduli kalau dapurnya bisa hancur karena tangan penghancur milik Yoomi.

Kenapa? Kau bingung mau masak apa? Hm?” tantang Jaejoong.

Yoomi melirik sadis. “Sudah kubilang kau diam saja di sana! Aku akan memasakkan daging untukmu!” sahut Yoomi sengit.

Jaejoong hanya tersenyum geli. Lelaki ini mulai membenarkan posisi duduknya di kursi pantry. Diamatinya tingkah laku Yoomi di dapur yang menurutnya terlalu kaku. Benar, Yoomi tidak pernah leluasa berada di dapur manapun. Hanya saja gadis ini yang ngotot ingin bereksperimen di apartemen Jaejoong.

Dengan hati-hati, Yoomi membuka penutup bungkus daging, dan mulai memotong daging dengan gerakan kaku. Diirisnya daging itu hingga berbentuk kotak-kotak ukuran dua centi-an. Kemudian Yoomi menyisakan separuh daging dan memasukkannya ke kulkas Jaejoong di pojok dapur.

Hati-hati menggunakan pisau itu! Bisa-bisa jarimu terpotong!” ucap Jaejoong, nadanya cemas. Baiklah, mungkin beginilah sikap seorang pacar yang seharusnya.

Aku tahu!” sahut Yoomi tanpa menoleh sedikitpun ke Jaejoong. Gadis ini masih berkutat dengan pisau daging di tangannya.

Selanjutnya, Yoomi menghaluskan bumbu-bumbu. Ia menghaluskan bawang merah, bawang putih, merica, dan bumbu-bumbu lainnya di dalam blender. Bunyi memekakkan khas blender mulai memenuhi seluruh penjuru dapur. Jaejoong masih di sana, duduk sambil menatap Yoomi dengan seksama.

Eh? Tidak pakai garam? Mana enak?!” seru Jaejoong. Yoomi langsung menyipitkan matanya sebal.

Sudah kubilang, Kim Jaejoong. Kau diam saja. Yang memasak itu aku, bukan kau! Tenang saja, kupastikan masakan bikinanku akan terasa enak!” protes Yoomi sambil melanjutkan acara memasaknya.

Jaejoong memberengut kesal. “Hey… terserah kau saja…”

Yoomi mulai menumis bumbu, dengan api yang besar! Bisa dibayangkan bumbunya menjadi apa. Tanpa memastikan apapun, Yoomi memasukkan potongan daging ke dalam tumisan itu. Dengan gaya sok pintar, Yoomi mengaduk-aduk masakan, membolak-balikkan daging walaupun masih belum matang.

Oh, kurang minyak!” seru Yoomi.

Dengan segera, gadis ini melangkah menuju rak di atas meja dapur, lalu mengambil beberapa botol minyak di dalamnya.

Tanpa melihat merknya, Yoomi menuangkan minyak itu tanpa diukur.

YA! Apa yang kaumasukkan, huh?! Itu minyak wijen!” seru Jaejoong panik.

Yoomi hanya cengo. “Benarkah? Tapi sudah terlanjur kumasukkan! Tidak apalah! Pasti enak!” gumam Yoomi sambil tersenyum bangga. Gadis ini juga menuangkan minyak-minyak yang lain, sehingga bisa ditebak seberapa paniknya Jaejoong saat ini.

Argh! Aku bisa gila!” ujar Jaejoong sambil memijit pelipisnya. Jaejoong dibuat sakit kepala karena sikap sok tahu Yoomi tentang memasak. Padahal, kemampuan memasak Yoomi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Jaejoong.

Yoomi menemukan sebuah botol dengan tulisan aneh pada bagian luarnya.

Apa ini? Ba…sil? Hm, sepertinya enak. Kumasukkan, ah!” ujar Yoomi sambil memasukkan basil itu dengan tanpa ditakar lebih dulu.

Jaejoong memincingkan mata melihat gerakan mencurigakan Yoomi. “Apa yang tadi kaumasukkan?”

Yoomi menoleh. “BaSil, kurasa.”

Jaejoong membelalakkan matanya. “APA?! KENAPA KAU MASUKKAN BENDA ITU?!!!!” teriak Jaejoong dengan keras.

Ya! Bisa kaukecilkan volume suaramu itu?” decak Yoomi kesal, menutup telinganya dengan kedua tangan. “Tidak apa-apa, aku yakin masakanku jadi makin enak.”

Ucapan Yoomi benar-benar tidak bisa dipercaya. Jaejoong sudah benar-benar takut akan dibawa ke rumah sakit karena memakan masakan Yoomi setelah ini, bisa jadi apa dirinya nanti? Jaejoong menatap Yoomi tajam, sama sekali tidak percaya.

Bau apa ini?” gumam Jaejoong sambil mengendus-endus bau di udara. “YA! Yoomi! Kenapa kau belum mengangkat daging itu! Ini sudah melebihi waktu untuk memasak daging!” teriak Jaejoong sambil menatap ngeri wajan masak Yoomi.

AH! Aku lupa!” seru Yoomi sambil berlari ke depan kompor.

Baru beberapa langkah…

YAAAA!!!” Yoomi berteriak ketakutan saat melihat api yang berada di dalam wajan, berkobar seperti permainan di sirkus.

Aish! Kau pasti memakai api yang besar, banyak minyak pula! Cepat matikan kompornya!” komando Jaejoong yang masih duduk di kursi pantry.

Yoomi memberengut ketakutan. Ia berusaha mendekat ke kompor, tapi berulang kali mundur karena kobaran api yang malah membesar.

CEPAT MATIKAN KOMPORNYA!” teriak Jaejoong benar-benar panik.

AKU TAKUT!” Yoomi balas berteriak.

CEPAT ATAU DAPUR INI AKAN KEBAKARAN!” Panik Jaejoong.

AKU TIDAK TAHU CARANYA…!” Yoomi memberengut, antara manja dan takut.

Aish…

Dengan terpaksa Jaejoong menyeret kakinya untuk berlari ke depan kompor dan mematikan kobaran api yang sempat membumbung. Setelah tak ada lag kobaran api yang tersisa, Jaejoong menatap Yoomi dengan tatapan jengah.

Buru:buru Yoomi menangkup kedua telapak tangannya, dengan wajah memelas… “Maaf…” ucapnya dengan senyum berdosa.

Jaejoong mencibir, lalu memutar bola matanya dengan malas.

Benar apa yang diperkirakan oleh Jaejoong. Dapurnya hancur karena ulah makhluk aneh ini, Park Yoomi.

xXx

Sudah kubilang, jangan dimakan! Kenapa kau masih ngotot saja?” larang Yoomi saat mereka berdua berada di depan meja makan.

Ceritanya berubah menjadi seperti ini; Jaejoong memaksa untuk memakan masakan buatan Yoomi yang bisa dikategorikan sebagai masakan gagal itu. Tentu saja Yoomi melarang karena tahu rasa masakan itu pasti sangat buruk. Tapi, Jaejoong tetap saja memaksa sehingga Yoomi tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Jaejoong mulai mengambil sepotong daging dengan garpu. Dengan sangat berhati-hati, memasukkan potongan daging itu ke mulutnya. Mengunyah beberapa kali, wajahnya terlihat sangat buruk.

Tidak buruk…” dusta Jaejoong.

Mata Yoomi memincing tajam. “Benarkah?” tanyanya curiga.

Jaejoong hanya mengangguk meskipun anggukan kepelanya itu sangat tidak meyakinkan.

Tidak percaya dengan apa yang diucapkan Jaejoong, Yoomi bermaksud mencoba sendiri masakan gagal yang tadi ia buat. Ia mengambil sepotong, lalu menyurukkan ke mulutnya. Dikunyah pelan … lalu….

HOOEEKK!!” seru Yoomi sambil memuntahkan potongan daging yang tadi iamakan ke piring di depannya.

Yoomi menatap Jaejoong dengan marah. “YA! Seperti ini kau bilang enak? Apa lidahmu itu bermasalah?!”seru Yoomi kesal.

Jaejoong hanya cengengesan tidak jelas. Senyumnya yang menawan terlihat lagi.

Mendadak Yoomi merasa malu. Sangat, sangat malu karena sikap sok tahunya. Ia lebih malu lagi karena ia melakukan itu di depan Kim Jaejoong, pacarnya sekaligus lelaki yang sangat pintar dalam memasak. Aish, kenapa baru sekarang Yoomi sadar, betapa memalukannya sikap Yoomi tadi? Dengan wajah memeraha karena malu, Yoomi menundukkan kepala.

Kenapa kau menunduk? Kau sakit?” tanya Jaejoong heran, diliputi perasaan cemas.

Yoomi hanya menggeleng pelan. “Tidak… hanya saja… aku merasa sangat malu padamu…” ujar Yoomi dengan suara kecil, tapi masih bisa didengar oleh Jaejoong.

Jaejoong memiringkan kepalanya bingung. “Malu? Malu kenapa?”

Yoomi berdecek sebal. Apa harus ia mengatakan semuanya?

Karena aku sudah bertingkah sok tadi, padahal… aku sama sekali tidak bisa memasak… lihat sekarang, masakanku sama sekali tidak layak dimakan. Sangat memalukan…” kepala Yoomi semakin tertunduk.

Jaejoong tertawa geli.

Jangan tertawa!” sahut Yoomi sebal. Tawa Jaejoong ia anggap penghinaan yang lebih terhadap kelakuannya hari ini.

Hha..hha..hha.. Ah Tidak!” Jaejoong berusaha keras menahan ketawanya. Wajah Yoomi semakin tertekuk.

Maaf… tapi, aku sama sekali tidak kecewa kalau kau tidak bisa memasak. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda… maka dari itu, setiap pribadi itu unik,” ujar Jaejoong bijak.

Tapi bagaimana dengan sarapanmu? Kau belum makan sejak pagi.” Yoomi masih merasa bersalah.

Oh, itu…” Jaejoong mengamati jam tangannya. “Sudah mendekati jam makan siang. Bagaimana kalau kita pergi sekarang saja, kita makan di restoran favoriteku di dekat sungai Han,” usul Jaejoong.

Yoomi mengangguk semangat. “Baiklah! Aku setuju!”

Jaejoong tersenyum. Kekasihnya ini tampak sangat cantik kalau sedang tersenyum, apalagi tertawa. Suara Yoomi yang cerewet namun menyenangkan itu menjadi hal tersendiri yang membuat Jaejoong semakin mencintai kekasihnya ini.

Sebenarnya aku tidak akan masalah seandainya kau memasak untukku lagi lan kali,” kata Jaejoong sambil mengacak-acak rambut Yoomi dengan lembut.

Mata Yoomi terlihat berbinar cerah. “Benarkah?”

Jaejoong tertawa sebentar. “Tentu. Asalkan, kau tidak menaruh racun lagi di masakanmu!”

Yoomi langsung men-deathglare Jaejoong. “APA KATAMU???!!!!”

xXx END xXx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: